ARTICLE AD BOX
Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman merespons keluhan pedagang di Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC), nan menyebut beras dari wilayah susah terjual. Menurutnya, kondisi tersebut justru merupakan akibat dari melimpahnya pasokan beras di dalam negeri.
Saat dimintai tanggapan mengenai keluhan pedagang nan menyebut penurunan daya beli membikin beras dari wilayah susah laku, Amran membantah dugaan tersebut.
"Ini terbalik. Beras susah masuk, kira-kira lantaran apa?" kata Amran kepada wartawan di kantornya, Jakarta, Senin (29/6/2026).
Ia menjelaskan, saat ini stok beras dalam kondisi berlimpah lantaran produksi meningkat seiring naiknya penyaluran pupuk.
"Overstock (over supply). Itu lantaran overstock dan kami baca produksi, tahu nggak pupuk itu jumlahnya naik 30 persen," ujarnya.
Amran mengatakan, kenaikan pengedaran pupuk secara otomatis mendorong peningkatan produksi beras. Akibatnya, pasokan melimpah dan stok dari wilayah menjadi lebih susah masuk ke pasar.
"Pupuk naik 30 persen, pengedaran berfaedah naik nggak produksi? Naik kan. Kira-kira jika naik produksi gimana? Kalau melimpah gimana? Kelebihan pasokan. Kalau kelebihan stok dari desa gimana? Sulit masuk ke pasar. Sudah," sebut dia.
Sebelumnya, pedagang beras di Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC) mengeluhkan lesunya perdagangan dalam beberapa bulan terakhir. Berdasarkan pantauan CNBC Indonesia di PIBC, aktivitas pasar tampak lebih lengang dari biasanya. Truk pengangkut beras berkurang, sejumlah kuli panggul terlihat menganggur, sementara penyimpanan pedagang tetap dipenuhi stok beras.
Ketua Koperasi Pedagang Pasar Induk Beras Cipinang (KOPIC) Dedy menilai salah satu penyebab sepinya pasar adalah melemahnya permintaan di tingkat hilir, mulai dari pasar tradisional hingga rumah makan.
"Kemungkinan di pasar tradisional pun mengalami daya beli nan juga berkurang, otomatis permintaannya ke pasar induk juga berkurang. Kan seperti itu," kata Dedy kepada CNBC Indonesia.
Menurutnya, berkurangnya permintaan di tingkat konsumen memicu pengaruh domino hingga ke wilayah penghasil beras.
"Jadi kita pun permintaan ke daerahnya juga berkurang. Jadi di wilayah rugi gitu ya, domino efeknya ya. Saya rasa begitu," ujarnya.
Dedy mengatakan, sebagian beras nan dikirim dari wilayah apalagi kudu menginap di PIBC lantaran belum mendapat pembeli.
"Bahkan sudah beberapa hari ada juga beras dari wilayah suplai ke sini tuh untuk lakunya saja agak sulit. Mereka kudu berjuang kembali di besok harinya, jadi terpaksa kudu menginap tuh peralatan dari daerah," tuturnya.
Meski demikian, dia memastikan stok beras di PIBC tetap aman. Bahkan, melimpahnya pasokan membikin nilai beras condong melemah.
Suasana Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC), Jakarta, Rabu (24/6/2026). (CNBC Indonesia/Martyasari Rizky) Foto: Suasana Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC), Jakarta, Rabu (24/6/2026). (CNBC Indonesia/Martyasari Rizky)
(dce)
Addsource on Google

1 jam yang lalu
2








English (US) ·
Indonesian (ID) ·