Fenomena Baru di Negara Maju, Ramai-Ramai Warga Menuju Bankrut

1 jam yang lalu 2
ARTICLE AD BOX

Jakarta, CNBC Indonesia - Fenomena baru terjadi di negara maju, Selandia Baru. Meski dikenal mempunyai tingkat kesejahteraan tinggi, penduduk di negara tetangga RI itu diperkirakan bakal menghadapi peningkatan jumlah kebangkrutan pribadi beberapa tahun ke depan.

Kondisi itu muncul di tengah tren penurunan nomor kebangkrutan selama beberapa tahun terakhir. Data terbaru menunjukkan jumlah kebangkrutan pribadi di Selandia Baru turun drastis dari lebih dari 3.000 kasus pada tahun fiskal 2017/2018 menjadi kurang dari 1.500 kasus pada 2024/2025.

Tapi, di saat nan sama, permohonan pencairan biaya pensiun KiwiSaver lantaran argumen kesulitan finansial justru mencetak rekor tertinggi. Tekanan ekonomi saat ini telah membikin masyarakat melakukan penarikan besar-besaran penduduk pada biaya pensiun KiwiSaver, program tabungan pensiun sukarela nan didukung pemerintah.

"Berdasarkan pengamatan para mentor keuangan, banyak orang lebih memilih penarikan KiwiSaver daripada prosedur tanpa aset alias corak kepailitan lainnya," kata Juru bicara jaringan mentor finansial Fincap, Jake Lilley, seperti dikutip Radio New Zealand (RNZ), Jumat (10/7/2026).

Menurut Lilley, tetap banyak masyarakat nan menganggap kebangkrutan sebagai stigma sehingga enggan menempuh proses tersebut, meski dalam beberapa kasus justru bisa menjadi solusi nan lebih baik dalam jangka panjang. Ia menambahkan, survei terbaru menunjukkan sekitar 40% waktu kerja para mentor finansial sekarang dihabiskan untuk membantu masyarakat mengusulkan pencairan biaya KiwiSaver akibat tekanan ekonomi.

Sementara itu, Kepala Ekonom Simplicity, Shamubeel Eaqub, menilai penggunaan biaya pensiun untuk menghindari kondisi finansial nan lebih jelek bukanlah perihal nan negatif. Apalagi, duit nan digunakan milik penduduk sendiri.

"Itu adalah duit mereka sendiri. Sebagian besar permohonan nan kami lihat berangkaian dengan kehilangan pekerjaan maupun masalah kesehatan nan serius," katanya.

Meski nomor kebangkrutan turun, tekanan terhadap kondisi finansial rumah tangga tetap cukup tinggi. Pakar penyelesaian utang DebtFix, Christine Liggins, mengungkapkan sekitar 450.000 penduduk Selandia Baru tetap menunggak pembayaran utang setiap bulan.

Ia memperkirakan jumlah kebangkrutan pribadi berpotensi meningkat dalam beberapa tahun mendatang. Salah satu pemicunya adalah langkah otoritas pajak nan semakin garang menindak perusahaan nan mempunyai tunggakan pajak, sehingga dapat berakibat pada pemilik upaya mini nan akhirnya kudu menyatakan ambruk secara pribadi.

Liggins apalagi menilai sistem kepailitan nan bertindak saat ini sudah tidak lagi sesuai dengan kebutuhan masyarakat modern. Menurutnya, pemerintah sebaiknya mengembangkan sistem penyelesaian utang nan lebih elastis tanpa memberikan label "bangkrut" kepada seseorang selama bertahun-tahun.

(tfa/sef)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya