Foxconn beli pabrik mobil listrik seharga Rp3,2 triliun

  • Whatsapp

Dengan kesepakatan ini, Foxconn sekarang telah memasuki kancah pabrik otomotif dan kini memiliki kehadiran yang signifikan di Amerika Serikat.

Perusahaan yang dikenal dengan manufaktur Apple iPhone, Foxconn, dikabarkan membeli pabrik otomotif dari pabrikan mobil listrik Lordstown Motors yang berbasis di Ohio dengan harga USD230 juta (Rp3,2 triliun).

Sesuai kesepakatan, Foxconn akan memproduksi truk pickup listrik Lordstown Motors di pabrik tersebut. Selanjutnya, Lordstown Motors akan tetap menjadi penyewa di sana dan juga telah setuju untuk “memberikan Foxconn hak tertentu sehubungan dengan program kendaraan masa depan”.

Selain itu, Foxconn juga membeli saham Lordstown Motors senilai USD50 juta (Rp714 miliar). Dilansir dari Gizmochina (2/10), startup ini telah berjuang dan berbicara tentang perlunya mengumpulkan uang dengan cepat untuk bertahan hidup.

Dengan kesepakatan ini, Foxconn sekarang telah memasuki kancah pabrik otomotif dan kini memiliki kehadiran yang signifikan di Amerika Serikat. Tampaknya perusahaan yang berbasis di Taiwan ini sekarang akan mencoba memantapkan dirinya sebagai produsen kendaraan listrik global.

Baik Foxconn dan Lordstown Motors berharap untuk menyelesaikan perjanjian pembelian pada 31 Oktober dan menyelesaikan kesepakatan pada 30 April. Foxconn telah mengatakan bahwa sebagai bagian dari kesepakatan, Fisker Inc akan diizinkan membuat kendaraan di pabrik Ohio Foxconn.

Lordstown Motors telah membeli fasilitas seluas 6,2 juta kaki persegi dari General Motors pada tahun 2019. Baru-baru ini mereka berencana untuk menyewakan pabriknya dalam upaya menghasilkan pendapatan di tengah krisis uang yang serius.

Pabrikan kendaraan listrik tersebut menghadapi banyak masalah. CEO-nya dipaksa keluar setelah dia ketahuan melebih-lebihkan pre-order untuk truk listriknya. Perusahaan kini telah menurunkan tujuan produksi awal. Departemen Kehakiman dan Komisi Sekuritas dan Bursa telah meluncurkan penyelidikan ke Lordstown Motors, dan perusahaan tersebut sedang mengalami krisis keuangan, dengan hanya memiliki cukup uang untuk bertahan hidup hingga pertengahan 2022.

Pos terkait