Gak Main-Main, Tambang Tembaga RI Ini Jadi Barometer Dunia!

1 jam yang lalu 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Indonesia rupanya mempunyai sebuah tambang nan menjadi barometer pertambangan dunia. Tambang nan dimaksud ialah tambang Grasberg di Tembagapura, Kabupaten Mimika, Papua Tengah, nan dikelola PT Freeport Indonesia.

Presiden Direktur PTFI Tony Wenas menyebut, penilaian ini bukan tanpa alasan. Pasalnya, saat tambang terbuka (open pit) beroperasi, tambang Grasberg ini merupakan tambang open pit tembaga terbesar nomor 2 di dunia. Tak ayal, PTFI merupakan produsen tembaga nomor 2 terbesar di bumi dan produsen terbesar nomor 1 di dunia.

Meski, sejak akhir 2019 tambang terbuka (open pit) Grasberg sudah dihentikan dan sekarang sudah beranjak pada tambang bawah tanah.

"Grasberg alias Freeport Indonesia ini oleh bumi internasional tuh dilihat sebagai salah satu barometer pertambangan tembaga. Pertama pada saat open pit mine itu adalah tambang tembaga nomor dua terbesar di dunia, tambang terbuka nomor dua terbesar di dunia. Kita sebagai produsen tembaga juga nomor dua terbesar di bumi sebagai produsen emas nomor satu terbesar di dunia," papar Tony di Tembagapura, Papua Tengah, dalam program Mining Zone CNBC Indonesia, dikutip Jumat (21/8/2026).

Dengan besarnya produksi dari tambang Grasberg ini, tak ayal Freeport turut menjadi perhatian dunia. Dia mengatakan, setiap gangguan operasional di Grasberg berakibat langsung pada naik-turunnya nilai komoditas di pasar internasional.

Contohnya, seperti terjadinya kejadian longsor pada tambang bawah tanah Grasberg Block Cave (GBC) pada September 2025 lalu, nan berakibat pada dihentikannya sementara operasional tambang. Imbasnya, nilai komoditas tembaga di pasar dunia terkerek naik lantaran kekurangan pasokan dari tambang Freeport ini.

Oleh lantaran itu, dia pun menekankan pentingnya kepastian perpanjangan Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK) PTFI setelah 2041. Pasalnya, ini bakal berakibat pada kepastian pasokan tembaga bumi di masa depan.

"Jadi ini menimbulkan angan di bumi internasional, bukan saja bagi penanammodal nan tertarik untuk invest baik secara langsung di PTFI maupun melalui Freeport-McMoRan dalam membeli saham stock-nya dan lain sebagainya. Dan tentu saja ini ada juga pihak-pihak nan berkepentingan untuk memastikan ada nggak tembaga kelak 15 tahun dari sekarang," tuturnya.

"Karena begitu kita berakhir produksi ini pasti bakal menggoyangkan pasar juga, pasar bumi ya, pada saat kita terjadi kejadian di bulan September dan kita putuskan bahwa kita berhentikan seluruh operasi kita konsentrasi mencari korban nan tetap belum ditemukan itu terjadi gejolak sedikit," imbuhnya.

Saat ini, perusahaan tengah konsentrasi pada pemulihan kapabilitas produksi ke level 100% serta pengembangan tambang bawah tanah ialah Blok Kucing Liar nan memerlukan investasi total Rp 72 triliun.

Blok baru tersebut diproyeksikan bisa menghasilkan 7 miliar pon tembaga dan 6 juta ons emas guna menjaga level produksi stabil di nomor 240.000 ton bijih per hari.

"Harapannya tentu saja adanya kepastian lantaran konservasi pertambangan itu jika misalnya tetap ada sumber daya di bawahnya nan nggak bisa sebaiknya itu diteruskan," jelasnya.

PTFI juga mengoperasikan akomodasi pemurnian tembaga single line terbesar di bumi di Gresik, Jawa Timur. Melalui integrasi hulu dan hilir tersebut, Indonesia diharapkan dapat mengamankan persediaan mineral strategis untuk mendukung industri kendaraan listrik dan daya terbarukan global.

"Tembaga ini adalah logam masa depan ini sekarang nyaris seluruh bumi tuh berlomba-lomba mencari tembaga lantaran mereka juga berlomba-lomba untuk membangun renewable power plant," tandasnya.

(wia) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya