Jakarta, CNBC Indonesia - Sedikitnya 47 orang tewas dan lebih dari 50 lainnya diculik oleh golongan bersenjata di Haiti. Serangan sadis ini terjadi di Kenscoff, sebuah organisasi nan dulunya tenteram di perbukitan dekat Port-au-Prince.
Mengutip The Guardian, Kamis (27/8/2026), serangan nan terjadi akhir pekan itu menghancurkan angan bahwa keamanan di negara tersebut mulai membaik. Tragedi ini menjadi ujian politik dan keamanan terbesar bagi pemerintah, kepolisian, dan misi internasional di sana.
Pemimpin geng nan mendalangi serangan itu apalagi menakut-nakuti bakal membunuh semua sandera jika pihak berkuasa berani melawan. Ia menantang abdi negara nan berupaya mengamankan wilayah Kenscoff dari cengkeraman mereka.
Menurut instansi terpadu PBB di Haiti (BINUH), sedikitnya lima dari 47 korban tewas tersebut adalah anak-anak. Insiden mematikan pada hari Minggu ini merupakan serangan terbesar sejak invasi pertama ke Kenscoff pada Januari 2025 lalu.
Wali Kota Kenscoff, Jean Massillon, menyebut dua pegawai pemerintah turut tewas dalam pembantaian tersebut. Salah satu korban tewas adalah sepupunya nan bekerja sebagai pengawal pribadinya.
Anggota koalisi geng kuat Viv Ansanm, nan dicap AS sebagai organisasi teroris, juga membakar 25 rumah warga. Massillon menyebut para personil geng saat ini tetap terus berkeliaran di pinggiran Kenscoff.
"Kekejaman kejahatan ini mengingatkan kita bahwa kita kudu terus bekerja lebih kuat setiap hari untuk membawa kedamaian bagi masyarakat," tuturnya.
"Tapi saya optimistis bahwa negara bakal terus berupaya keras memberantasnya," tambahnya.
Dalam sebuah video di media sosial, sang pemimpin geng memperingatkan Direktur Kepolisian Nasional Haiti, Vladimir Paraison. Ia melarang abdi negara menggunakan teknologi drone untuk mengusir geng dari wilayah tersebut.
"Paraison, jika ada tentara kami nan terluka, saya bakal membunuh mereka semua," tegas laki-laki nan mengidentifikasi dirinya sebagai Izo 2 itu.
Kepala Observatorium Haiti, Romain Le Cour, membeberkan status Izo 2 nan merupakan bawahan bos geng terkuat berjulukan Johnson André alias Izo. Ia menurutnya, menjalankan "semacam sel waralaba untuk geng-geng lainnya".
Tujuan Memecah Belah
Le Cour menduga kuat bahwa serangan geng ini bermaksud untuk memecah belah sumber daya abdi negara keamanan nan sangat terbatas. Memaksa pengerahan pasukan ke satu titik bakal mengorbankan pengamanan di wilayah lainnya.
Manuver ini juga menjadi arena pamer kekuatan jelang pemilihan umum 13 Desember mendatang nan merupakan pemilu perdana dalam sedekade terakhir. Pesan utamanya adalah klaim perlindungan dari pemerintah sama sekali tidak sesuai dengan realita di lapangan.
"Geng-geng itu berkata, ketika kami memilih untuk menyerang, kami bisa, dan kami bakal berhasil," paparnya.
Di sisi lain, sejumlah penyintas menuduh pemerintah tidak memberikan perlindungan nan memadai sebelum serangan mematikan itu terjadi. Namun, pihak kepolisian dengan sigap langsung menolak keras tuduhan tersebut.
Le Cour menilai situasi ini sangat mengkhawatirkan jika polisi dan kendaraan lapis baja memang sudah disiagakan di letak sedari awal. "Anda membiarkan geng-geng itu masuk apalagi jika Anda sudah menyiapkan segalanya?" ucapnya.
Sebagai informasi, golongan bersenjata sekarang telah menguasai sekitar 70% wilayah Port-au-Prince dan sebagian besar area tengah Haiti. Tingginya eskalasi kekerasan geng ini sukses mengusir 1,5 juta orang dari rumah mereka.
Menurut info statistik PBB nan dirilis pada hari Selasa, krisis ini telah menyebabkan lebih dari 3.050 orang tewas. Selain itu, ada sekitar 1.400 orang lainnya nan dilaporkan terluka di sepanjang bulan Januari hingga Juni tahun ini.
(tps/sef)
[Gambas:Video CNBC]

2 jam yang lalu
2








English (US) ·
Indonesian (ID) ·