Foto ini diambil pada 16 Agustus 2026 di Beograd, Serbia, menunjukkan batang pohon terlihat di dasar Sungai Danube ketika permukaan air sungai mendekati rekor rendah oleh kekeringan nan parah.(Xinhua/Wang Wei)
GELOMBANG panas ekstrem nan melanda Benua Eropa sepanjang musim panas 2026 memberikan sinyal ancaman mengenai akibat nyata perubahan iklim. Berdasarkan info nan dihimpun sejak pertengahan Juni hingga pertengahan Agustus, suhu di wilayah nan dihuni sekitar 80 juta orang tercatat menembus nomor kritis 40 derajat Celsius.
Layanan Perubahan Iklim Copernicus Uni Eropa melaporkan bahwa Eropa Barat mengalami awal musim panas terpanas sepanjang sejarah pada 2026. Periode Juni hingga Juli apalagi secara resmi memecahkan rekor suhu tertinggi nan pernah tercatat. Secara keseluruhan, suhu di atas 35 derajat Celsius menyelimuti wilayah nan dihuni oleh 490 juta orang, alias setara dengan 80% total populasi Eropa.
Prancis dan Spanyol Paling Terdampak
Analisis info resmi menunjukkan Prancis menjadi negara dengan paparan panas paling parah. Sekitar 30 juta penduduk Prancis terpapar suhu di atas 40 derajat Celsius setidaknya satu kali. Selain itu, lebih dari 20 juta masyarakat Prancis kudu menghadapi suhu di atas 35 derajat Celsius selama sedikitnya 21 hari—durasi nan lima kali lebih lama dibandingkan musim panas 2022.
Di Spanyol, sebanyak 23 juta orang terdampak suhu ekstrem, sementara Jerman dan Italia masing-masing mencatat sekitar 8 juta masyarakat nan terpapar panas di atas 40 derajat Celsius. Fenomena ini juga menjangkau negara-negara nan biasanya mempunyai suasana lebih sejuk seperti Inggris, Belgia, Belanda, dan Polandia.
| Prancis | 30 Juta | 7.300 |
| Spanyol | 23 Juta | 4.500 |
| Jerman | 8 Juta | 14.000 |
| Italia | 8 Juta | (Data diproses) |
Dampak Infrastruktur dan Lingkungan
Kondisi ekstrem ini memicu krisis pada prasarana publik. Banyak gedung di Eropa, termasuk rumah sakit, sekolah, dan akomodasi perawatan lansia, belum dilengkapi sistem pendingin (AC) nan memadai lantaran suhu setinggi ini tergolong tidak lazim bagi wilayah tersebut. Akibatnya, nomor kematian meningkat tajam dengan Jerman melaporkan 14.000 kematian mengenai panas, disusul Prancis dengan 7.300 jiwa, dan Spanyol 4.500 jiwa.
Di area pegunungan, akibat panas memicu rekor longsoran batu di Pegunungan Alpen. Ludovic Ravanel, intelektual dari CNRS Prancis, menjelaskan bahwa suhu tinggi menyebabkan es di dalam retakan batu mencair. Es nan semestinya menjadi perekat alami kehilangan kekuatannya, sehingga material batu mudah terlepas dan jatuh.
Selain ancaman kesehatan dan keselamatan, gelombang panas 2026 juga memicu kekeringan parah, kebakaran rimba nan luas, serta penurunan signifikan pada hasil sektor pertanian di seluruh area Uni Eropa. (AFP/I-1)









English (US) ·
Indonesian (ID) ·