Foto udara ini menunjukkan dasar Danau Brenets (Lac des Brenets) nan kering, bagian dari Sungai Doubs, perbatasan alami antara Prancis timur dan Swiss barat, saat Eropa tengah dilanda gelombang panas ketiga sejak Juni, di Les Brenets pada 28 Juli 2026.(AFP)
Gelombang panas kembali menyapu Eropa pada Kamis (13/7) waktu setempat. Prancis, Italia, Spanyol, dan Inggris menjadi wilayah nan paling terdampak.
Lebih dari 135 juta orang diperkirakan menghadapi suhu di atas 35 derajat Celsius. Suhu di sejumlah wilayah Prancis apalagi menembus 42 derajat Celsius.
Prancis menjadi salah satu negara dengan suhu tertinggi dalam gelombang panas terbaru. Badan meteorologi Meteo-France mencatat suhu 42,5 derajat Celsius di Chateaumeillant, Prancis tengah.
Paris juga mencatat suhu sekitar 38 derajat Celsius. Sebagian besar wilayah Prancis berada dalam status peringatan gelombang panas. Di Italia, suhu tinggi diperkirakan berakibat terhadap sekitar 29 juta orang. Wilayah nan terdampak mencakup pesisir barat, Lembah Po, bagian selatan, serta sejumlah pulau.
Spanyol juga menghadapi kondisi serupa. Sekitar 25 juta orang diperkirakan terdampak suhu tinggi. Badan meteorologi Aemet mencatat suhu mencapai 37 derajat Celsius di sejumlah wilayah tengah negara tersebut.
Sementara itu, Inggris mencatat suhu tinggi di 40 letak di bagian tengah dan selatan negara tersebut. Kondisi itu memperkuat proyeksi Inggris dapat mengalami musim panas terpanas nan pernah tercatat.
Di Kew Gardens, London, suhu mencapai 38,1 derajat Celsius. Angka tersebut menjadi suhu tertinggi kelima nan pernah tercatat di negara itu. Badan Meteorologi Inggris, Met Office, juga menyebut negara tersebut berpotensi mencatat musim panas terpanas sepanjang sejarah.
Kondisi panas ekstrem turut membebani jasa kesehatan. Bailey Williamson, seorang apoteker berumur 20 tahun nan bekerja untuk National Health Service (NHS), mengatakan pasien rumah sakit sangat terdampak oleh suhu tinggi.
“Panas di sini betul-betul tidak tertahankan. Pasien nan terbaring di tempat tidur sangat, sangat sakit dan apalagi tidak bisa bernapas lantaran masalah panas. Kondisinya betul-betul buruk,” kata Williamson.
Menurut Williamson, rumah sakit mulai mencatat peningkatan kasus sengatan panas. NHS juga menghadapi tekanan untuk menangani akibat gelombang panas tersebut.
“Ini menakutkan. Menurut saya, ini betul-betul menunjukkan sungguh buruknya perubahan suasana saat ini,” ujarnya.
Kekhawatiran serupa disampaikan Tim Wallace, visitor berumur 60 tahun asal Australia. Ia mengaku belum pernah merasakan kondisi panas seperti nan terjadi di Inggris.
“Saya belum pernah memandang kondisi seperti ini. Jelas ini mengkhawatirkan. Kita mungkin bakal semakin sering mengalami musim panas seperti ini, rumput bakal lebih sering terbakar, lampau tumbuh kembali. Namun, semuanya merupakan bagian dari planet nan semakin panas,” kata Wallace. (AFP/Z)









English (US) ·
Indonesian (ID) ·