Ilustrasi Bandara El Tari Kupang(MI/Palce Amalo )
DIREKTORAT Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan menyampaikan simpati dan keprihatinan nan mendalam atas terjadinya gempa bumi pada sejumlah wilayah di Kepulauan Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur.
Sebagai langkah mitigasi guna memastikan keselamatan penerbangan, Ditjen Perhubungan Udara berbareng penyelenggara bandar udara dan pelayanan navigasi penerbangan terus melakukan pemeriksaan serta pemantauan kondisi fasilitas, personel, dan operasional penerbangan di wilayah terdampak.
Berdasarkan info Indonesia Tsunami Early Warning System (InaTEWS) BMKG, gempa utama tercatat dengan magnitudo 7,0 pada pukul 05.58 Wita sekitar 38 km timur laut Mbay, Nagekeo, dengan kedalaman 10 km. Selain itu, tercatat gempa magnitudo 6,2 pada pukul 06.13 Wita dengan pusat gempa di laut sekitar 46 km timur laut Labuan Bajo, pada kedalaman 10 km.
“Saat ini, terdapat 5 bandar udara nan dilaporkan terdampak, ialah Bandar Udara Komodo – Labuan Bajo, Bandar Udara H. Hasan Aroeboesman – Ende, Bandar Udara Umbu Mehang Kunda – Waingapu, Bandar Udara Frans Sales Lega – Ruteng, dan Bandar Udara Soa – Bajawa,” kata Direktur Jenderal Perhubungan Udara, Lukman F. Laisa, dikutip Sabtu (15/8).
Kerusakan nan dilaporkan antara lain berupa kerusakan dan retakan pada gedung terminal, gedung administrasi, gedung PKP-PK, serta akomodasi pendukung lainnya. Di Bandar Udara Soa – Bajawa, berasas laporan awal, terdapat kerusakan sedang pada runway dan sejumlah gedung serta akomodasi pendukung, termasuk adanya retakan baru di beberapa titik.
Sementara itu, pada aspek pelayanan navigasi penerbangan, terdapat unit pelayanan nan terdampak, ialah Cabang Pembantu Labuan Bajo, Cabang Pembantu Ende, Unit Maumere, Unit Bajawa, dan Unit Ruteng.
“Seluruh personel penyelenggara pelayanan navigasi penerbangan di letak nan terdampak dilaporkan dalam kondisi selamat,” terangnya.
Pada sejumlah lokasi, khususnya nan mengalami kerusakan pada gedung tower, pelayanan navigasi untuk sementara dilaksanakan dari letak nan dinilai aman. Contingency plan juga disiapkan untuk memastikan keselamatan dan keberlangsungan pelayanan navigasi penerbangan.
Ditjen Perhubungan Udara menempatkan aspek keselamatan penerbangan sebagai prioritas utama. Pemeriksaan kondisi akomodasi dan prasarana bandar udara serta akomodasi navigasi penerbangan terus dilakukan. Untuk kesiapan pengiriman support ke masyarakat dilakukan dengan skema Get Airport Ready for Disaster (GARD).
"Terkait perkembangan operasional penerbangan, masyarakat pengguna jasa transportasi udara di wilayah terdampak diimbau untuk tetap tenang dan mengikuti info resmi dari pengelola bandar udara serta maskapai penerbangan,” imbuhnya.
Ditjen Perhubungan Udara bakal terus memonitor perkembangan situasi dan melakukan koordinasi dengan seluruh pihak terkait. Informasi mengenai kondisi bandar udara, pelayanan navigasi penerbangan, serta perkembangan operasional penerbangan bakal disampaikan lebih lanjut setelah hasil pemeriksaan dan asesmen terbaru diterima. (E-4)









English (US) ·
Indonesian (ID) ·