Guru Besar ITB Peringatkan Potensi Bahaya Gempa Flores M7,7, Mirip Gempa 1992

58 menit yang lalu 2
Guru Besar ITB Peringatkan Potensi Bahaya Gempa Flores M7,7, Mirip Gempa 1992 Warga melintas di depan gedung Hotel Jayakarta nan rusak akibat gempa di Labuan Bajo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT).(ANTARA FOTO/Gecio Viana)

GURU Besar Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB) ITB Prof. Irwan Meilano memperingatkan potensi ancaman gempa Flores bermagnitudo 7,7 nan mengguncang Nagekeo NTT pada Sabtu ini, mengulang musibah gempa-tsunami Flores tahun 1992.

Iwan di Bandung, Sabtu, menjelaskan perihal ini lantaran adanya kemiripan letak dan mekanisme, di mana gempa dangkal berkedalaman 15 kilometer di laut sekitar 30 kilometer timur laut Nagekeo Sabtu ini nan memicu peringatan awal tsunami oleh BMKG hingga pukul 07.30 WIB, letak episentrumnya berjarak kurang dari 40 kilometer dari pusat gempa Flores 1992 bermagnitudo 7,9.

Irwan menjelaskan bahwa area sumber gempa tersebut berada pada struktur Flores Back-Arc Thrust (sasar naik busur belakang Flores) nan menyimpan riwayat kegempaan merusak skala besar, seperti gempa M6,6 tahun 2009 serta rangkaian gempa utara Lombok pada 2018.

"Apabila kita memandang dari sistem gempa serta letak gempa, maka gempa ini sangat berdekatan dan mempunyai kemiripan dengan kejadian gempa di Flores pada tahun 1992. Waktu itu magnitudonya mencapai 7,9 dan diikuti dengan tsunami nan sangat tinggi. Kenapa? Karena diikuti dengan longsor di bawah laut sehingga tsunaminya tinggi. Mudah-mudahan dalam gempa ini tidak diikuti dengan longsoran bawah laut itu," ujar Irwan.

Pusat Studi Gempa Nasional (Pusgen) mencatat segmen Flores Back Arc tetap menyimpan akumulasi daya nan belum terlepas seluruhnya. Irwan mengingatkan pola gempa Lombok 2018 dapat terulang, di mana gempa utama berpotensi memicu rambatan retakan pada segmen di sebelahnya.

Ia mengimbau publik tidak mengendurkan kewaspadaan mengingat puluhan gempa susulan dengan magnitudo signifikan di atas 6,0 tetap terus terjadi dan berpotensi memicu kerusakan gedung pendukung secara akumulatif.

"Belajar dari gempa 2018 maka kewaspadaan itu tidak boleh berkurang. Sangat mungkin bahwa gempa ini kemudian memicu bagian segmen nan berdekatan. Gempa susulan di atas enam tetap bisa memberikan akibat merusak nan cukup signifikan," ujar mahir gempa dan kadaster tersebut.

Kerusakan masif akibat gempa M7,7 dipicu oleh empat kombinasi fatal: magnitudo besar, kedalaman relatif dangkal (10-15 km), posisi episentrum dekat permukiman, serta potensi amplifikasi guncangan akibat kondisi tanah setempat dan kualitas bangunan.

Irwan mendorong tim tanggap darurat dan pemerintah wilayah memprioritaskan asesmen keandalan gedung sekolah, akomodasi kesehatan, serta gedung pemerintahan guna menopang penanganan korban dan percepatan pemulihan.

"Kemungkinan besar gempa ini bisa mengakibatkan akibat kerusakan nan cukup signifikan pada prasarana strategis. Kami memberikan perhatian sangat serius terutama pada gedung sekolah dan akomodasi kesehatan. Ini kita sangat berambisi bisa recover dalam waktu nan singkat," kata Irwan menambahkan. (Ant/Z-4)

Selengkapnya