Khawaja Asif.(Al Jazeera)
MENTERI Pertahanan Pakistan, Khawaja Asif, mengeluarkan pernyataan keras dengan menyebut Israel sebagai ancaman bagi seluruh bumi Muslim. Pernyataan ini disampaikan pada Sabtu (8/8/2026), hanya sehari setelah Pakistan, Arab Saudi, dan Turki menandatangani perjanjian pertahanan berbareng nan strategis.
Dalam wawancara dengan media lokal, Asif menyerukan pembentukan front militer bersatu untuk menghadapi Israel. Ia menegaskan bahwa negara-negara Muslim kudu berasosiasi tanpa keraguan dalam konteks menghadapi kebijakan Israel di kawasan.
Kritik Terhadap Legitimasi Israel
Asif melabeli Israel sebagai negara nan tidak sah, merujuk pada Deklarasi Balfour 1917 nan menjadi landasan pendirian negara tersebut pada 1940-an. Ia beranggapan bahwa keberadaan Israel merupakan ancaman langsung bagi negara-negara di area Timur Tengah dan sekitarnya.
"Sikap mereka terhadap Palestina dan pola pikir anti-Islam tidak bakal hilang. Mereka terus menghasut negara-negara Muslim untuk saling melawan," ujar Asif. Ia juga menekankan bahwa oposisinya terhadap Israel tidak bakal berubah, terlepas dari pihak nan memenangkan pemilu Israel pada 27 Oktober mendatang.
Pakta Pertahanan Trilateral: NATO Versi Baru?
Seruan Asif ini muncul menyusul penandatanganan pakta pertahanan antara Pakistan, Arab Saudi, dan Turki. Menteri Luar Negeri Turki, Hakan Fidan, menjelaskan bahwa secara teknis pakta ini mempunyai kemiripan dengan Pasal 5 NATO mengenai pertahanan kolektif.
Berdasarkan kesepakatan tersebut, serangan terhadap salah satu dari ketiga negara tersebut bakal dianggap sebagai serangan terhadap ketiganya. Fidan menambahkan bahwa aliansi ini bakal membentuk komite menteri dan sekretariat jenderal nan berbasis di Arab Saudi. Mesir juga dikabarkan berpotensi berasosiasi setelah masalah teknis diselesaikan.
Poin Utama Pakta Pertahanan:
- Mekanisme pertahanan kolektif serupa Pasal 5 NATO.
- Pembentukan komite menteri dan sekretariat di Arab Saudi.
- Fokus pada keamanan Laut Merah dan perlindungan kapal komersial.
- Terbuka untuk ekspansi ke negara regional lain.
Ketegangan Sejarah dan Nuklir
Pakistan, sebagai negara berkekuatan nuklir, hingga saat ini tidak mempunyai hubungan diplomatik dengan Israel. Islamabad secara konsisten menolak mengakui kedaulatan Israel hingga negara Palestina merdeka berdiri sesuai garis perbatasan 1967 dengan Jerusalem Timur sebagai ibu kotanya.
Di sisi lain, hubungan kedua negara kerap diwarnai ketegangan intelijen. Pada 2018, laporan mengenai arsip nuklir Iran nan disita Mossad sempat menyebut ada dugaan support asing dari Pakistan dalam program senjata nuklir Teheran, meskipun Pakistan berkedudukan sebagai mediator dalam pembicaraan antara Washington dan Teheran untuk mengakhiri bentrok mengenai Iran.
Hingga buletin ini diturunkan, belum ada reaksi resmi dari pihak Israel terkait ancaman dan seruan militer nan dilontarkan oleh Menteri Pertahanan Pakistan tersebut. (The Times of Israel/I-2)









English (US) ·
Indonesian (ID) ·