Ilmuwan Ungkap Jaringan Jamur Bawah Tanah Sepanjang 11.000 Tahun Cahaya

4 jam yang lalu 2
Ilmuwan Ungkap Jaringan Jamur Bawah Tanah Sepanjang 11.000 Tahun Cahaya Ilmuwan mengungkap jaringan jamur mikroskopis bawah tanah sepanjang 11.000 tahun cahaya.(Dok. Magnificifi)

PARA intelektual mengungkap keberadaan jaringan kehidupan bawah tanah nan luar biasa luas, mencapai panjang sekitar 110 kuadriliun kilometer alias setara 11.000 tahun cahaya. Jaringan mikroskopis ini dikenal sebagai "internet" bawah tanah nan menghubungkan beragam ekosistem di seluruh planet.

Berdasarkan laporan BBC Science Focus pada 22 Agustus 2026, jaringan tersebut dibentuk oleh jamur arbuscular mycorrhizal (AM). Organisme ini hidup di dalam tanah dan menjalin hubungan simbiosis dengan akar sebagian besar tanaman melalui benang mikroskopis nan disebut hyphae.

Skala Galaksi di Bawah Tanah

Hal nan paling mengejutkan dari temuan ini adalah skalanya nan masif. Jika seluruh benang jamur AM di bumi disambungkan, panjangnya mencapai nyaris sepersepuluh diameter Galaksi Bima Sakti. Jaringan ini tersebar luas di bawah padang rumput, hutan, hingga lahan pertanian global.

Penelitian dari Society for the Protection of Underground Networks (SPUN) menunjukkan bahwa jaringan ini bukan sekadar struktur fisik, melainkan penyimpan karbon nan signifikan. Diperkirakan, jaringan jamur tersebut menyimpan sekitar 300 megaton karbon, alias setara dengan empat hingga enam kali total massa seluruh manusia di Bumi saat ini.

Fungsi Vital bagi Ekosistem

Jaringan hyphae berfaedah sebagai perpanjangan sistem akar tanaman. Jamur ini membantu tanaman menyerap air dan nutrisi dari area tanah nan susah dijangkau. Sebagai imbalannya, tanaman memberikan karbon hasil fotosintesis kepada jamur, menciptakan hubungan timbal kembali nan telah berjalan selama ratusan juta tahun.

Ancaman Aktivitas Manusia

Meskipun mempunyai peran krusial, keberadaan jaringan bawah tanah ini terancam oleh aktivitas pertanian intensif. Pengolahan tanah nan berlebihan dapat memutus benang-benang jamur, sementara penggunaan pupuk kimia berisiko mengurangi ketergantungan alami tanaman terhadap jamur tersebut.

Studi mencatat bahwa lahan pertanian hanya mempunyai sekitar separuh dari jumlah jaringan jamur nan ditemukan di lahan liar. Kerusakan pada sistem ini dikhawatirkan dapat mengganggu keahlian tanah dalam menyimpan karbon dan merusak keseimbangan mikroorganisme nan menjaga kesehatan ekosistem darat. (BBC Science Focus/Z-10)

Selengkapnya