Imajinasi dalam air Satoshi Kondo untuk Issey Miyaki

  • Whatsapp

Jakarta (ANTARA) – Perancang busana Satoshi Kondo untuk rumah mode Issey Miyaki semakin memantapkan diri untuk berkarya menggunakan teknik kerajinan tradisional untuk koleksi musim semi/panas 2022 untuk rumah mode tersebut.

Kondo menciptakan koleksi yang tampaknya mendapatkan inspirasi dari alam bawah laut. Imajinasi Kondo akan alam bawah laut itu dia tuangkan dalam 40 tampilan bertema “A Voyage in Descent”.

Kondo menciptakan busana dari aneka struktur kain dan siluet yang berlobang, longgar namun tampak mengalir sehingga sebagian koleksi bahkan dapat digunakan oleh para pecinta busana muslim atau modest fashion. Koleksi kali ini juga sesuai dengan tema “spring/summer” karena memang tampak sesuai untuk dikenakan saat cuaca panas. Kain-kain yang tampak “ringan” dan “adem” untuk dikenakan.

Baca juga: Chanel berencana gelar pagelaran busana fisik
 

Kolase tangkapan layar para model mengenakan karya Satoshi Kondo untuk rumah mode Issey Miyaki bertajuk “A Voyage in Descent”, untuk koleksi Musim Semi/Panas 2022 dalam gelaran Paris Fashion Week Spring Summer 2022 di Paris, Prancis. (ANTARA/Issey Miyaki)

Koleksi Issey Miyaki kali ini dipamerkan dalam bentuk video berdurasi tujuh menit, yang diputar pada Jumat (1/10) waktu Paris, Prancis, sebagai bagian dari rangkaian pagelaran busana dalam Paris Fashion Week Spring/Summer 2022. Video untuk rumah mode Issey Miyaki ini dibuat oleh sutradara Yuichi Kodama, namun tidak tercantum lokasi di mana video ini dibuat.

Dalam video tersebut, para model berpose dan tampak memasuki alam bawah laut. Tampak pantulan sinar Matahari pada air yang bergelombang, melengkapi koleksi busana bernuansa bawah laut yang diperagakan oleh para model.

Baca juga: Jepang buat kimono untuk fesyen muslim

Para model berjalan menyusuri ruang -yang seolah-olah di bawah permukaan air- dalam balutan busana yang bergoyang lembut bak rumput laut atau gaun yang menyerupai terumbu karang yang dibentuk dari lingkaran besar kain berlipit, mirip kain khas Thailand. Namun yang membedakan, gaun-gaun ini dapat dilipat kembali menjadi satu tumpukan, dengan lubang di bagian tengah.

Kondo tampaknya juga mendapat inspirasi dari seni melipat kertas khas Jepang, origami, untuk koleksi gaunnya ini. Terlihat dari lipatan-lipatan kain dan struktur gaun yang bertumpuk kaku menyerupai lipatan origami.
 

Kolase tangkapan layar para model mengenakan karya Satoshi Kondo untuk rumah mode Issey Miyaki bertajuk “A Voyage in Descent”, untuk koleksi Musim Semi/Panas 2022 dalam gelaran Paris Fashion Week Spring Summer 2022 di Paris, Prancis. (ANTARA/Issey Miyaki)

Laman WWD menyebutkan bahwa Kondo dan timnya memiliki ambisi yang besar untuk koleksi kali ini. Merek dikatakan sangat sibuk selama beberapa bulan terakhir sebelum pagelaran dimulai dan memanfaatkan teknik tradisional Jepang untuk pewarnaan dan membuat struktur kain.

Mereka menggunakan teknik pewarnaan tangan hikizome, yang dilakukan oleh pengrajin di Kyoto. Teknik ini dilakukan dengan menggambar pola pada kain lembab, memadukan warna cokelat dan hijau kabur yang dituangkan ke dalam rok panjang berkibar dan tank top, gaun satu bahu, dan celana lebar yang melambai-lambai bila penggunanya berjalan.

Baca juga: Pekan Mode Paris kembali dihelat secara langsung setelah jeda pandemi

Teknik pencetakan lain yang dikenal sebagai naki, yang memungkinkan serangkaian warna yang lebih berani meresap dan berpadu antara warna yang satu dengan yang lain. Teknik ini digunakan untuk membentuk mawar raksasa pada setelan celana santai atau bentuk busur abstrak di atas halter, atau setelan yang bisa berfungsi ganda sebagai piyama.

Seni merajut kain khas Jepang juga digunakan Kondo untuk koleksi ini pada sejumlah gaun-gaun yang tampak seperti tiga dimensi namun tidak terlalu kaku, tetapi secara dramatis dapat mengikuti tubuh model, sehingga menyerupai sebuah pahatan yang sangat halus. Hal ini mengingat pada umumnya, busana dari bahan rajut seringkali terkesan tebal, kaku, dan tidak cukup baik dalam membentuk tubuh. Tapi berbeda dengan rancangan Kondo untuk Issey Miyaki ini.
 

Kolase tangkapan layar para model mengenakan karya Satoshi Kondo untuk rumah mode Issey Miyaki bertajuk “A Voyage in Descent”, untuk koleksi Musim Semi/Panas 2022 dalam gelaran Paris Fashion Week Spring Summer 2022 di Paris, Prancis. (ANTARA/Issey Miyaki)

Teknik rajutan ini tidak hanya digunakan pada gaun, namun juga pada sejumlah atasan dan celana panjang. Rajutan dilakukan dalam bentuk spiral dari dua warna benang poliester daur ulang. Teknik inilah yang menjadikan struktur busana tampak bergelombang di sekitar tubuh seperti berlipit-lipit dan membentuk lengkungan struktur peplum lebar di bagian depan dan belakang.

Baca juga: Dior tampilkan fesyen yang personal setelah pandemi COVID-19

Hal yang paling menarik dari video ini adalah saat para model melintasi ruangan gelap dan mengambil apa yang tampak, pada awalnya, seperti tumpukan slinky (mainan anak-anak yang menyerupai tumpukan per, namun tidak kaku) di lantai, tetapi rupanya yang mereka ambil adalah tumpukan lingkaran kain yang ketika dibuka adalah gaun-gaun berbentuk terumbu karang yang sangat cantik.

Secara garis besar, Kondo menampilkan koleksi yang sederhana namun kaya akan struktur dan penuh warna. Kendati banyak warna yang digunakan Kondo, namun tampilan pada koleksi ini tidak terlihat seperti “pesta karnaval” karena ditampilkan secara senada sehingga menciptakan nuansa monokrom ketika digunakan.
 

Kolase tangkapan layar para model mengenakan karya Satoshi Kondo untuk rumah mode Issey Miyaki bertajuk “A Voyage in Descent”, untuk koleksi Musim Semi/Panas 2022 dalam gelaran Paris Fashion Week Spring Summer 2022 di Paris, Prancis. (ANTARA/Issey Miyaki)

 

Kolase tangkapan layar para model mengenakan karya Satoshi Kondo untuk rumah mode Issey Miyaki bertajuk “A Voyage in Descent”, untuk koleksi Musim Semi/Panas 2022 dalam gelaran Paris Fashion Week Spring Summer 2022 di Paris, Prancis. (ANTARA/Issey Miyaki)

Seperti ingin menonjolkan garis dan struktur busana rancangannya, Kondo tidak banyak menggunakan aksesoris sebagai pelengkap karyanya ini.

Beberapa model memang tampak mengenakan topi yang menyerupai cap untuk berenang. Ada pula beberapa model yang mengenakan topi dengan aksen fringe pada bagian atas yang mengingatkan kita pada terumbu karang atau anemone laut.

Untuk alas kaki, Kondo sengaja membiarkan sejumlah model tampil tanpa alas kaki. Sebagian lagi menggunakan loafer polos yang warnanya senada dengan netral seperti krem atau hitam, atau sandal polos dengan warna yang sama dengan busana yang dikenakan, sehingga penikmat fesyen hanya akan fokus pada busana yang diperagakan, bukan pada aksesoris atau alas kaki yang dikenakan para model.

Baca juga: Dior akan gelar pameran fesyen di Shanghai

Baca juga: Satu dekade berkarya, Ria Miranda buat pameran “10 Langkah”

Baca juga: Produk fesyen Bandung dipamerkan di pameran busana terbesar Asia

Oleh Maria Rosari Dwi Putri
Editor: Suryanto
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Pos terkait