Jakarta, CNBC Indonesia - Industri kulit, peralatan dari kulit, dan dasar kaki mencatat pertumbuhan 11,30% pada kuartal II-2026. Angka tersebut menjadi pertumbuhan tertinggi dalam 15 kuartal terakhir dan salah satunya mencerminkan adanya rebound permintaan ekspor.
Namun, di kembali pertumbuhan tersebut, industri dasar kaki nasional tetap menghadapi sejumlah tekanan, mulai dari ketidakpastian geopolitik, kenaikan nilai bahan baku, kebijakan perdagangan negara tujuan ekspor, hingga tarif Amerika Serikat (AS).
Sekretaris Jenderal Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) Yoseph Billie Dosiwoda, mengakui pertumbuhan industri nan tercatat dalam info Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan adanya fase ekspansi.
"Memang benar, secara info makro dari BPS terlihat adanya perbaikan nan cukup signifikan. Pertumbuhan industri kulit, peralatan dari kulit, dan dasar kaki nan mencapai 11,30% pada kuartal II-2026 merupakan nan tertinggi dalam 15 kuartal terakhir. Ini menunjukkan bahwa dari sisi statistik, sektor ini sedang mengalami fase ekspansi," kata Billie kepada CNBC Indonesia, Selasa (11/8/2026).
"Tetapi tidak bisa terlena tanpa dijaga sehingga tidak ada peningkatan ke depan, lantaran Industri dasar kaki ini bakal menjadi potensi, andaikan bagi pelaku industri dasar kaki orientasi ekspor suasana industrinya dijaga kondusif, dan patokan wajib dari pemerintah tidak menjadi halangan baru dalam menjalankan produktivitas," lanjutnya.
Billie menilai pertumbuhan nan terjadi saat ini belum berfaedah industri telah pulih sepenuhnya. Menurut dia, rebound permintaan ekspor dan penyesuaian siklus dunia menjadi salah satu aspek nan mendorong pertumbuhan.
"Namun, jika kita memandang kondisi riil di lapangan, gambarnya lebih kompleks. Pertumbuhan tersebut lebih mencerminkan rebound permintaan ekspor dan penyesuaian siklus global, bukan berfaedah seluruh pelaku industri sudah pulih secara merata. Saat ini industri dasar kaki tetap berada dalam fase wait and see, terutama lantaran tekanan dari sisi eksternal dan domestik nan tetap cukup besar," tutur dia.
Harga Bahan Baku Naik
Billie mengatakan, industri dasar kaki nan berorientasi ekspor tetap menghadapi sejumlah hambatan. Salah satunya adalah ketidakpastian geopolitik dunia nan berakibat pada rantai pasok dan biaya bahan baku.
"Bahkan dalam beberapa kasus, naik hingga 30%-40%," ucapnya.
Kedua, masalah pajak restitusi PPN nan belum selesai, dan adanya tekanan tarif, serta kebijakan jual beli negara tujuan, termasuk skema tarif Amerika Serikat (AS) nan tetap berada di kisaran 10%. Menurutnya, tarif tersebut menjadi tantangan baru bagi eksportir dasar kaki Indonesia dalam bersaing dengan negara produsen lain, seperti India dan Kamboja.
"Tarif nan sama dengan India dan Kamboja bakal menjadi tantangan baru ke depan, dengan negara pesaing untuk meningkatkan ekspor," kata Billie.
Di sisi lain, kesempatan ekspansi pasar ke Eropa terbuka melalui Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA). Jika akses tarif 0% dapat terealisasi pada awal 2027, kebijakan tersebut dinilai dapat membuka pasar baru bagi produk dasar kaki Indonesia.
Kendati demikian, Billie menyebut tantangan industri tidak hanya datang dari pasar ekspor. Pasar domestik juga menghadapi tekanan akibat masuknya produk impor.
(dce)
[Gambas:Video CNBC]

2 jam yang lalu
4








English (US) ·
Indonesian (ID) ·