Inflasi AS Tertinggi Sejak 2008 Lalu

  • Whatsapp

Inflasi AS Tertinggi Sejak 2008 Lalu
Inflasi AS Tertinggi Sejak 2008 Lalu

Inflasi AS menjadi salah satu perhatian seluruh dunia sejak Kamis kemarin. Bahkan jika data inflasi sesuai dengan ekspetasi, mata uang Indoesia berpotensi menguat.

Secara teknis, rupiah memiiki potensi menguat di hari Jumat 11 Juni. Akan tetapi hal ini juga tergantung pada sentiment pasar terhadap inflasi bulanan yang terjadi di negara Amerika Serikat. Proyeksi dari penguatan rupiah sendiri berkisar Rp. 14.200 sampai Rp. 14.325 untuk satu dolar AS.

Pada perdagangan di hari Kamis kemarin, rupiah dalam pasar spot tutup dalam posisi menguat tipis. Kisarannya yaitu 0,05% menuju level Rp. 14.248 per satu dolar Amerika. Sedangkan pada Jisdor BI atau Bank Indonesia, mata uang ini terapresiasi sampau 0,5%.

Angkanya pun menuju level Rp. 14.240 untuk satu dolar AS. Tak hanya rupiah saja, inflasi AS yang terjadi juga berpengaruh pada bidang lainnya.


Sebelum mengetahui lebih lanjut tentang inflasi AS, ada baiknya mengetahui tentang pengertiannya terlebih dahulu. Inflasi sendiri adalah sebuah proses meningkatnya harga secara umum dan berkelanjutan.

Mengenal Tentang Inflasi AS

Kenaikan harga yang terjadi pada satu atau dua barang semata tak bisa terbilang sebagai inflasi. Kecuali kalau kenaikan tersebut berlangsung meluas atau mengakibatkan harga naik pada barang lainnya. Inflasi ini berkaitan pada menkanisme pasar yang penyebabnya berasal dari banyak faktor.

Antara lain konsumsi masyarakat meningkat, kemudian berlebihnya tingkat likuidias di pasar yang dapat memicu spekulasi dan konsumsi. Hingga termasuk akibat terjadinya ketidak lancaran proses distribusi barang.

Selain itu, ketidakstabilan di bidang ekonomi juga tingkat penjualan dapat juga menimbulkan inflasi. Kata lain dari inflasi ialah proses menurunnya nilai suatu mata uang secara berkelanjutnya. Pengertian dari inflasi yang lain adalah proses yang terjadi dari suatu peristiwa.

Bukan berupa tingkat rendah maupun tingginya suatu harga. Sehingga berarti tingkat harga yang termasuk tinggi belum tentu menunjukan terjadinya inflasi. Inflasi merupakan indikator guna melihat sebuah tingkat perubahan.

Serta akan terbilang terjadi jika proses kenaikan harganya berlangsung terus menerus juga mempengaruhi. Nah inilah yang terjadi sekarang pada inflasi AS.

Tembus Level Tinggi Sejak Tahun 2008

Pada periode bulan Mei 2021, inflasi AS meroket. Bahkan angkanya sampai mencetak level tertinggi sejak bulan Agustus 2008 silam. Inflasi ini mengalami pelonjakan hingga 5 persen jika membandingkannya dengan periode sama di tahun yang lalu.

Secara bulanan, inflasi ini tercatat mengalami kenaikan sampai 0,6 persen. Berdasarkan Biro Statistik Tenaga Kerja AS, inflasi tercatat sambai sebesar 3,8 persen dan tertinggi sejak bulan Juni tahun 1992 silam. Hal ini di luar harga makanan serta energy maupun dua komponen paling volatile.

Sedangkan inflasi inti atau core inflation yaitu inflasi di luar komponen makanan serta energy tercatat pada kisaran 0,7 persen. Angka ini berarti mengalami penurunan dari bulan April lalu yaitu 0,9 persen. Walaupun inflasi di bulan Mei terbilang lebih tinggi dari ekspetasi sejumlah ekonom, namun pihak Economist Intelligence Unit Cailin Birch berkata tak kaget.

Menurut pihak Birch, proyeksinya tak akan berlangsung lama. Bahkan menurutnya jika inflasi in akan kembali mereda menuju kisaran 2 sampai 3 persen. Penurunan ini akan berlangsung di paruh kedua pada tahun ini.

Tetapi permasalahan rantai pasokan serta permintaan yang terus meningkat bisa berpotensi mengangkatnya harga terus lebih tinggi. Misalnya saja pada harga mobil bekas maupun truk yang mengalami kenaikan tajam sampai 7,3 persen di bulan Mei.

Dalam kurun waktu 12 bulan terakhir, kisaran harganya naik sampai 29,7 persen tanpa adanya penyesuaian musiman. Penyebab inflasi AS lainnya adalah masyarakat dalam negara tersebut yang kembali makanan di restoran kala ekonomi buka kembali.

Harga Emas Dunia Mengalami Kebangkitan

Setelah data menunjuk pada harga konsumen atau bernama inflasi AS di periode Mei meningkat melebihi ekspetasi, harga emas pun menguat. Akan tetapi terdapat kekhawatiran akan mereda. Hal ini terkait pada kemungkinan dari Federal Reserve  mengurangi dukungan terhadap moneternya.

Mengutip dari salah satu sumber, di hari Jumat sekarang harga emas dalam pasar spot naik sekitar 0,3 persen. Kini harganya menjadi 1.893,75 dollar AS untuk satu ouncenya. Harga ini naik setelah sebelumnya mencapai level paling rendah sejak tanggal 4 Juni. Kala itu, harganya mencapai 1.869,46 dollar AS untuk satu ounce.

Sementara itu, untuk emas yang berjangka di Amerika Serikat dalam posisi menetap di angka 1.896,40 dollar AS satu ounce. Data menunjuk jika IHK Amerika meningkat berkelanjutnya di bulan Mei akibat dari pemulihan di bidang ekonomi.

Pemulihan di bidang ekonomi ini belanjut dari pandemi sehingga mendorong permintaan dalam domestic. Klaim pengangguran dalam mingguan juga mengalami penurunan menju level tertendah selama hampir 15 bulan terakhir.

Investor serta mencermati dari janji bank Sentral Eropa guna mempertahankan pada aliran stimulus stabil selama musim panas berlangsung. Hal ini terjadi dalam pertemuan di kebijakannya. Pertumbuhan selera dari investor belum lama ini mengimbangi angka permintaan emas fisik yang cenderung lemag. Terutama yang berasal dari China serta India.

Di antara logam lainnya, jenis palladium turun pada kisaran 0,6 persen. Angkanya kini menjadi 2,762,56 dollar AS untuk satu ounce. Sedangkan platinum juga melemah sekitar 0,4 persen dan perak mengalami kenaikan sampai 0,5 persen. Sederet logam ini juga ikut terpengaruh dari inflasi AS.

Wall Street Ikut Melejit

Indeks utama dalam Wall Street kompak menguat di perdagangan Kamis 10 Juni kemarin. Pemicu dari hal ini adalah kenaikan inflasi AS untuk bulan Mei 2021. Berdasarkan data dari Bloomberg jam 20.35, indeks dari Dow Jones menguat sekitar 0,66 persen. Atau setara dengan 226,39 poin menuju lebel 34.673,56.

Pada indeks S&P 500 juga mengalami kenaikan sampai 0,50 persen yaitu 21,15 poin menuju posisi 4.240,70. Serta indeks Nasdaq melejit sampai 0,35 persen atau nilainya mencapai 48,34 poin kea rah 13.960,18.

Sebelumnya, S&P 500 sampai menembus rekor paling tinggi sepanjang masa selama empat sesi berurutan. Sementara itu, pada imbal dari hasil US Treasury AS angka lonjakannya tercatatat di atas kisaran 1,5 persen.

Sehingga menghentikan reli harga obligasi ini dan mengakibatkan benchmark menuju level terendah sejak bulan Maret pada 9 Juni kemarin. Indeks harga konsumen atau consumer price indeks AS untuk bulan Mei 2021 tercatat laju paling cepat.

Lonjakanya pun sampai 5 persen daripada tahun lalu. Hal inilah yang meningkatkan inflasi tahunan paling tinggi sejak tahun 2008 silam. Sebelum perilisan data indeks untuk harga konsumen, gerak pada pasar saham AS terbilang terbatas.

Serta pada imbal hasil US Treasury tergolong jatuh. Hal ini terjadi karena para investor menunggu sejumlah dorongan dari laporan yang memuat kemajuan pemulihan di bidang ekonomi global. Adapun kehebohan juga terjadi pada saham meme yakni cryptocurrency yang menjadi sumber volatilitas pasar terakhir.

Keaikan inflasi AS ini harus mendapat perhatian dari kalangan The Fed. Kemungkinan masih akan berhubungan dengan efek untuk sementara waktu.

Pos terkait