Integrasi Data Jadi Tantangan Kolaborasi Fintech dan Bank Daerah

17 jam yang lalu 1
Integrasi Data Jadi Tantangan Kolaborasi Fintech dan Bank Daerah Fintech Lending Days 2026 pada sesi Banking Partnership Forum: Strengthening Collaboration Between Pindar and Regional Banking Ecosystem di Bali.(Dok. MI)

KOLABORASI antara platform fintech lending dan perbankan wilayah dinilai berpotensi memperluas akses pembiayaan bagi masyarakat serta pelaku upaya nan belum sepenuhnya terjangkau jasa finansial formal. Namun, perbedaan sistem, pengelolaan data, hingga standar manajemen akibat menjadi tantangan dalam merealisasikan kerja sama tersebut.

Direktur Pengembangan Bisnis PT Plus Ultra Abadi (UATAS), Shintya Maulida, mengatakan kerja sama antara platform pinjaman daring (pindar) dengan Bank Perkreditan Rakyat (BPR) maupun Bank Pembangunan Daerah (BPD) dapat memadukan keahlian teknologi dengan pemahaman terhadap karakter ekonomi lokal.

Platform fintech, menurut dia, mempunyai kelebihan dalam teknologi, pengolahan data, serta proses pembiayaan digital. Sementara itu, bank daerah mempunyai jaringan dan pemahaman lebih dalam terhadap karakter masyarakat serta aktivitas ekonomi di masing-masing wilayah.

“Partnership ini bukan sebagai kejuaraan antar-subsektor, tetapi sebagai kombinasi capabilities untuk memberikan akses pembiayaan nan lebih tepat, efisien, dan sustainable,” kata Shintya melalui keterangan tertulis, Rabu (26/8).

Ia menjelaskan, model kerjasama tersebut terutama dinilai dapat membuka akses terhadap segmen underserved, termasuk masyarakat dan pelaku upaya produktif nan mempunyai kebutuhan pembiayaan tetapi belum sepenuhnya mendapatkan jasa dari lembaga finansial formal.

Bagi penyelenggara fintech lending, kata dia, kerja sama dengan bank wilayah juga dapat memberikan info nan lebih baik mengenai karakter calon peminjam dan kebutuhan pembiayaan di masing-masing wilayah.

Namun, kerjasama dua lembaga finansial dengan karakter berbeda tersebut tidak terlepas dari sejumlah kendala.

Shintya menyebut penyelarasan proses bisnis, data, risk appetite, tata kelola, serta pembagian tanggung jawab menjadi sejumlah persoalan nan perlu diselesaikan sebelum kerja sama dijalankan dalam skala besar.

Setiap institusi, kata dia, mempunyai sistem dan kerangka manajemen akibat masing-masing. Karena itu, sejak awal kedua belah pihak perlu menyepakati sasaran nasabah, skema pembiayaan, sistem berbagi data, kepemilikan risiko, hingga penanganan pengguna ketika muncul persoalan dalam proses pembiayaan.

"Interoperabilitas sistem juga menjadi tantangan lantaran penggunaan platform teknologi berbeda berpotensi menambah kompleksitas proses andaikan tidak terintegrasi dengan baik," lanjut dia.

Menurut dia, untuk menekan akibat tersebut, kerja sama dinilai lebih memungkinkan dilakukan secara bertahap, dimulai melalui proyek percontohan dengan cakupan terbatas.

Hasil proyek tersebut kemudian dapat dievaluasi berasas keahlian penyaluran pembiayaan, kualitas portofolio, proses operasional, hingga pengalaman pengguna sebelum skema kerja sama diperluas.

"Pendekatan berjenjang diperlukan agar ekspansi pembiayaan tidak hanya mengejar pertumbuhan volume, tetapi tetap memperhatikan kualitas portofolio dan pengelolaan risiko," tandas dia.

Pembahasan mengenai kerjasama fintech lending dan perbankan wilayah tersebut mengemuka dalam Fintech Lending Days 2026 pada sesi Banking Partnership Forum: Strengthening Collaboration Between Pindar and Regional Banking Ecosystem yang berjalan di Bali pekan lalu. (Z-10)

Selengkapnya