Iran Ancam ke Negara Arab Teluk, Beri Ultimatum Keras Bila Lakukan Ini

2 jam yang lalu 3

Jakarta, CNBC Indonesia - Angkatan Bersenjata Iran melontarkan ancaman mematikan kepada negara-negara Teluk agar tidak memberikan support maupun akomodasi apa pun kepada militer Amerika Serikat (AS). Peringatan keras ini meledak sebagai peringatan awal di tengah memanasnya bentrok bersenjata dan perputaran armada militer AS di area tersebut.

Mengutip Bangkok Post, Rabu (19/08/2026), Kepala Staf Angkatan Bersenjata Iran, Ali Abdollahi, secara terbuka meragukan janji negara-negara Timur Tengah nan sebelumnya menyatakan tidak bakal membiarkan AS menggunakan wilayah mereka sebagai landasan peluncuran serangan militer. Mengingat area Teluk saat ini dipenuhi oleh instalasi militer Washington, Ali memperingatkan seluruh negara tetangganya.

"Setiap support alias fasilitasi nan diberikan kepada militer AS nan agresor sama dengan partisipasi dalam operasi militer AS," tegasnya.

"Tampaknya tidak mungkin sejumlah besar pesawat militer, khususnya pesawat pengisian bahan bakar, dapat datang di pangkalan regional tanpa sepengetahuan negara tuan rumah. Mereka kudu tahu bahwa kami sepenuhnya menyadari situasi ini," tuturnya.

Sebagai latar belakang, bentrok mematikan ini pecah pada 28 Februari lampau usai serangan campuran AS-Israel terhadap Republik Islam tersebut, nan langsung dibalas oleh Teheran dengan rentetan serangan rudal dan drone melintasi kawasan. Sejumlah media sempat melaporkan bahwa Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), Kuwait, dan Bahrain semuanya ikut menyerang sasaran di Iran sebagai corak balasan, meskipun negara-negara itu sebagian besar telah membantahnya.

Situasi kian mendidih setelah UEA pada hari Selasa secara resmi mengumumkan penangguhan seluruh urusan ekonominya dengan Iran. Langkah drastis ini diambil hanya beberapa jam sebelum Iran melontarkan ancamannya, menyusul kejadian di mana Abu Dhabi menuduh Teheran telah menembakkan dua rudal balistik ke arah armada komersial nan berlayar di lepas pantainya.

Direktur Komunikasi Kementerian Luar Negeri UEA, Afra Al Hameli, membenarkan keputusan drastis mengenai pemutusan hubungan negara tersebut.

"Mengingat eskalasi regional, semua perdagangan, pertukaran komersial, dan transaksi finansial dengan Iran telah dihentikan hingga pemberitahuan lebih lanjut," ucapnya.

Padahal, kedua tetangga Teluk ini sejatinya mempunyai ikatan budaya dan sejarah nan mendalam, di mana UEA nan menampung banyak organisasi Iran sempat menjadi mitra jual beli utamanya. Namun, UEA sekarang telah menarik duta besarnya di awal bentrok serta menutup sekolah dan sebuah rumah sakit nan mengenai dengan Iran.

Kapal tanker milik perusahaan minyak negara UEA, Adnoc, juga telah berulang kali menjadi sasaran serangan dalam beberapa minggu terakhir, nan membikin diplomat tinggi AS Marco Rubio langsung menelepon penasihat keamanan nasional UEA pada hari Selasa untuk membahas koordinasi perlawanan terhadap Iran dan proksinya guna mengamankan Selat Hormuz.

Di ranah diplomatik, kerangka kesepakatan AS-Iran nan ditujukan untuk membuka kembali Selat Hormuz sekarang dilaporkan telah runtuh sepenuhnya. Walau utusan AS Jared Kushner sempat menyatakan adanya pembicaraan nan sangat positif pada hari Senin, Presiden AS Donald Trump dengan sigap membantahnya. Trump secara provokatif justru mengejek Iran melalui unggahan media sosial nan menggambarkan selat strategis tersebut sebagai "Wilayah Baru AS".

"Tidak ada pembicaraan alias percakapan nan sedang berlangsung, alias dijadwalkan, dengan Republik Islam Iran. Blokade Angkatan Laut tetap bertindak penuh dan efektif," ungkapnya.

Di lapangan, militer AS sebagian besar telah menghentikan sementara operasinya. Media AS melaporkan bahwa perang telah menguras persediaan amunisi krusial mereka, meski perihal ini langsung dibantah keras oleh Trump dan Pentagon.

Dengan kegagalan AS untuk mengakhiri bentrok secara meyakinkan selama berbulan-bulan, para pejabat Iran sekarang tampil semakin menantang. Ketua Parlemen sekaligus Negosiator Utama Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, baru-baru ini mengunjungi Irak untuk memperkuat tatanan baru di area dan meningkatkan kerja sama tanpa kombinasi tangan asing.

"Perlawanan di Irak juga merupakan salah satu komponen kekuatan negara ini," pungkasnya.

(tps/tps) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya