Jakarta, CNBC Indonesia - Iran menghadapi dilema besar di tengah perang nan berkepanjangan. Selat Hormuz nan selama ini menjadi salah satu kartu strategis utama Teheran justru terancam kehilangan nilainya lantaran negara-negara Teluk mulai membangun jalur daya alternatif.
Perdebatan mengenai strategi menghadapi perang dan tekanan ekonomi sekarang menguat di dalam negeri Iran. Pendiri Forum Aktivis Ekonomi Hamid Paktinat menilai pembangunan pipa dan rute ekspor pengganti oleh negara-negara tetangga Iran di Teluk dapat memangkas nilai strategis Selat Hormuz hingga separuhnya dalam tiga tahun.
Tekanan ekonomi juga mendorong sejumlah pejabat Iran menyerukan agar perang segera diakhiri. Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf mengatakan kekuatan militer tidak bakal cukup untuk menjaga negara jika perekonomian terus memburuk.
"Jika rakyat kelaparan dan tidak ada pertumbuhan ekonomi, negara tidak bakal bisa bertahan," ujarnya, seperti dikutip Guardian, Rabu (26/8/2026).
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyampaikan pernyataan nan lebih lugas. Menurut Pezeshkian, Iran sebaiknya mengakhiri bentrok ketika tetap mempunyai posisi tawar nan kuat daripada menunggu kondisi ekonomi dan kekuatan negosiasinya semakin melemah.
"Perang kudu diakhiri pada suatu titik," katanya.
Sementara itu, Gubernur Bank Sentral Iran Abdolnaser Hemmati turut memperingatkan tekanan ekonomi nan semakin berat.
"Kami menghadapi empat alias lima tantangan besar secara bersamaan, termasuk hukuman maksimum, blokade, penghentian ekspor minyak, dan ketidakseimbangan anggaran; masing-masing memberikan tekanan pada perekonomian," ujarnya.
Di sisi lain, master geo-ekonomi Iran Hamid Asefi menilai penggunaan Hormuz secara berulang sebagai perangkat tekanan justru dapat membikin efektivitasnya memudar. Menurut dia, Iran semestinya berupaya menjadikan Hormuz sebagai jalur nan kondusif dan stabil sehingga negara lain memerlukan Teheran untuk menjaga ketertiban di kawasan.
"Ancaman nan terus-menerus diulang bakal berubah dari sekadar pencegahan menjadi kebiasaan politik," katanya.
Data Kpler menunjukkan aktivitas pelayaran di Hormuz telah merosot tajam. Hanya 112 kapal tanker minyak dan gas tercatat melintasi selat tersebut pada 1-19 Agustus, sementara sebagian besar kapal menggunakan rute nan tidak terkonfirmasi. Kondisi ini membikin negara-negara Teluk semakin terdorong mengembangkan jalur pengganti untuk mengurangi ketergantungan terhadap selat tersebut.
Paktinat memperkirakan ketergantungan Arab Saudi terhadap Hormuz dapat turun dari 70% menjadi 15%, UEA dari 50% menjadi 15%, dan Irak dari 100% menjadi 30%. Secara keseluruhan, dia memperkirakan nilai strategis Hormuz dapat berkurang separuh dalam tiga tahun dan nyaris kehilangan makna pentingnya dalam enam tahun.
Bagi Iran, perkembangan ini menjadi ancaman serius: semakin banyak jalur pengganti dibangun, semakin mini daya tekan Hormuz sebagai kartu strategis Teheran.
(sef/sef)
[Gambas:Video CNBC]

13 jam yang lalu
3








English (US) ·
Indonesian (ID) ·