Iran Warning Antek-Antek Trump di Timteng, Selat Hormuz Jadi Taruhan

3 minggu yang lalu 11
Azka.id - Murni Mengabarkan
🇮🇩 Portal Berita Indonesia
Murni Mengabarkan

Azka.id menghadirkan berita nasional, daerah, teknologi, ekonomi, olahraga, hiburan, dan berbagai informasi terkini secara cepat, akurat, independen, dan terpercaya untuk seluruh masyarakat Indonesia.

Jakarta, CNBC Indonesia - Iran kembali menegaskan otoritasnya dalam mengendalikan pelayaran di Selat Hormuz. Negeri Persia tersebut juga memperingatkan negara-negara di area Timur Tengah untuk tidak memihak Amerika Serikat (AS).

Pernyataan tegas dari Teheran muncul sehari setelah serangan terhadap kapal di dekat Oman. Insiden ini kembali menyoroti rapuhnya kesepakatan awal dengan AS untuk mengakhiri bentrok di Timur Tengah.

Iran menanggapi pernyataan berbareng AS dan 6 negara Timur Tengah nan menolak keras klaim Iran bahwa mereka berkuasa memungut biaya dari kapal-kapal nan melintasi Hormuz.

"Pelayaran nan kondusif melalui Selat Hormuz tidak dapat dijamin di bawah pengaturan nan ambigu, rute paralel, alias pengambilan keputusan nan tidak memperhitungkan peran Iran," ujar Wakil Menteri Luar Negeri Kazem Gharibabadi melalui platform X, dikutip dari Reuters, Sabtu (27/6/2026).

Televisi pemerintah Iran melaporkan bahwa tiga kapal tanker asing nan mencoba melakukan pelayaran tanpa izin di Selat Hormuz diperintahkan berbalik arah setelah menerima peringatan dari Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Pihak berkuasa tidak memberikan perincian lebih lanjut.

"Kami mengetahui laporan-laporan tersebut dan sedang memeriksanya. Presiden (Donald) Trump telah menegaskan bahwa Iran tidak boleh menghalang kelancaran lampau lintas di Selat Hormuz," kata seorang pejabat pemerintah AS.

Harga minyak turun lebih dari 3% pada Jumat (26/6) dan mengalami tren merosot selama sepekan. Padahal, tetap ada perbedaan penafsiran mengenai kesepakatan sementara antara AS-Iran.

Sebagai informasi, Selat Hormuz melakukan jalur krusial nan dilalui seperlima pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia.

Data pengapalan menunjukkan Saudi Aramco kembali melakukan pemuatan minyak mentah pada Jumat (26/6) di terminal Ras Tanura miliknya, ialah pelabuhan minyak terbesar di dunia, setelah sempat terhenti selama nyaris empat bulan.

Pengiriman pupuk melalui Selat Hormuz juga sudah meningkat, sehingga membantu meredakan kekhawatiran bakal lonjakan nilai pangan dunia akibat penutupan Selat Hormuz yang berkepanjangan.

Peringatan dari Amerika

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio baru saja menyelesaikan kunjungan ke area Timur Tengah untuk meyakinkan sekutu regional nan merasa resah mengenai kesepakatan sementara AS-Iran. Rubio mengatakan pada Kamis (25/6) bahwa jika Iran menakut-nakuti alias menghalangi kapal-kapal di Selat Hormuz, maka masalah bakal timbul.

Dalam sebuah pernyataan bersama, Rubio dan Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) menyerukan "navigasi nan bebas, tanpa syarat, dan tanpa hambatan" di Selat Hormuz, tanpa pungutan biaya maupun upaya untuk menegakkan kendali.

Mereka menyatakan bahwa perdamaian nan langgeng kudu mencakup penanganan masalah rudal balistik, pesawat nirawak (drone), dan support Iran terhadap kelompok-kelompok proksi.

Kementerian Luar Negeri Iran menanggapi pada Jumat (26/6) dengan menyatakan bahwa kehadiran militer AS di Timur Tengah merupakan sumber ketidakamanan dan perpecahan di area tersebut. Pemerintah Iran juga menegaskan bahwa selat itu semestinya dikelola oleh Iran dan Oman sesuai dengan ketentuan kesepakatan sementara.

"Kami memperingatkan agar kebijakan nan berbeda dan berkarakter intervensionis di area ini tidak dilanjutkan," demikian pernyataan tersebut.

Teheran mengambil kendali efektif atas jalur perairan itu setelah serangan AS-Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026 nan memicu perang. Konflik ini mengganggu aliran minyak serta mengguncang pasar daya dunia dan perekonomian secara luas.

Iran kemudian melancarkan serangan terhadap Israel dan negara-negara Timur Tengah nan menampung pangkalan militer AS. Sementara itu, milisi Hizbullah nan berkawan dengan Iran menyerang Israel dari Lebanon, sehingga memicu kembali bentrok di wilayah tersebut.

Ali Akbar Velayati, penasihat utama Pemimpin Tertinggi Iran, mengeluarkan peringatan kepada sekutu-sekutu Washington di Timur Tengah.

"Stabilitas negara-negara Arab di Teluk Persia berjuntai pada pengelolaan Selat Hormuz oleh Iran selama berabad-abad. Kelangsungan hidup strategis mereka berjuntai pada toleransi Teheran," ujar Velayati melalui platform X.

Evergreen Marine asal Taiwan (2603.TW) menyatakan pada Jumat (26/6) bahwa kapal mereka nan berbendera Singapura, Ever Lovely, terkena hantaman "objek tak dikenal" di dekat Oman pada Kamis (25/6) saat melintasi rute nan direkomendasikan oleh badan angkatan laut Inggris, UKMTO.

Tidak ada korban luka dalam kejadian tersebut, dan kapal itu melanjutkan perjalanannya keluar dari Selat Hormuz.

Dua pejabat AS mengatakan kepada Reuters bahwa Iran telah menembaki kapal tersebut. Otoritas Selat Teluk Persia Iran menyatakan bahwa pelayaran melalui rute nan tidak diizinkan bakal menjadi "tanggung jawab pemilik, operator, dan komandan kapal".

Pemerintah AS tidak segera memberikan komentar.

Trump sebelumnya memperingatkan bulan ini bahwa jika Iran tidak mematuhi kesepakatan sementara, termasuk membuka kembali Selat Hormuz, AS kemungkinan bakal kembali membom negara itu.

Presiden Korea Selatan Lee Jae-myung mengatakan pada Jumat (26/6) bahwa tiga kapal Korea Selatan bakal meninggalkan Selat Hormuz pada akhir pekan, setelah Kementerian Kelautan melaporkan bahwa delapan kapal Korea Selatan lainnya telah keluar.

Peringatan Israel ke Lebanon

Perbedaan pendapat juga tetap bersambung mengenai aspek-aspek lain dari kerangka kesepakatan gencatan senjata, termasuk mengenai insentif finansial bagi Iran, inspeksi nuklir, dan perang paralel Israel di Lebanon.

Kesepakatan tersebut menetapkan masa perundingan selama 60 hari untuk membahas isu-isu nan lebih pelik, termasuk program nuklir Iran.

Di saat bersamaan, Israel menyebarkan selebaran di kota Mansouri, Lebanon selatan, pada Jumat (26/6) nan memerintahkan masyarakat untuk pergi, menurut laporan media pemerintah Lebanon. Ini merupakan perintah pertama semacam itu sejak gencatan senjata antara Israel dan Hizbullah mulai berlaku.

Israel menyatakan bakal tetap menempatkan pasukannya di wilayah nan mereka sebut sebagai "zona penyangga" di Lebanon selatan, dengan tujuan mencegah serangan Hizbullah ke wilayah utara Israel.

Iran menuntut penarikan penuh pasukan Israel dan menyatakan bahwa gencatan senjata di Lebanon merupakan bagian tak terpisahkan dari kesepakatan sementara dengan AS nan telah menghentikan permusuhan.

Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, mengatakan pada Jumat (26/6) bahwa setiap serangan Iran terhadap Israel bakal menjadi "kesalahan terbesar" bagi Teheran.

(fab/fab)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya