ARTICLE AD BOX
Jakarta, CNBC Indonesia - Kampung Rajut Binong Jati telah menjadi salah satu sentra rajut terbesar di Kota Bandung sejak tahun 1970-an. Berawal dari segelintir perajin, area ini terus berkembang dan sekarang dikenal sebagai pusat produktivitas nan bisa mengolah benang menjadi beragam produk bernilai.
Seiring waktu, Kampung Rajut tidak hanya menjaga tradisi merajut, tetapi juga menjadi ruang lahirnya penemuan pengelolaan limbah nan berkelanjutan. Melalui support program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) Pertamina, semangat tersebut semakin meluas dengan hadirnya pemberdayaan bagi penyandang disabilitas nan tergabung dalam "Komunitas Fable."
Bersama Merajut Asa Kita, para perajin difabel memperoleh akses bahan baku, pendampingan, hingga pemasaran, sehingga mereka dapat berkarya dari rumah sesuai kondisi mobilitas masing-masing.
"Dulu kami kesulitan memasarkan hasil kerajinan. Sekarang kami bisa terus berkarya dan mempunyai penghasilan nan lebih tetap. Di sini kami dipandang dari kemampuan, bukan dari keterbatasan," ujar Koordinator Komunitas Fable, Elis Juwarsi dalam keterangan resmi, Kamis (9/7/2026).
Saat ini, sekitar 10 personil Komunitas Fable, aktif berkarya. Kehadiran program tersebut tidak hanya membantu memenuhi kebutuhan ekonomi mereka, tetapi juga menghadirkan rasa percaya diri dan kesempatan nan selama ini susah diperoleh di bumi kerja formal.
Local Hero Kampung Rajut Binong Jati, Eka Rahmat Jaya, menjelaskan bahwa keberlanjutan menjadi napas utama kampung ini.
"Limbah rajut dan botol plastik kami olah kembali menjadi bahan baku maupun produk baru. Dengan begitu, penduduk mendapat tambahan penghasilan sekaligus mengurangi sampah," katanya.
Kisah inilah nan dipelajari sekitar 15 pelajar SMA dari Kota Bandung nan mengisi liburan mereka sebagai Green Warrior dalam program GreenBus Pertamina. Mereka belajar merajut berbareng para perajin, memilah limbah rajut, hingga memandang langsung proses daur ulang sisa benang menjadi produk bernilai.
"Yang paling berkesan buat saya adalah belajar memilah sampah dan memandang bahwa limbah tetap bisa dimanfaatkan kembali," ujar Yasmin Hasari, siswi SMAN 12 Bandung.
Asya dari sekolah nan sama mengaku senang dapat belajar langsung dari para perajin.
"Ternyata merajut itu menyenangkan dan banyak sekali pembelajaran baru nan bisa didapat di sini," katanya.
Sementara itu, Steven dari SMAN 5 Bandung menilai pengalaman merajut mengajarkannya tentang kesabaran dan kepedulian terhadap lingkungan. "Kita bisa mulai dari perihal sederhana, seperti memilah sampah sesuai jenisnya," tuturnya.
Melalui pengalaman tersebut, GreenBus Pertamina tidak hanya menghadirkan pembelajaran tentang lingkungan, tetapi juga menanamkan nilai kesetaraan dan kepedulian sosial kepada generasi muda melalui teladan nyata dari para perajin difabel di Kampung Rajut Binong Jati.
Vice President Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron menambahkan bahwa keberhasilan program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan tidak hanya diukur dari faedah ekonomi, tetapi juga dari sejauh mana program tersebut bisa membuka kesempatan nan setara bagi seluruh lapisan masyarakat.
"Melalui pemberdayaan perajin difabel di Kampung Rajut Binong Jati, kami mau membuktikan bahwa inklusivitas dan keberlanjutan dapat melangkah beriringan serta menciptakan faedah nan berkepanjangan bagi masyarakat," ujar Baron.
Baron berambisi program ini dapat terus berkembang sebagai ekosistem pemberdayaan nan menghubungkan aspek sosial, ekonomi, dan lingkungan.
"Ketika masyarakat memperoleh kesempatan untuk berkarya dan mandiri, maka di saat nan sama kita juga sedang membangun masa depan nan lebih inklusif dan berkelanjutan," pungkas Baron.
(rah/rah)
Addsource on Google

1 hari yang lalu
4








English (US) ·
Indonesian (ID) ·