Ilustrasi(MI/Marianus Marselus)
SUASANA di tiga desa di Kecamatan Mapitara, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, belum sepenuhnya pulih setelah gempa dan longsor melanda wilayah tersebut.
Warga Desa Natakoli, Desa Hale, dan Desa Hebing sekarang menghadapi persoalan lain. Akses jalan utama nan menjadi satu-satunya penghubung menuju Desa Egon Gahar dan jalan negara Trans Flores di Kecamatan Waigete tertutup material longsor.
Jalan nan selama ini menjadi urat nadi penduduk itu tidak hanya digunakan untuk aktivitas sehari-hari, tetapi juga menjadi jalur krusial untuk pelayanan kesehatan, pengedaran kebutuhan pokok, serta pengiriman support bagi penduduk terdampak bencana.
Material tanah dan bebatuan menutup badan jalan. Sebuah batu berukuran besar apalagi belum dapat disingkirkan menggunakan tenaga manusia. Kondisi tersebut membikin kendaraan roda dua maupun roda empat belum bisa melintas.
Terputusnya akses ini membikin pengedaran logistik menuju tiga desa ikut tersendat. Pengiriman kebutuhan pokok dan support bagi penduduk terdampak gempa kudu menghadapi halangan lantaran kendaraan pengangkut tidak dapat menggunakan jalur utama.
Sekretaris Camat Mapitara, Stefanus Raga, mengatakan kondisi tersebut menjadi perhatian serius lantaran jalan itu merupakan akses terdekat penduduk menuju wilayah Egon Gahar dan jalan negara Trans Flores.
“Jalan tersebut merupakan jalan satu-satunya dari tiga desa tersebut menuju Desa Egon Gahar dan ke jalan negara Trans Flores di Kecamatan Waigete sehingga bisa lebih dekat ke Kota Maumere,” ujar Stefanus saat ditemui di Posko Tanggap Darurat Bencana Gempa Flores, Kamis (20/8).
Bagi penduduk nan memerlukan bantuan, tertutupnya jalan berfaedah perjalanan pengedaran kudu menempuh jalur pengganti nan lebih panjang.
Kendaraan dari tiga desa tersebut kudu memutar melalui jalur pesisir selatan Flores, melewati Kecamatan Doreng, Bole, dan Hewokloang, sebelum kembali menuju jalan negara Trans Flores.
Jarak tempuh nan lebih jauh membikin pengedaran kebutuhan penduduk menjadi tidak mudah. Kondisi ini terutama dirasakan dalam situasi tanggap darurat ketika kebutuhan pangan, air, obat-obatan, dan kebutuhan dasar lainnya kudu segera sampai kepada masyarakat.
“kendaraan kudu memutar jauh lagi dan jarak tempuhnya lebih lama. Orang pun takut melintasi jalan tersebut lantaran bisa terkena material longsor karena wilayah tersebut rawan longsor,” kata Stefanus.
Persoalan juga dirasakan dalam pelayanan kesehatan.
Ambulans Puskesmas Mapitara nan hendak merujuk pasien ke RS TC Hillers Maumere kudu menggunakan jalur alternatif. Padahal, pasien nan memerlukan rujukan memerlukan perjalanan nan sigap dan aman.
Terputusnya akses juga berakibat pada hubungan antara penduduk Desa Egon Gahar dengan pusat pelayanan di Kecamatan Mapitara. Warga dari desa tersebut otomatis mengalami kesulitan untuk menuju Puskesmas Mapitara maupun Kantor Camat Mapitara.
Dalam situasi pascagempa, ketika penduduk tetap memerlukan pelayanan dan bantuan, jalan nan terputus membikin mobilitas masyarakat dan petugas menjadi semakin terbatas.
Stefanus mengatakan pihak kecamatan telah melaporkan kondisi jalan tersebut kepada Posko Tanggap Darurat Bencana Gempa Flores.
Pemerintah kecamatan berambisi perangkat berat segera dikirim untuk membuka kembali akses nan tertutup material longsor dan batu besar.
“Saya sudah melaporkan ke Posko Tanggap Darurat Bencana Gempa Flores dan mudah-mudahan perangkat berat segera dikirim agar akses transportasi bisa melangkah lancar seperti semula,” ungkapnya.
Bagi penduduk Natakoli, Hale, dan Hebing, pembukaan jalan bukan hanya soal kelancaran kendaraan.
Jalan nan kembali terbuka berfaedah support dan logistik dapat lebih sigap menjangkau warga. Ambulans dapat kembali menggunakan jalur terdekat untuk membawa pasien, sementara penduduk dapat kembali mengakses pelayanan kesehatan dan pemerintahan tanpa kudu memutar jauh.
Selama jalan tetap tertutup, penduduk di tiga desa tersebut kudu menghadapi jarak nan lebih panjang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Di tengah masa tanggap darurat pascagempa, akses jalan menjadi salah satu kebutuhan mendesak agar pengedaran logistik dan pelayanan kemanusiaan tidak semakin tersendat.(MM/E-4)









English (US) ·
Indonesian (ID) ·