Jelang Muktamar Ke-35 NU, Forum Ulama Nahdliyin Serukan Tolak 'Serangan Fajar'

4 jam yang lalu 2

loading...

Menjelang Muktamar ke-35 NU, FUN menggelar Halaqah Jam’iyyah Nahdlatul Ulama bertema Menyelamatkan Marwah Syuriyah dan Kemuliaan Ahlul Halli Wal Aqdi (AHWA) di Jakarta, Jumat (21/8/2026). Foto/Dok. SindoNews

JAKARTA - Menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) , Forum Ulama Nahdliyyin (FUN) menggelar Halaqah Jam’iyyah Nahdlatul Ulama bertema Menyelamatkan Marwah Syuriyah dan Kemuliaan Ahlul Halli Wal Aqdi (AHWA) di Jakarta, Jumat (21/8/2026). Halaqah bermaksud menyatukan komitmen berbareng para pengurus syuriyah dan tanfidziyah, serta puluhan pengasuh pesantren agar Muktamar besok mengedepankan otoritas moral, keteladanan, serta komitmen untuk menolak risywah.

Ketua FUN KH Mujib Qulyubi mengatakan, tujuan utama sistem AHWA ini untuk menghindari politik uang . PBNU sendiri sudah mengeluarkan Pedoman Penyampaian Usulan Nama Calon AHWA secara resmi ada lima poin. Tapi dalam penyelenggaraan ditengarahi banyak pelanggaran, baik prosedural maupun substansial. ”Indikasi “tembak di tempat” dan paket komplit dari lembaga luar adalah bukti penyimpangan nyata,” katanya kepada wartawan. Baca juga: Menyambut Muktamar Gerakan Antikorupsi

Ketua Tanfidziyah PWNU DKI KH Samsul Ma’arif menjadi salah satu narasumber halaqah. Ia mengatakan ishlah nan beberapa waktu lampau berjalan antara Rais Aam Kiai Miftahul Ahyar dan Ketum PBNU Gus Yahya hanyalah lips service.

“Ishlah itu hanya formalistik, di permukaan, sampai sekarang sejatinya tidak pernah ada ishlah antara keduanya. Bahkan dalam satu kesempatan berbareng dengan Gus Yahya, DKI diminta mundur menjadi tuan rumah muktamar, namun saya menolaknya,” ujarnya.

Sementara itu, KH Adnan Anwar menekankan agar calon Rais Aam dan Ketum PBNU memahami geopolitik kekinian. “Tidak seperti sekarang, ngurus Ba’alawi saja tidak bisa, malah memihak. Indonesia itu dijadikan sasaran setelah Iran. Islam di Indonesia dianggap sebagai gangguan ekonomi mereka, makanya pesantren mulai di-bully. Beda sekali dengan era Kiai Said Aqil Siradj, saat itu pengkaderan jalan, universitas tumbuh, dan seterusnya,” jelasnya.

Selengkapnya