Pasar saham Indonesia tetap dalam fase pemulihan rentan jelang reviu indeks MSCI.(Dok. Antara)
KONDISI pasar saham Indonesia dinilai tetap berada dalam fase pemulihan nan cukup rentan menjelang hasil tinjauan indeks MSCI nan dijadwalkan pada Rabu (12/8). Peneliti Center of Reform on Economics (CoRE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menyebut kerentanan ini terjadi setelah pasar mengalami koreksi dalam pada paruh pertama tahun ini.
Yusuf menjelaskan bahwa tekanan dari investor asing tetap terasa signifikan. Hal ini terlihat dari posisi jual bersih (net sell) nan cukup besar secara year to date, meskipun dalam beberapa pekan terakhir mulai muncul periode beli bersih (net buy).
“Di tengah kondisi tersebut, pergerakan IHSG di kisaran 6.200 hingga 6.300 tetap cukup volatil, terutama lantaran pasar sedang menunggu hasil rebalancing MSCI,” ujar Yusuf saat dihubungi, Selasa (11/8).
Untuk reviu Agustus ini, Yusuf memproyeksikan dampaknya bakal condong netral hingga sedikit negatif. Hal ini dikarenakan MSCI sebelumnya telah mengonfirmasi status freeze untuk saham Indonesia tetap berlaku. Dengan status tersebut, tidak ada penambahan konstituen baru, peningkatan foreign inclusion factor, maupun migrasi ke segmen indeks nan lebih tinggi.
Ia menambahkan bahwa akibat reviu kali ini kemungkinan tidak sebesar reviu pada Mei lalu. Namun, akibat pengurangan berat tetap membayangi, terutama bagi saham-saham nan berpotensi tidak lagi memenuhi periode pemisah kapitalisasi pasar nan disesuaikan dengan free float, seperti CPIN.
Lebih lanjut, Yusuf menekankan bahwa konsentrasi utama penanammodal saat ini adalah sejauh mana reformasi pasar modal nan diumumkan pemerintah betul-betul diimplementasikan. Transparansi kepemilikan di atas satu persen, perbaikan kalkulasi free float, serta pengawasan perdagangan menjadi poin krusial nan dipantau pasar.
“Kalau perbaikan tersebut bisa dibuktikan secara konsisten, kepercayaan terhadap pasar Indonesia sebagai Emerging Market bakal semakin kuat,” katanya. Sebaliknya, jika penerapan dinilai tidak memadai, akibat penurunan status ke Frontier Market tetap terbuka.
Menurutnya, penurunan status tersebut bakal membawa akibat nan jauh lebih serius terhadap arus modal asing dalam jangka panjang. MSCI sendiri telah memberikan sinyal bahwa pertimbangan nan lebih substantif bakal dilakukan menjelang reviu November mendatang. (Z-10)









English (US) ·
Indonesian (ID) ·