Jet Pribadi Diburu Orang Kaya RI, Oh Ternyata Ini Pemicunya!

  • Whatsapp

Jakarta, CNBC Indonesia – Banyak kalangan menengah ke atas Indonesia saat ini memutuskan untuk pergi ke luar negeri saat terjadi ledakan kasus Covid-19 dengan beragam alasan. Selain wisata vaksin, juga banyak perjalanan dari WNI pergi ke luar negeri saat untuk alasan medis, termasuk menggunakan pesawat carter atau jet pribadi.

“Pastinya ada yang berangkat juga terutama karena ada yang khawatir dengan faskes (fasilitas kesehatan) di sini,” kata Ketua Umum DPP Asosiasi Travel Agent Indonesia (Astindo) Pauline Suharno, kepada CNBC Indonesia.

Ia bilang bila membandingkan dengan eksodus akibat lockdown India beberapa waktu lalu, Pauline melihat jumlah WNI yang keluar negeri lebih sedikit. Namun, kebutuhan untuk medis juga tidak bisa bisa dianggap sepele. Apalagi faskes yang ada di Jakarta sekalipun kerap kewalahan dalam menanganinya.


“Kalau dulu kan orang-orang kaya ini berobat dengan mudahnya ke Singapura, Malaysia, sekarang fasilitas kesehatan kita sudah hampir kolaps masuk RS susah sekali,” sebut Pauline.

Limpahan mobilitas WNI ke luar negeri membuat agen travel menjadi lebih sibuk, tidak salah jika ada peningkatan penjualan, setidaknya pada bulan lalu.

“Untuk perjalanan ke luar negeri ada sedikit dampak untuk travel agent, bisa terlihat dari penjualan bulan Juni pun sudah mulai membaik dibanding bulan Mei, kita masih tunggu data penjualan bulan Juli ini,” jelasnya.

Pemesan Jet Pribadi Carter Melonjak

Pemesanan sewa jet pribadi melonjak saat kasus Covid-19 di Indonesia meledak belakangan ini. Selain tujuan domestik untuk keperluan medis, juga ada permintaan yang pesat untuk destinasi internasional karena disewa oleh para ekspatriat yang meninggalkan Indonesia karena khawatir ledakan kasus Covid-19.

Menurut salah satu maskapai penyewaan jet pribadi Indo Jet, layanan jet milik perusahaan juga digunakan untuk warga negara asing pulang ke negara asal, terutama saat kasus Covid-19 di Indonesia sedang menanjak.

Direktur PT Indojet Sarana Aviasi, Stefanus Gandi menjelaskan penambahan slot terbang selama PPKM Darurat ini naik 25%. Sebelumnya rata-rata per bulan melakukan 4-6 kali penerbangan, kini bisa melonjak naik di atas 7 – 8 penerbangan.

“Tren sekelompok masyarakat pelan-pelan mengalihkan perjalanan dari business class ke private jet, dengan alasan dari segi keamanan karena kalau di business class masih harus berinteraksi banyak orang orang banyak,” jelasnya

Stefanus menjelaskan dalam masa PPKM Darurat yang dimulai pada 3 Juli 2021 kemarin juga mengalami peningkatan pemesanan jasa jet pribadi. Paling tidak ada 25% slot tambahan penerbangan dengan porsi untuk tujuan domestik yang dominan untuk keperluan perjalanan keluarga.

[Gambas:Video CNBC]

(hoi/hoi)

Pos terkait