Jakarta, CNBC Indonesia - Kapal induk Amerika Serikat (AS) USS Abraham Lincoln dijadwalkan bakal segera merapat di Thailand pada pekan depan. Kedatangan kapal nan membawa sekitar 5.000 pelaut dan marinir ini dilakukan setelah pengerahan berkepanjangan di Timur Tengah nan memicu kekhawatiran atas memburuknya kondisi bentuk dan mental kru di atas kapal.
Mengutip Bangkok Post, Rabu (26/08/2026), kapal raksasa tersebut sudah melakukan perjalanan sejak Sabtu dan belum pernah bersandar di pelabuhan mana pun selama lebih dari 250 hari. Menurut personil parlemen dari Partai Demokrat di Washington, lama ini telah memecahkan rekor modern untuk hari-hari berturut-turut sebuah kapal berada di lautan lepas.
Seorang pejabat Thailand nan enggan disebutkan namanya membeberkan bahwa ribuan pasukan AS tersebut bakal berada di Thailand untuk beristirahat. "Istirahat dan rekreasi setelah perjalanan laut mereka nan panjang," jelasnya dimuat laman nan sama.
Sebenarnya, tanggal dan letak pasti pelabuhan tempat mereka bersandar memang belum diumumkan secara resmi. Tetapi kapal induk AS biasanya berakhir di Sattahip, Chon Buri.
Sebelumnya, laporan perdana mengenai pendaratan di pelabuhan ini awalnya bocor melalui pesan teks nan dikirim oleh personil kru kepada family mereka nan kemudian dibagikan kepada USA Today. Pihak Angkatan Laut AS sendiri menolak untuk mengonfirmasi kunjungan tersebut dengan argumen keamanan operasional sementara ahli bicara Angkatan Laut Kerajaan Thailand juga belum memberikan tanggapan apa pun.
Sebagai latar belakang, USS Abraham Lincoln berangkat dari San Diego pada 21 November 2025 untuk pengerahan nan diperkirakan hanya berjalan selama enam bulan. Namun, misi tersebut diperpanjang hingga lebih dari sembilan bulan, dengan satu-satunya pemberhentian pelabuhan sebelumnya hanya di Guam pada pertengahan Desember tahun lalu.
Kondisi ekstrem ini memicu kemarahan 15 senator AS nan menuntut jawaban dari Menteri Pertahanan Pete Hegseth. Mereka menyoroti laporan krisis kekurangan air dan makanan, pipa ledeng nan rusak, kelelahan parah, hingga krisis kesehatan mental nan mencakup tuduhan bahwa banyak pelaut mencoba melompat ke luar kapal.
Merespons tekanan tersebut, Hegseth dengan tegas menepis laporan tentang kondisi nan memburuk tersebut dan menyebutnya sebagai sebuah kekeliruan. Di sisi lain, Presiden AS Trump justru semakin menyulut kemarahan family militer dengan komentar pedasnya mengenai penugasan tersebut.
(tps/sef)
[Gambas:Video CNBC]

14 jam yang lalu
1








English (US) ·
Indonesian (ID) ·