Ilustrasi(MI/Denny Susanto)
TUJUH kabupaten/kota di Provinsi Kalimantan Selatan telah menetapkan status Siaga Darurat seiring semakin meluasnya kebakaran rimba dan lahan (karhutla) di wilayah tersebut. Ribuan masker dibagikan kepada masyarakat guna mengantisipasi gangguan kesehatan, akibat kabut asap akibat Karhutla.
Tujuh wilayah nan sekarang berstatus Siaga Darurat Karhutla meliputi Kota Banjarbaru, Kabupaten Banjar, Barito Kuala, Tapin, Hulu Sungai Selatan, Tanah Bumbu dan Hulu Sungai Utara.
"Sudah tujuh wilayah nan menetapkan status siaga darurat karhutla. Terbaru adalah Hulu Sungai Utara, lantaran memang belakangan marak kejadian di sana," ungkap Kepala BPBD Kalsel, Ronny Eka Saputra, Jumat (21/8).
Diakuinya karhutla telah menyebabkan serangan kabut asap di sejumlah wilayah dan wilayah terparah adalah Kota Banjarbaru dan perbatasan Tanah Laut dan Banjar.
"Saat ini semua sumber daya kita kerahkan untuk mengatasi karhutla termasuk melibatkan pihak swasta lintas sektor seperti perkebunan, pertambangan, kehutanan khususnya di wilayah ring satu Bandara Syamsudin Noor," tutur Ronny di sela-sela aktivitas pembagian masker kepada masyarakat.
Pantauan Media Indonesia, kabut asap tebal tetap menyelimuti sejumlah wilayah di Kalsel, terutama pagi hari menjelang siang. Guna mengantisipasi gangguan kesehatan, akibat kabut asap akibat karhutla ini, sejumlah SKPD di Kalsel membagikan ribuan masker kepada masyarakat pengguna jalan.
Pembagian masker berjalan di sepanjang ruas jalan Ahmad Yani dan Trikora di wilayah Kota Banjarbaru dan Kabupaten Banjar.
"Harapan kami dengan adanya pembagian masker cuma-cuma ini dapat membantu masyarakat mengurangi akibat kabut asap nan beberapa hari terakhir cukup parah," ujarnya.
BPBD Kalsel mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap akibat kabut asap. Masyarakat diharapkan menggunakan masker saat beraktivitas di luar rumah, terutama ketika kondisi udara dan jarak pandang memburuk.
Pada bagian lain, Kamis (20/8) petang mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi di Banjarmasin, melakukan tindakan demo sebagai sikap protes dan kekecewaan mahasiswa atas keahlian pemerintah wilayah dalam penanganan karhutla di depan Gedung DPRD Kalsel. Dalam pertemuan dengan sejumlah personil DPRD Kalsel dan pemangku kepentingan mahasiswa menilai jawaban nan disampaikan tetap normatif dan belum menunjukkan langkah konkret untuk menangani karhutla nan meluas serta berakibat terhadap masyarakat.
Ketua BEM Sekolah Tinggi Ilmu Hukum (Stisha) Banjarmasin, Rizky, menegaskan pihaknya tidak puas dengan respons nan disampaikan wakil rakyat dan Pemda dalam pertemuan tersebut. Mahasiswa meminta langkah konkret disertai tenggat waktu mengenai penanganan karhutla di Kalsel. (DY/E-4)









English (US) ·
Indonesian (ID) ·