Kejadian Aneh di RI, Pabrik Tekstil Lama Bertumbangan-Muncul yang Baru

53 menit yang lalu 5

Jakarta, CNBC Indonesia - Industri tekstil dan produk tekstil (TPT) Indonesia tetap bakal mencatat pertumbuhan pada 2026. Ketua Umum Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filament Indonesia (APSyFI) Redma Gita Wiraswasta apalagi memproyeksikan industri TPT dapat tumbuh sekitar 5% hingga akhir tahun.

Namun, pertumbuhan tersebut menyimpan paradoks. Kinerja industri nan positif saat ini terutama ditopang oleh masuknya investasi baru, sementara sejumlah investasi lama tetap tertekan akibat tidak bisa bersaing dengan produk impor murah.

"Secara statistik, kuartal I-2026 dan kuartal II-2026 angkanya juga tetap tumbuh, apalagi kita bisa proyeksi akhir tahun bisa tumbuh sekitar 5%. Pertumbuhan investasi baru menjadi aspek utama," kata Redma kepada CNBC Indonesia, dikutip Selasa (11/8/2026).

Namun, menurutnya, nomor pertumbuhan industri tidak sepenuhnya menggambarkan kondisi industri TPT secara keseluruhan. Sebab, pertumbuhan tersebut belum memperhitungkan investasi nan lenyap akibat penutupan pabrik maupun mesin-mesin produksi nan sudah dijual alias di-scrap.

"Tapi pertumbuhan kan tidak menghitung investasi nan lenyap akibat pabrik tutup, mesin-mesin nan di-scrap alias dijual, dan dalam kalkulasi kasarnya dari sisi tenaga kerja, investasi baru ini belum bisa mengimbangi jumlah pekerja nan di PHK sebelumnya," ujarnya.

Redma menjelaskan kondisi tersebut terjadi lantaran adanya investasi baru, khususnya dari penanaman modal asing (PMA), nan masuk dengan membawa permesinan modern. Di sisi lain, industri nan sudah lebih dulu beraksi justru menghadapi tekanan akibat persaingan dengan peralatan impor murah dalam beberapa tahun terakhir.

"Jadi kondisi paradoks ini disebabkan oleh investasi asing (PMA) nan baru masuk dengan permesinan modern. Namun disisi lain, investasi nan ada sebelumnya justru lebih dulu tertekan, akibat tidak bisa bersaing dengan peralatan impor murah dalam 5 tahun terakhir," tutur dia.

Meski demikian, jam kerja di sebagian besar perusahaan TPT saat ini disebut sudah kembali normal. Hanya saja, tingkat produksi tetap disesuaikan dengan keahlian masing-masing perusahaan dalam memperoleh bahan baku.

"Jam kerja sebagian besar perusahaan sudah dalam kondisi normal, meskipun jumlah produksi disesuaikan dengan keahlian perusahaan dalam membeli bahan baku," ungkapnya.

Redma mengatakan, pihaknya sekarang tidak lagi menghitung secara unik jumlah pabrik TPT nan telah tutup. Ia menuturkan, memang tetap terdapat penutupan pabrik, tetapi skalanya tidak sebesar nan terjadi pada 2023-2024.

"Kami sudah tidak lagi menghitung pabrik nan tutup, memang ada beberapa, tapi tidak sebanyak penutupan pabrik seperti tahun 2023-2024. Toh juga meski banyak pabrik tutup, pemerintah tetap merasa kondusif dan kinerjanya baik-baik saja," kata Redma.

Dia memperkirakan paradoks tersebut tetap bakal berlanjut. Penutupan pabrik tetap berpotensi terjadi, terutama pada perusahaan nan mempunyai keahlian finansial terbatas, dan kudu menghadapi persaingan produk impor maupun kejuaraan di pasar ekspor.

"Paradoks ini bakal tetap terus terjadi, penutupan pabrik tetap bakal terus ada, terutama bagi perusahaan dengan keahlian finansial pas-pasan dan kudu berjibaku bersaing dengan peralatan impor, alias nan pasar ekspornya diambil oleh Vietnam dan India," ujarnya.

Di sisi lain, investasi baru diperkirakan tetap masuk lantaran Indonesia mempunyai pasar domestik nan besar. Struktur biaya produksi di dalam negeri juga dinilai tetap cukup kompetitif untuk mendukung persaingan di pasar ekspor.

"Tapi di sisi lain juga, investasi baru dengan mesin-mesin modern khususnya dari PMA tetap bakal terus masuk, lantaran pasar domestik kita nan sangat besar, dan struktur biaya nan tetap cukup kompetitif untuk bersaing di pasar ekspor," jelas Redma.

Meski prospeknya tetap terbuka, Redma menilai terdapat dua persoalan nan perlu dibenahi pemerintah agar investasi baru dapat terus masuk dan industri lama tetap bertahan.

"Dua perihal nan tetap bakal jadi halangan investasi adalah proses perizinan, dan pemerintah nan secara konsisten tetap memelihara persaingan nan tidak setara di pasar domestik," pungkasnya.

(dce) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya