(MI/Kisar)
KEKERINGAN ekstrem akibat puncak musim tandus dilaporkan semakin meluas di Kota Depok, Jawa Barat. Kondisi ini berakibat pada lebih dari 10.000 jiwa nan tersebar di 63 kelurahan dan 11 kecamatan. Akibat krisis air bersih nan kian parah, penduduk terpaksa mengantre support air alias mencari sumber pengganti ke sungai untuk kebutuhan mandi dan mencuci.
Wilayah bagian barat dan selatan Kota Depok menjadi wilayah nan paling terdampak. Kecamatan Bojongsari, Sawangan, dan Beji tercatat sebagai titik paling rawan. Di wilayah-wilayah tersebut, sumur penduduk mulai mengering, sementara debit Sungai Ciliwung serta 17 anak sungai di sekitarnya menyusut drastis.
Distribusi Air Bersih Gratis
Pemerintah Kota Depok melalui Palang Merah Indonesia (PMI) bekerja sama dengan PDAM Tirta Asasta aktif mendistribusikan air bersih menggunakan truk tangki. Bantuan ini diberikan secara cuma-cuma untuk meringankan beban masyarakat nan terdampak kekeringan maupun gangguan prasarana air.
"Penyaluran support air bersih ke wilayah nan terdampak kekeringan dan krisis air diberikan secara gratis. PDAM Tirta Asasta bekerja sama dengan PMI Kota Depok mendistribusikan air bersih tanpa memungut biaya bagi penduduk nan sumurnya kering," ujar Sekretaris PDAM Tirta Asasta Kota Depok, Hariadi, Senin (24/8/2026).
Hariadi menjelaskan bahwa truk tangki air dikirim langsung ke titik-titik letak penduduk nan mengalami krisis. Sejak tandus melanda pada periode Juni hingga Agustus 2026, puluhan ribu liter air bersih telah disalurkan untuk memenuhi kebutuhan warga.
Wilayah Terdampak Paling Parah:
- Kelurahan Kemiri Muka (Kecamatan Beji)
- Kelurahan Cipayung dan Cipayung Jaya (Kecamatan Cipayung)
- Kelurahan Bedahan (Kecamatan Sawangan)
- Kecamatan Bojongsari
Prosedur Permohonan Bantuan
Pihak PDAM mengimbau penduduk nan mengalami kekeringan untuk segera melapor agar support dapat segera dikirimkan. Masyarakat dapat berkoordinasi melalui pengurus RT, RW, alias pihak kelurahan setempat untuk pendataan.
"Jika masyarakat memerlukan support air bersih, dapat segera berkoordinasi dengan abdi negara setempat alias menghubungi jasa darurat dan posko siaga resmi. Kami mengirimkan truk tangki berkapasitas 4.000 hingga 8.000 liter untuk kebutuhan mandi dan memasak," tambah Hariadi.
Waspada Kebakaran dan Hemat Air
Selain krisis air, pemerintah juga mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran lahan dan permukiman. Cuaca nan sangat kering membikin percikan api sekecil apa pun berisiko sigap membesar dan susah dikendalikan.
"Kami mengimbau penduduk agar menghemat penggunaan air bersih untuk menghadapi puncak musim tandus ini. Selain itu, tingkatkan kewaspadaan terhadap ancaman kebakaran lantaran kondisi lingkungan nan sangat kering saat ini," pungkasnya. (I-2)









English (US) ·
Indonesian (ID) ·