Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mengungkap persoalan bahan baku tetap menjadi salah satu aspek nan mempengaruhi daya saing industri makanan dan minuman (mamin) Indonesia di pasar global.
Sekretaris Direktorat Jenderal Industri Agro Kemenperin Yulia Astuti mengatakan, sejumlah bahan baku nan menjadi kebutuhan utama industri mamin perlu diperkuat dari sisi pasokan dalam negeri. Namun, penguatan tersebut kudu diikuti dengan kesiapan nan berkepanjangan serta standar dan kualitas nan sesuai kebutuhan industri.
"(Tantangan dari persaingan produk mamin RI di pasar global) Bahan baku. Jadi ada beberapa bahan baku nan memang menjadi kebutuhan utama industri mamin dalam negeri, nah itu memang mempengaruhi sekali mengenai dengan daya saing kita dari luar," kata Yulia kepada CNBC Indonesia, Selasa (11/8/2026).
"Jadi memang perlu ada mengenai dengan penguatan lokal untuk bahan baku, tapi kudu diperhatikan ada tadi kontinuitasnya, kesiapan secara terus-menerus, standar dan kualitas daripada bahan baku tersebut," sambungnya.
Untuk menjaga keseimbangan kebutuhan industri, pemerintah telah mengatur sejumlah impor bahan baku melalui neraca komoditas (NK). Menurut Yulia, pengaturan tersebut perlu disesuaikan dengan kebutuhan permintaan dan pasokan bahan baku.
"Perlu makanya ada NK ya, untuk beberapa bahan baku industri kan ada sudah diatur di neraca komoditas. Nah itu nan memang perlu sesuai dengan kebutuhan demand-supply daripada bahan baku tersebut," ujar dia.
Di sisi lain, Kemenperin menilai impor tetap diperlukan untuk bahan baku nan menjadi kebutuhan utama industri. Yulia mengatakan, impor bahan baku telah diatur pemerintah melalui sistem neraca komoditas, termasuk dengan kemudahan untuk bahan baku nan memang dibutuhkan industri.
"Kalau impor bahan baku. jika memang menjadi salah satu ini kan sudah ada pengaturan semua ya. nan menjadi concern adalah impor bahan baku itu dipermudah, nan bahan baku nan menjadi utama industri, tapi nan impor untuk produk jadi kan, nan memang kudu mengikuti patokan nan sudah ada," jelas Yulia.
Dengan kondisi tersebut, penguatan bahan baku lokal tetap menjadi perhatian Kemenperin untuk mendukung daya saing industri mamin. Namun, kebutuhan bahan baku nan belum dapat dipenuhi dari dalam negeri tetap diatur melalui sistem impor nan sudah tersedia.
Ekspor Mamin RI Kalah Jauh dari Thailand
Sebelumnya, Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag) Dyah Roro Esti Widya Putri mengungkap posisi Indonesia dalam persaingan ekspor makanan dan minuman (mamin) di area ASEAN. Meski masuk jejeran negara dengan ekspor mamin terbesar di kawasan, Indonesia tetap menghadapi kesenjangan dengan sejumlah negara pesaing, terutama Thailand.
Roro mengungkapkan, nilai ekspor makanan olahan Indonesia pada 2025 tercatat sebesar US$6,25 miliar. Angka tersebut tetap jauh di bawah Thailand nan mencapai US$17,69 miliar.
Sementara itu, Vietnam mencatat ekspor makanan olahan sebesar US$8,89 miliar dan Singapura US$6,5 miliar.
"Kita kudu sering memandang gitu ya, gimana negara-negara tetangga kita juga mengedepankan sektor F&B, dengan niat untuk kemudian belajar juga, dan dengan niat untuk mencari tahu apa saja ataupun langkah-langkah apa saja nan perlu kita tempuh untuk bisa semakin maju," kata Roro dalam aktivitas Indonesia F&B Trade Promotion Forum di Auditorium Kemendag, Jakarta, Selasa (11/8/2026).
Dengan demikian, nilai ekspor makanan olahan Indonesia tetap terpaut sekitar US$11,44 miliar dari Thailand. Nilai ekspor makanan olahan Thailand apalagi nyaris tiga kali lipat dibandingkan Indonesia.
Roro menilai posisi Indonesia nan tetap berada di ranking keempat ASEAN, menunjukkan tetap terdapat ruang besar untuk meningkatkan daya saing industri mamin nasional.
"Nah jika seumpama mereka bisa, kenapa Indonesia tidak bisa. Ada hal-hal tentunya nan perlu kita persiapkan berbareng dan semangat kerjasama dan gotong royong itulah nan dibutuhkan," ujarnya.
(dce)
[Gambas:Video CNBC]

1 jam yang lalu
1








English (US) ·
Indonesian (ID) ·