Kenapa Indonesia Menderita saat Kekuatan Badminton Dunia Makin Merata?

1 jam yang lalu 2

Jakarta, CNN Indonesia --

"Saat ini, kekuatan bulu tangkis di bumi itu semakin merata. Tidak seperti dulu. Lawan-lawan nan sebelumnya tidak diperhitungkan, sekarang sudah bisa juara."

Itulah kalimat nan sering terdengar mulai akhir 2000-an, dasawarsa 2010-an, hingga saat ini ketika era 2020-an sudah tujuh tahun berjalan.

Dari segi kondisi nyata, memang betul adanya. Jepang mulai kembali berjaya, India juga kembali punya pemain elite level dunia. Hingga munculnya pemain-pemain sensasional dari negara nan bukan kekuatan utama bulu tangkis seperti Carolina Marin dari Spanyol hingga Tai Tzu Ying dari Taiwan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun kenapa dalam kondisi ketika kekuatan bulu tangkis makin merata, justru Indonesia nan sering menderita?

Sebagai contoh, saat kekuatan bulu tangkis dinilai banyak orang makin merata, China seolah tidak pernah merasakan akibat negatifnya.

China tetap punya juara demi juara dari waktu ke waktu nan berjalan. China tidak pernah sunyi gelar di Kejuaraan Dunia dan Olimpiade.

Seperti contohnya di Kejuaraan Dunia 2026. China sempat dalam kondisi genting ketika Feng Yanzhe/Huang Dongping dan Liu Shengshu/Tan Ning kalah di dua nomor awal. Namun akhirnya tren juara bumi itu tetap bersambung lantaran Liang Weikeng/Wang Chang menyelamatkan wajah China.

Sementara Indonesia, sering kali menderita dengan beragam cerita kegagalan di dalamnya. Ketika kalimat 'persaingan sekarang makin merata' lampau muncul sebagai salah satu argumen nan dianggap terasa nyata.

Yang terkini, Indonesia kembali melanjutkan puasa gelar di Kejuaraan Dunia. Sejak Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan menjadi juara bumi 2019, Indonesia belum punya juara bumi lagi hingga saat ini.

Durasi tersebut adalah rentang terlama Indonesia tak punya juara bumi setelah era puasa 10 tahun ketika Icuk Sugiarto juara bumi 1983 dan Indonesia baru punya juara bumi lagi lewat Joko Suprianto, Susy Susanti, dan Ricky Soebagdja/Rexy Mainaky di 1993.

Badminton - BWF World Championships - Indira Gandhi Indoor Stadium, New Delhi, India - August 19, 2026 Indonesia's Jonatan Christie in action during his round of 32 match against Singapore's Jia Heng Teh REUTERS/Bhawika ChhabraJonatan Christie jadi salah satu angan Indonesia memutus puasa gelar di Kejuaraan Dunia namun tersingkir sigap di New Delhi. (REUTERS/Bhawika Chhabra)

Saat itu, ada empat jenis Kejuaraan Dunia ketika Indonesia tidak bisa meraih gelar. Namun saat itu, format nan digunakan adalah format dua tahun sekali.

Saat ini, Kejuaraan Dunia berjalan tiap tahun selain tahun Olimpiade. Dengan demikian, sudah lima jenis Kejuaraan Dunia ketika Indonesia tak memenangkan gelar. Mengesampingkan jenis 2021 ketika Pelatnas PBSI tidak mengirim pemain, artinya sudah empat Kejuaraan Dunia, tidak ada juara dari Indonesia ialah pada 2022, 2023, 2025, dan 2026.

Dan nan lebih miris, kegagalan Indonesia adalah jenis kegagalan nan memang terjadi bukan lantaran kalah di pertempuran fase akhir seperti semifinal dan final. Kegagalan Indonesia adalah kegagalan ketika tak punya banyak pasukan dan jagoan nan bisa diharapkan untuk memenangkan kejuaraan.

Sebelum Kejuaraan Dunia dimulai, Indonesia hanya punya dua pemain nan masuk unggulan papan atas namalain empat besar ialah Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri dan Jonatan Christie. Di bawah itu ada Putri Kusuma Wardani dan Sabar Karyaman/M. Reza Pahlevi nan masuk unggulan 10 besar.

Ganda campuran Amri Syahnawi/Nita Violina Marwah meraih lencana perunggu Kejuaraan Dunia BWF 2026 usai kalah dari wakil China pada babak semifinal, di India, Sabtu (22/8).Amri/Nita bisa membikin kejutan dengan menembus babak semifinal Kejuaraan Dunia 2026. (Dok. PBSI)

Karena itu, ketika satu per satu unggulan tumbang, otomatis kesempatan meraih gelar juara makin melayang dan asa Indonesia merebut gelar juara bumi hanya bisa digantungkan pada label kejutan.

Nyatanya, kejutan lewat Amri Syahnawi/Nita Violina Marwah hanya memperkuat sampai semifinal. Indonesia tanpa wakil di babak final nan otomatis kegagalan punya juara bumi sudah diketahui sebelum laga final digelar.

Baca lanjutan buletin ini di laman berikut >>>


Selengkapnya