Kisah Cut Aura Maghfirah Putri Menembus SNU Korea Selatan

3 jam yang lalu 4
Kisah Cut Aura Maghfirah Putri Menembus SNU Korea Selatan Cut Aura Maghfirah Putri.(MI/Amiruddin Abdullah Reubee)

JARAK ribuan kilometer nan memisahkan Aceh dengan Korea Selatan, melintasi Samudera Hindia dan Selat Malaka, tidak menjadi penghalang bagi mereka nan haus bakal pengetahuan pengetahuan. Semangat inilah nan terpancar dari sosok Cut Aura Maghfirah Putri, alumnus Fakultas Keperawatan Universitas Syiah Kuala (USK), nan sekarang tengah berjuang di salah satu universitas terbaik dunia.

Perjalanan Cut Aura menuju Seoul National University (SNU), Korea Selatan, bukan sekadar pencapaian akademik biasa. Ini buah dari ketekunan panjang dan keberanian untuk keluar dari area nyaman. Saat ini, mahasiswi asal Banda Aceh tersebut tengah mempersiapkan diri memasuki semester keempat program magister di Department of Community Health Nursing, College of Nursing, SNU, melalui jalur danasiwa LPDP.

Jejak Akademik Gemilang di USK

Sebelum menapakkan kaki di Negeri Ginseng, Cut Aura menorehkan prestasi membanggakan di tanah air. Ia menyelesaikan pendidikan S1 Keperawatan di USK pada tahun 2022 hanya dalam waktu 3,6 tahun dengan predikat cumlaude. Tak berakhir di situ, dia merampungkan pendidikan pekerjaan Ners pada 2023 dengan IPK nyaris sempurna, ialah 3,92.

Selama masa kuliah, wanita nan berkawan disapa Cut ini aktif di beragam organisasi seperti BEM Fakultas Keperawatan, GERGANA, dan Gen-A. Pada tahun 2021, dia berbareng timnya sukses meraih hibah PKM-PM dari Kemendikbudristek. Prestasi inilah nan membawanya mempresentasikan hasil pengabdian masyarakat pada the 14th International Nursing Conference di Korea Selatan pada 2023, nan kemudian membuka jalan bagi angan besarnya.

"Perawat juga dapat berkontribusi dalam mencegah penyakit dan meningkatkan kesehatan sejak tingkat komunitas. Karena itu, saya memilih melanjutkan pendidikan bagian Community Health Nursing agar bisa bekerja berbareng masyarakat dan memberikan akibat lebih luas," tutur Cut Aura.

Perjuangan di Balik Beasiswa LPDP

Mendapatkan danasiwa LPDP bukanlah perkara instan bagi Cut. Ia melakukan persiapan selama satu tahun di tengah kesibukan menjalani koas di rumah sakit. Ia kudu pandai membagi waktu antara agenda dinas nan padat, persiapan tes IELTS, hingga penulisan esai.

Bahkan, waktu senggang saat giliran dinas malam di rumah sakit dia manfaatkan sepenuhnya untuk belajar. Ikhtiar luar biasa tersebut akhirnya membuahkan hasil manis; dia dinyatakan lolos seleksi LPDP dalam satu kali percobaan.

Tantangan Bahasa dan Budaya di Korea

Tantangan sesungguhnya dimulai saat dia tiba di Korea Selatan sebagai salah satu dari sedikit mahasiswa internasional di College of Nursing SNU. Meski telah mempelajari bahasa Korea hingga tingkat menengah sebelum berangkat, istilah akademik dan kecepatan pengajar mengajar sempat membuatnya kewalahan.

"Begitu betul-betul masuk ke kelas, rasanya seperti menonton drama Korea tanpa subtitle," ungkapnya mengenang masa-masa awal kuliah.

Untuk mengatasinya, Cut meminta izin kepada guru besar untuk merekam materi kuliah. Sesampainya di asrama, dia menerjemahkan rekaman dan catatan tersebut secara mandiri. Selain hambatan bahasa, dia juga kudu beradaptasi sebagai satu-satunya mahasiswi berhijab di jurusannya. Hal ini sering kali mengundang rasa penasaran penduduk lokal nan belum memahami tradisi Islam, nan kemudian dia jadikan ruang untuk berganti cerita secara positif.

Membawa Inovasi untuk Tanah Air

Pengalaman di Korea Selatan memberikan perspektif baru bagi Cut, terutama mengenai penemuan sistem kesehatan masyarakat dan pencegahan penyakit tidak menular seperti hipertensi. Sebagai penerima danasiwa LPDP, dia merasa mempunyai tanggung jawab besar untuk membawa pulang pengetahuan nan didapat.

"Saya berambisi kesempatan ini menjadi bekal untuk kembali ke tanah air, kemudian memberikan kontribusi nyata untuk peningkatan kesehatan masyarakat di wilayah asal saya," pungkasnya. (I-2)

Selengkapnya