Kisah Inspiratif Penyandang Disabilitas Engkus Kusnadi Tinggalkan Profesi Gurandil

55 menit yang lalu 1
Kisah Inspiratif Penyandang Disabilitas Engkus Kusnadi Tinggalkan Profesi Gurandil Ilustrasi(Antara)

BAGI Engkus Kusnadi, ketergantungan pada orang lain adalah kata nan tidak pernah ada dalam kamus hidupnya. Pria berumur 47 tahun ini memegang teguh prinsip untuk menjalani hidup dengan keringatnya sendiri, meski kudu berhadapan dengan keterbatasan bentuk nan nyata. Baginya, hidup adalah perjuangan nan kudu dimenangkan dengan usaha, bukan belas kasihan.

"Hidup teh rupanya enggak susah-susah amat," ujar Engkus dengan nada optimis pada Rabu (12/8). Kalimat sederhana ini lahir dari perjalanan panjang nan penuh liku, mulai dari kegelapan lubang tambang hingga menjadi penggerak ekonomi bagi organisasi difabel di lingkungannya.

Jauh sebelum dia dikenal sebagai sosok berdikari seperti sekarang, Engkus pernah melewati fase hidup nan sangat ekstrem. Pada awal tahun 2000-an, himpitan ekonomi dan minimnya akses pendidikan membawanya ke pedalaman rimba Jawa Barat. Di sana, dia bekerja sebagai gurandil alias penambang emas liar.

Mengikuti jejak sang kakak, Engkus mini kudu merayap masuk ke dalam lubang mendatar sempit sejauh belasan meter. Dengan hanya berbekal pahat, palu, dan karung kosong, dia menantang maut di bawah tanah. Ancaman bentuk tidak hanya datang dari potensi longsor, tetapi juga kondisi medis rawan nan disebut hipoksia.

"Tantangan bentuk ekstrem menanti lantaran kudu merayap turun di tengah ancaman kekurangan oksigen," kenangnya. Untuk memperkuat hidup di dalam lubang, golongan penambang biasanya memasang kipas angin besar di mulut lubang nan mengalirkan udara melalui plastik tipis. Setelah berhari-hari meringkuk kedinginan di hutan, mereka kudu keluar membawa karung seberat 40 kilogram berisi batu kuarsa mengandung emas.

Menyadari akibat kerja nan tidak manusiawi dan tingginya potensi bentrok antar-kelompok, Engkus akhirnya memutuskan untuk berakhir dari pekerjaan rawan tersebut dan mencari jalan hidup nan lebih bermartabat.

Membangun Martabat Melalui Roda Dua

Keputusan besar kembali diambil Engkus saat dia memutuskan untuk menikah. Kala itu, dia hanya mempunyai duit Rp3.000 di sakunya. Namun, kepercayaan bahwa rezeki telah diatur oleh Sang Pencipta membuatnya bekerja acapkali lipat lebih keras.

"Saya malu jika ada orang nan ngasih ke saya lantaran saya disabilitas. Saya mau orang malah bangga ke saya. Saya mau membuktikan, orang seperti kami juga mampu," tegasnya.

Perlahan, hasil kerja kerasnya membuahkan hasil berupa motor bebek empat tak berwarna perak. Karena keterbatasan fisiknya, Engkus memodifikasi tangki bensin dengan alas kain dan jaket hitam sebagai tempat duduk tambahan saat mengantar penumpang. Meski tidak bisa berasosiasi dengan ojek daring lantaran hambatan izin kendaraan, dia tetap setia melayani pengguna di pangkalan ojek Cileunyi Wetan sejak pukul 05.00 pagi.

Transformasi Melalui Program "This Ability" PHE ONWJ

Titik kembali kesejahteraan family Engkus terjadi ketika dia berasosiasi dengan golongan Hasna Mandiri, sebuah golongan difabel nan mendapatkan pembinaan intensif dari Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java (PHE ONWJ) melalui program berjudul This Ability.

Di bawah pendampingan PHE ONWJ, Engkus dan kawan-kawannya tidak lagi hanya mengandalkan sektor jasa, tetapi mulai merambah bumi UMKM. Mereka memproduksi beragam produk berkualitas, antara lain:

  • Kecimpring
  • Keripik pisang
  • Wedang jahe
  • Tumbler berbahan dasar bambu
  • Kertas daur ulang

Dampak ekonomi dari program ini sangat signifikan. Jika dulu pendapatan Engkus dari mengojek hanya berkisar Rp5.000 hingga Rp20.000 per hari, sekarang penghasilannya meningkat tajam hingga ratusan persen. Perubahan ini terlihat nyata dari kondisi rumahnya; lantai nan dulunya berasaskan tanah sekarang telah berganti menjadi keramik bersih.

Menuju Kemandirian Berkelanjutan

Saat ini, PHE ONWJ mendampingi sekitar 15 penyandang disabilitas (tunadaksa dan disabilitas mental) dalam golongan Hasna Mandiri. Program ini terus berinovasi dengan membekali mereka keahlian ramah lingkungan, seperti pembuatan kerajinan bambu dan pengolahan limbah kertas.

Melalui langkah integratif ini, Engkus Kusnadi telah membuktikan bahwa keterbatasan bentuk bukanlah penghalang untuk berdiri tegak. Dari seorang mantan gurandil nan bertaruh nyawa, sekarang dia menjadi ketua golongan nan membawa angan bagi sesama rekan difabel untuk menatap masa depan dengan penuh percaya diri. (BY/I-1)


Selengkapnya