Kisah Jagoan Condet yang Gugur Diberondong Marsose di tengah Sungai Ciliwung

  • Whatsapp

JAKARTA – Pada tahun 1912 saat Landrad di Mesteer Cornelis (sekarang pasar Jatinegara) memberlakukan peraturan yang berkaitan dengan keagrariaan yang pada zaman itu lebih dikenal dengan istilah Tuan Tanah. Jaan Ameen , Tuan Tanah untuk sub distrik Pasar Rebo kerap melayangkan pengaduan ke Landrad perihal tunggakan upeti hasil bumi penduduk Condet dinilai terlalu manja.

Pengaduan itu berakibat disitanya rumah-rumah dan tanah-tanah penduduk Condet, bahkan tak sedikit rumah penduduk yang dibakar. Aksi sewenang-wenang ini semakin merajalela. Penduduk mulai marah, dan puncak kekecewaan penduduk terjadi pada tahun 1914.

“Gubernemen menjatuhkan sanski pada seorang penduduk Condet untuk membayar denda sejumlah 7.20 Gulden atau kalau tidak pihak Gubernemen akan menyita semua miliknya. Penduduk Condet bertambah marah,”ujar Yahya A Saputra, budayawan Betawi.

Para penduduk yang mencoba memperjuangkan hak-haknya ditangkapi dan disiksa para marsose. Entah sudah berapa jumlah penduduk yang ditangkapi. Namun, tindakan penyiksaan itu terus berlanjut.

Salah satu tokoh yang pernah disiksa Belanda adalah bang Latip, seorang warga Condet yang tergolong nekat. Serdadu Belanda merendamnya di rawa-rawa Asem Baris (sekarang pool taksi Gamya) selama sehari semalam tanpa diberi makan dan minum.

Malamnya, di tengah suasana yang masih panas , Entong Gendut -seorang putra kampung Condet-membubarkan pertunjukan topeng yang diadakan Jaan Ameen di landhuis Tanjung Oost (sekarang Gedong tinggi).

Tindakan Entong Gendut membuat Jaan Ameen tersinggung. Ia mengadukannya pada pihak Gubernemen. Pengaduan tersebut langsung ditanggapi pihak pejabat landrad Meester Cornelis yang langsung memanggil Entong Gendut untuk datang menghadap, tapi Entong Gendut tidak mau.

“Dipimpin oleh Demang dan mantri polisi, sejumlah marsose dikerahkan untuk “memberi pelajaran” pada pria berjuluk Raja Muda ini,”ucap Yahya.

Di rumahnya, di Batu Ampar, Entong Gendut duduk santai menyambut utusan gubernemen itu. Ada bang Awab dan bang Maliki, karib Entong Gendut dengan puluhan pemuda yang telah bersiap dengan hunusan goloknya.

Utusan Gubernemen bertanya pada Entong Gendut, mengapa ia berani membubarkan pertunjukan topeng yang sedang berlangsung.

“Demi agama yang saya anut” katanya singkat tapi lugas.

“Di sana marak praktek perjudian”, sambungnya geram.

Pos terkait