Galaksi "Mata Hitam" tertangkap dalam gambar komposit baru ini dari Teleskop Luar Angkasa Hubble dan JWST.(NASA, CSA, ESA, F. Belfiore (European Southern Observatory – Jerman), J. Lee (Space Telescope Science Institute), A. Leroy (The Ohio State University), dan D. Thilker (The Johns Hopkins University); Pengolahan: Gladys Kober (NASA/Catholic University of Ame)
DUA teleskop antariksa jagoan dunia, Teleskop Antariksa Hubble dan Teleskop Antariksa James Webb (JWST), bekerja-sama menghasilkan potret komposit menakjubkan dari Galaksi Mata Hitam (Black Eye Galaxy). Citra campuran ini mengungkap keelokan serta karakter struktur galaksi spiral nan secara resmi dikenal sebagai Messier 64 (M64) tersebut.
Galaksi Mata Hitam berjarak sekitar 17 juta tahun sinar dari Bumi dan terletak di rasi bintang Coma Berenices. Ditemukan pertama kali pada tahun 1779, galaksi ini berada cukup terisolasi dari galaksi-galaksi lain di sekitarnya dan terkenal dengan tampilan unik mirip "tatapan mata" nan memikat. Tampilan unik ini dibentuk oleh jalur debu gelap tebal nan menyerap sinar di bagian depan intinya nan sangat terang.
Untuk menghasilkan gambar komposit nan terperinci ini, para astronom menggabungkan info pengamatan gelombang inframerah-dekat dan inframerah-tengah milik JWST dengan info sinar ultraviolet, tampak, serta inframerah-dekat nan ditangkap oleh Hubble.
Selain julukannya nan ikonik, Messier 64 dikenal luas di bumi astronomi lantaran mempunyai pola pergerakan internal nan sangat tidak biasa. Berbeda dengan galaksi spiral pada umumnya, gas di wilayah luar galaksi ini berputar ke arah nan berlawanan dengan arah putaran gas dan bintang di wilayah bagian dalam. Perilaku asing ini diduga kuat merupakan hasil dari peristiwa penggabungan antara M64 dan galaksi satelit mini pada miliaran tahun lalu.
Hasil pencitraan berbareng ini membuktikan efektivitas kombinasi instrumen antariksa modern. Kolaborasi antara keahlian penemuan spektrum sinar tampak milik Hubble dan ketajaman inframerah milik JWST tidak saling menggantikan, melainkan saling melengkapi dalam membedah kejadian rumit di alam semesta.
Penggabungan info dari kedua teleskop antariksa ini memberikan pemahaman nan lebih komprehensif bagi para intelektual dalam mempelajari dinamika pembentukan bintang serta struktur internal galaksi-galaksi unik di ruang angkasa. (Space/Z-2)









English (US) ·
Indonesian (ID) ·