Ilustrasi.(ANTARA FOTO/Yudhi Mahatma/ss/14)
KOMANDO Operasi (Koops) TNI Habema membantah adanya dugaan intimidasi oleh personel Pos Wuloni terhadap umat Stasi Santa Sisilia Wuloni, Paroki Santo Petrus Ilaga, Dekanat Moni-Puncak Jaya, Keuskupan Timika, Papua Tengah. Berdasarkan hasil penelusuran internal, Koops TNI Habema memastikan tidak ada pengarahan maupun tindakan prajurit di lapangan nan bermaksud menekan pihak gereja alias umat setempat untuk menyampaikan ucapan terima kasih kepada TNI dan Pemerintah Republik Indonesia.
Kepala Penerangan Koops TNI Habema, Letkol Inf M. Wirya Arthadiguna, menegaskan bahwa lembaga militer menempatkan gereja dan tokoh kepercayaan sebagai mitra krusial dalam merawat kedamaian masyarakat Papua.
"Kami menghormati gereja, para pemimpin agama, dan seluruh umat. Kehadiran TNI di tengah masyarakat kudu memberikan rasa aman, bukan rasa takut. Karena itu, kami selalu menekankan kepada setiap prajurit untuk membangun komunikasi dengan langkah nan humanis, menghargai masyarakat, adat, serta kehidupan keagamaan di Papua," ujar Wirya dalam keterangannya, Rabu (12/8/2026).
Wirya menjelaskan, ucapan terima kasih nan sempat disampaikan penduduk berakar dari partisipasi personel TNI dalam membantu pembaharuan Gereja Stasi Santa Sisilia Wuloni dan perbaikan sarana sekolah dasar di wilayah tersebut. Ia menegaskan bahwa support teritorial tersebut murni corak kepedulian terhadap akomodasi publik dan tidak pernah disertai tuntutan hadiah berupa support politik maupun pernyataan publik dari masyarakat.
"Bagi kami, membantu gereja dan sekolah adalah bagian dari pengabdian. Tidak ada tanggungjawab bagi masyarakat untuk membalasnya dengan pernyataan apa pun. nan terpenting adalah rumah ibadah dapat digunakan dengan baik, anak-anak dapat belajar dengan layak, dan hubungan TNI dengan masyarakat terus dibangun atas dasar saling percaya dan saling menghormati," lanjutnya.
Lebih lanjut, Wirya menegaskan pihaknya terbuka terhadap beragam aspirasi dan masukan dari masyarakat sebagai bahan pertimbangan berkepanjangan agar tugas pembinaan teritorial di pedalaman Papua melangkah semakin profesional. Menurut Wirya, stabilitas keamanan nan berkepanjangan tidak semata bertumpu pada penjagaan wilayah, melainkan pada terciptanya rasa kondusif bagi penduduk dalam beragama dan beraktivitas sehari-hari.
"Kepercayaan masyarakat tidak dapat diminta alias dipaksakan, tetapi kudu tumbuh dari sikap, ketulusan, dan pengabdian nan dirasakan masyarakat sendiri," pungkas Wirya.
Sebelumnya, Pemuda Katolik Komisariat Daerah (Komda) Papua Tengah, memprotes keras atas tindakan abdi negara keamanan terhadap umat Katolik Stasi Santa Sisilia Wuloni, Paroki Santo Petrus Ilaga, Dekanat Moni-Puncak Jaya, Keuskupan Timika, Papua Tengah.
Ketua Komda Pemuda Katolik Papua Tengah Tino Mote mengaku memperoleh info disertai video singkat pada Minggu (9/8). Aparat keamanan bersenjata memasuki laman Gereja Sisilia Wuloni. Aparat memaksa umat menyampaikan ‘terima kasih’ kepada abdi negara Pos Wuloni lantaran membantu pihak gereja mengecat gedung gereja dan membantu umat stasi.
“Cara-cara intimidatif seperti ini malah menambah ketakutan umat Katolik di wilayah Dekanat Moni-Puncak Jaya, Keuskupan Timika. Selama ini penduduk Kabupaten Puncak, termasuk umat Katolik sudah menderita dan trauma dengan situasi kamtibmas nan tidak kondusif. Kalau pola pendekatan keamanan seperti dialami umat stasi Wuloni maka jalan kedamaian sebagaimana dicita-citakan Presiden berbareng jejeran pemerintah pusat dan wilayah semakin jauh dari harapan,” kata Tino. (H-4)









English (US) ·
Indonesian (ID) ·