Kopi Kerinci Go Global: Dari Petani, Perempuan, Lingkungan hingga Gen Z

1 jam yang lalu 2
 Dari Petani, Perempuan, Lingkungan hingga Gen Z Ilustrasi(MI/Yose Hendra )

UPAYA membawa kopi specialty Kerinci ke pasar dunia tidak lagi cukup hanya mengandalkan kualitas rasa. Di kembali secangkir kopi, terdapat persoalan petani, lingkungan, pemberdayaan perempuan, teknologi, izin perdagangan hingga perubahan style hidup generasi muda. Persoalan tersebut mengemuka dalam Seminar Internasional “Petani Kopi Go Global” Part 10 nan digelar Koperasi Produsen Petani Alam Korintji Internasional (ALKO), Kamis (13/8). 

Seminar mengangkat tema “Positioning of Indonesian Kerinci Specialty Coffee in the World Trade II” dan “The Opportunities of Gen Z’s Lifestyle Shifts in Influencing the Global Economic Order”, dengan konsentrasi Coffee Agroforestry and Women Empowerment Issue. Kegiatan berjalan secara hybrid, diikuti petani, pelaku usaha, stakeholder, komunitas, akademisi dan penikmat kopi, baik secara langsung maupun daring.

Sejumlah narasumber datang membahas rumor nan saling berkaitan, antara lain Bagas Hasporo mengenai akibat kebijakan deforestasi Uni Eropa, Katya Groska mengenai kesempatan pasar kopi Indonesia di Inggris, Herlina mengenai hilirisasi kopi, Agung Wibowo mengenai agroforestri dan pemberdayaan perempuan, Prayono Atyanto mengenai diplomasi kopi, serta Asep Muhammad Awaludin mengenai Gen Z dan teknologi. 

Namun, obrolan tidak berakhir pada paparan para narasumber. Pertanyaan dan tanggapan peserta, termasuk Tumino, mahasiswa, serta perwakilan komunitas, membawa pembahasan dari rumor perdagangan dunia ke persoalan nan dihadapi langsung di tingkat kebun. 

Kopi Bukan sekadar Biji 

Salah satu pendapat nan mengemuka disampaikan Agung Wibowo. Ia mengingatkan bahwa kopi tidak semata-mata berbincang tentang biji, proses sangrai dan cita rasa. 

"Kopi itu hanya persoalan biji kopi disangrai, ditumbuk, diberi air, itu kopi. Tapi cerita di kembali itu tidak kalah serunya,” kata Agung.

Cerita tersebut mencakup petani nan menghasilkan kopi, lingkungan tempat kopi dibudidayakan, wanita nan terlibat dalam rantai produksi, hingga gimana produk tersebut akhirnya diterima konsumen dunia. Agung juga mempertanyakan visi ALKO, “Preserves Nature and Empowers People”, apakah hanya menjadi semboyan alias betul-betul menjadi arah organisasi. 

Menurut dia, visi tersebut kudu diwujudkan melalui aktivitas nyata. 

"Visi dan misi ALKO itu bukan sekadar jargon, basa-basi iklan nan asal tulis, tetapi ALKO secara serius telah mencoba menerjemahkan dan mengartikulasikan itu menjadi kegiatan-kegiatan operasional organisasi,” ujarnya.

Perempuan Sudah Terlibat, tetapi Kepemilikan tetap Terbatas 

Dalam pemaparannya, Agung menyoroti posisi wanita dalam ekosistem kopi.

Perempuan terlibat sejak penanaman, pemeliharaan, panen, pascapanen, perdagangan alias trader, training hingga manajemen. Namun, keterlibatan tersebut belum sepenuhnya berbanding lurus dengan kepemilikan dan pengambilan keputusan. Ia menyebut wanita nan secara resmi mempunyai alias mengelola upaya kopi tetap berada pada kisaran 20–30 persen. ALKO kemudian berupaya memperluas ruang partisipasi wanita melalui pembentukan kelompok-kelompok perempuan. 

Menurut Agung, golongan tersebut krusial agar wanita mempunyai ruang untuk menyampaikan pendapat secara lebih bebas. Pada 2026, ALKO telah membentuk lima golongan perempuan, masing-masing sekitar 10 anggota. 

Mahasiswi Bertanya: Bagaimana Perempuan Bisa Jadi Pemilik Kebun? 

Persoalan tersebut kemudian mendapat respons dari seorang peserta nan tengah menempuh pendidikan S1 Budidaya Tanaman Perkebunan.

Ia mengatakan dirinya dipersiapkan untuk menjadi pengelola kebun. Namun, menurutnya, wanita tidak cukup hanya dibekali keahlian teknis produksi. 

“Tidak hanya memerlukan keahlian produksi, tetapi juga akses lahan, modal, teknologi, dan posisi dalam mengambil keputusan,” ujarnya. 

Ia kemudian mengusulkan pertanyaan gimana corak pemberdayaan nan paling efektif agar nomor keterlibatan alias kepemilikan wanita nan tetap berada di kisaran 20–30 persen dapat bergerak menuju 50:50 dalam kepemilikan kebun. 

Pertanyaan itu membikin pembahasan pemberdayaan wanita bergeser dari sekadar jumlah wanita nan bekerja di sektor kopi menjadi persoalan nan lebih mendasar: siapa nan mempunyai aset, siapa nan mempunyai akses modal, siapa nan menguasai teknologi dan siapa nan menentukan keputusan. 

Satu Kilogram Sampah Ditukar Satu Bungkus Kopi

Pemberdayaan masyarakat dalam ekosistem kopi juga dikaitkan dengan pelestarian lingkungan. Agung memaparkan salah satu aktivitas sosial ALKO berupa pembersihan jalur pendakian dengan konsep satu kilogram sampah ditukar dengan satu balut kopi bubuk. 

Selain mengumpulkan sampah, ALKO mendorong pemanfaatan sampah plastik menjadi beragam produk berbobot guna, seperti tas, tempat tisu, topi hingga pakaian. Program tersebut menjadi bagian dari upaya ALKO menerjemahkan konsep preserve nature ke dalam aktivitas nan dapat dirasakan masyarakat. 

Prayono: Branding Kopi Indonesia Belum Cukup

Sementara itu, Prayono Atyanto menilai upaya membangun gambaran kopi Indonesia di pasar bumi tetap memerlukan penguatan. Menurut dia, promosi dan branding kopi Indonesia memang sudah dilakukan, tetapi belum cukup untuk memenangkan persaingan. 

“Branding sudah dilakukan sama teman-teman, tapi rupanya belum cukup,” ujar Prayono.

Karena itu, kopi Indonesia perlu mempunyai identitas nan lebih kuat, termasuk narasi mengenai produk nan ramah lingkungan dan mempunyai nilai bagi kesehatan. 

Menurut Prayono, tujuan branding bukan hanya membikin konsumen mengenal kopi Indonesia, tetapi memenangkan hati dan pikiran konsumen. Ia juga menempatkan kopi sebagai bagian dari diplomasi Indonesia lantaran kopi telah menjadi produk nan dikenal luas dan menjadi bagian dari style hidup masyarakat dunia. 

Soroti Aturan Deforestasi 

Isu lingkungan kemudian berjumpa dengan persoalan perdagangan dunia melalui paparan Bagas Hasporo mengenai akibat kebijakan deforestasi Uni Eropa terhadap Indonesia. Perubahan izin tersebut menunjukkan bahwa pasar internasional semakin memperhatikan gimana sebuah komoditas diproduksi, dari mana asalnya dan gimana dampaknya terhadap lingkungan. Bagi kopi Kerinci, tuntutan tersebut menjadi tantangan sekaligus peluang.

Sistem budi daya nan memperhatikan lingkungan, pencatatan asal-usul produk dan keterlacakan rantai pasok menjadi semakin krusial bagi kopi nan mau memasuki pasar premium. 

Asep Muhammad Awaludin kemudian membawa pembahasan pada perubahan style hidup Gen Z. Generasi muda tidak hanya mempertimbangkan nilai dan rasa ketika memilih produk. Mereka juga semakin memandang cerita, nilai, pengalaman, teknologi dan akibat lingkungan. Perubahan perilaku tersebut menjadi kesempatan bagi kopi Kerinci untuk membangun hubungan nan lebih dekat dengan konsumen generasi baru. 

Teknologi dapat digunakan untuk memperkenalkan siapa petaninya, dari mana kopinya berasal, gimana kopi dibudidayakan, gimana proses pascapanennya hingga gimana produk tersebut sampai ke konsumen. 

Dengan demikian, teknologi dan traceability tidak hanya menjadi perangkat administratif, tetapi juga dapat menjadi bagian dari langkah kopi Indonesia membangun kepercayaan konsumen.

Keberlanjutan Harus Diuji dari Kebun 

Pandangan mengenai praktik ramah lingkungan juga disampaikan Bang Dion dari komunitas. Ia membagikan pengalaman menerapkan pendekatan budidaya nan lebih ramah lingkungan. Menurutnya, pendekatan tersebut krusial untuk keberlanjutan kebun dalam jangka panjang. 

"Menurut saya efektif, lantaran jangka panjang dan lingkungan lebih bagus,” ujar Dion.

Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa rumor keberlanjutan nan dibahas dalam seminar mulai diterjemahkan ke tingkat praktik.

Pertanyaan Peserta Membawa Diskusi ke Persoalan Nyata

Sesi obrolan nan melibatkan Tumino dan peserta lainnya memperlihatkan bahwa persoalan kopi Kerinci tidak hanya berada pada level ekspor dan perdagangan internasional. Ada pertanyaan tentang gimana petani memperoleh faedah lebih besar, gimana wanita mendapatkan akses terhadap kepemilikan kebun, gimana lingkungan tetap dijaga, serta gimana kopi Indonesia dapat membangun hubungan dengan konsumen generasi baru. 

Dari obrolan tersebut, terlihat bahwa “go global” bukan semata-mata soal menjual kopi sebanyak-banyaknya ke luar negeri. 

Kopi Kerinci kudu mempunyai fondasi kuat di tingkat hulu: petani nan berdaya, kebun nan berkelanjutan, wanita nan memperoleh akses, sistem produksi nan transparan, serta teknologi nan bisa menghubungkan cerita di kebun dengan konsumen dunia. Pada akhirnya, perjalanan kopi Kerinci menuju pasar dunia membawa pekerjaan rumah nan kudu dimulai dari tingkat lokal.

Sebab, sebelum kopi berbincang kepada dunia, persoalan di kebun kudu terlebih dulu diselesaikan; siapa nan menanam, siapa nan memiliki, gimana alam dijaga, dan siapa nan mendapatkan nilai dari setiap cangkir kopi. (YH/E-4)

Selengkapnya