Korsel "Rayu" RI Kembangkan PLTN, Pede Mampu Jadi Mitra Utama

1 jam yang lalu 3

Jakarta, CNBC Indonesia - Indonesia dan Korea Selatan membuka kesempatan memperkuat kerja sama di sektor daya nuklir, seiring dorongan kedua negara untuk memperluas kemitraan di bagian daya bersih dan teknologi strategis. Korea apalagi menyatakan kesiapannya menjadi salah satu mitra utama Indonesia jika pemerintah memutuskan melanjutkan rencana pengembangan daya nuklir.

Konselor sekaligus Kepala Bagian Politik di Kedutaan Besar Korea Selatan di Indonesia, Uhm Taeho, mengatakan pembahasan mengenai daya nuklir perlu ditempatkan dalam kerangka kemitraan pertumbuhan hijau nan tengah dibangun kedua negara.

Menurutnya, pengembangan daya nuklir bukan keputusan nan sederhana lantaran memerlukan investasi besar dan komitmen jangka panjang.

"Kita kudu menyadari bahwa investasi di bagian daya nuklir merupakan keputusan nan sangat besar. Ini adalah keputusan jangka panjang," katanya dalam workshop Indonesian Next Generation Journalist Network on Korea (IKJN) di Jakarta, Rabu (26/8/2026).

Uhm menegaskan keputusan mengenai apakah Indonesia bakal menempuh jalur daya nuklir sepenuhnya berada di tangan Indonesia. Menurut dia, pemerintah, masyarakat, perusahaan, dan seluruh pemangku kepentingan di Indonesia perlu membahasnya secara menyeluruh sebelum mengambil keputusan.

"Saya percaya bakal ada pembahasan internal nan serius dan substantif mengenai perihal ini," katanya.

Meski demikian, Korea Selatan secara terbuka menawarkan diri sebagai salah satu mitra potensial andaikan Indonesia memutuskan mengembangkan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN).

Korea Tawarkan Pengalaman 26 PLTN

Uhm menilai daya nuklir merupakan salah satu sumber daya strategis nan memerlukan kerja sama dengan mitra nan mempunyai pengalaman dan rekam jejak kuat. Pasalnya, pemilihan mitra bakal menentukan keberlanjutan industri nuklir dalam jangka panjang.

"Saya hanya mau menekankan bahwa jika dan ketika Indonesia memutuskan untuk menjalankan rencana pengembangan daya nuklir, saya betul-betul beranggapan bahwa Korea merupakan salah satu mitra nan ideal," ujar Uhm.

"Energi nuklir, pertama-tama, merupakan sumber daya nan sangat strategis dan menjadi bagian nan perlu kita kerja samakan. Dengan siapa Anda bekerja sama bakal sangat memengaruhi keberlanjutan industri tersebut dalam jangka panjang."

Korea Selatan, lanjut dia, mempunyai modal pengalaman nan cukup besar untuk ditawarkan kepada Indonesia. Negeri Ginseng tersebut saat ini mengoperasikan 26 PLTN nan memenuhi sekitar sepertiga kebutuhan listrik nasional.

Uhm juga menekankan rekam jejak keselamatan industri nuklir Korea Selatan. Ia mengatakan negaranya tidak pernah melaporkan kejadian besar dalam pengoperasian pembangkit-pembangkit tersebut.

"Kami tidak pernah melaporkan kejadian besar dalam pengoperasian pembangkit-pembangkit listrik tenaga nuklir tersebut. Korea mempunyai sejarah nan panjang dan rekam jejak nan sangat baik dalam mengoperasikan pembangkit listrik tenaga nuklir secara aman," ujarnya.

Tak hanya mengandalkan pembangkit nuklir konvensional, Korea Selatan juga mengembangkan teknologi Small Modular Reactor (SMR). Teknologi tersebut menjadi salah satu bagian nan disebut Uhm sebagai kelebihan Korea dalam pengembangan daya nuklir.

Menurutnya, pengalaman Korea tidak hanya berasal dari pengoperasian pembangkit nuklir di dalam negeri. Korea juga mempunyai pengalaman mengembangkan pembangkit nuklir di luar negeri.

"Selain itu, berbareng Republik Ceko dan Uni Emirat Arab (UEA), kami mempunyai reputasi dalam menyelesaikan pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir nan kami bangun di luar negeri secara kondusif dan tepat waktu," ujarnya.

Dengan beragam pengalaman tersebut, Uhm menilai Indonesia mempunyai argumen untuk mempertimbangkan Korea Selatan sebagai mitra andaikan nantinya memutuskan masuk lebih jauh ke sektor nuklir.

"Jika seluruh perihal tersebut digabungkan, sangat masuk logika bagi Indonesia untuk memandang Korea sebagai salah satu mitra tepercaya dalam kerja sama daya nuklir ke depan," katanya.

Sikap Indonesia

Dari sisi Indonesia, pengembangan daya nuklir juga ditempatkan dalam konteks nan lebih luas, ialah kewenangan negara untuk memanfaatkan teknologi nuklir untuk tujuan tenteram sekaligus mendukung agenda nonproliferasi senjata nuklir.

Kepala Pusat Strategi Kebijakan Kawasan Asia Pasifik dan Afrika Kementerian Luar Negeri, Vahd Nabyl Achmad Mulachela, mengatakan rumor nuklir dalam pernyataan berbareng Indonesia dan Korea Selatan muncul dalam lebih dari satu konteks.

"Terkait daya nuklir, jika kita kembali memandang teks pernyataan bersama, sebenarnya kata 'nuklir' disebut lebih dari sekali dalam konteks nan berbeda," kata Nabyl.

Menurutnya, konteks pertama adalah daya nuklir sebagai sumber daya alternatif. Sementara konteks kedua berangkaian dengan proliferasi senjata nuklir.

"Pertama, mengenai daya nuklir sebagai sumber daya alternatif. Kedua, dalam konteks proliferasi senjata nuklir," ujarnya.

Namun, Indonesia memandang kedua rumor tersebut tidak dapat dipisahkan. Kebijakan pengembangan daya nuklir untuk kebutuhan sipil, menurut Nabyl, tetap melangkah beriringan dengan komitmen Indonesia terhadap nonproliferasi senjata nuklir.

Ia menjelaskan bahwa posisi Indonesia terhadap nonproliferasi nuklir juga tecermin dalam arsip kemitraan strategis kedua negara.

Indonesia, kata Nabyl, memahami pentingnya pembatasan senjata nuklir. Pada saat nan sama, Indonesia tetap menekankan kewenangan seluruh negara untuk mendapatkan akses terhadap teknologi nuklir andaikan digunakan untuk tujuan damai.

"Sebab, mengenai perihal kedua, ialah nonproliferasi nuklir, nan juga ditekankan dalam arsip kemitraan strategis, posisi Indonesia adalah bahwa meskipun Indonesia memahami pentingnya pembatasan senjata nuklir, kami tetap menekankan kewenangan semua negara untuk memperoleh akses terhadap teknologi nuklir untuk tujuan damai," ujarnya.

Energi nuklir untuk pembangkitan listrik, lanjutnya, merupakan salah satu corak pemanfaatan teknologi nuklir untuk tujuan tenteram tersebut.

"Oleh lantaran itu, dari perspektif kami, kerja sama dengan Korea Selatan di sektor ini dapat memenuhi kedua tujuan tersebut, terutama jika dilihat dalam kerangka Special Comprehensive Strategic Partnership ini," ujar Nabyl.

Adapun dalam pernyataan berbareng tentang pembentukan Special Comprehensive Strategic Partnership (SCSP) antara Indonesia dan Korea Selatan pada April lalu, Presiden Prabowo Subianto dan Lee Jae Myung mengakui bahwa transisi daya sangat krusial untuk mencapai netralitas karbon, dan menegaskan pentingnya memperkuat kerja sama demi mencapai bauran daya nan praktis dan seimbang.

Terkait perihal tersebut kedua negara sepakat untuk menjajaki kesempatan kerja sama pengembangan nuklir.

Saat ini, PLTN telah masuk dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034 dengan kapabilitas sebesar 500 megawatt (MW).

(luc/luc) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya