Krisis BBM di Negara Kaya Minyak Kian Parah, Presiden Mulai Digoyang

1 jam yang lalu 2
ARTICLE AD BOX

Jakarta, CNBC Indonesia - Krisis bahan bakar minyak (BBM) dilaporkan kian meluas dan melumpuhkan beragam kota besar di Rusia akibat rentetan serangan drone serta rudal Ukraina nan menghancurkan sepertiga kapabilitas kilang minyak negara tersebut. Kelangkaan ini memicu frustrasi massal di kalangan penduduk sipil hingga memaksa abdi negara kepolisian mencabut senjata guna meredam keributan antrean di sejumlah SPBU.

Mengutip laporan The Guardian, Selasa (7/7/2026), kejadian keributan massal sempat terekam kamera pada Sabtu malam di kota Ust-Ordynsky, Siberia, saat sebuah mobil mewah menerobos antrean panjang penduduk nan telah menunggu selama lima jam. Kampanye serangan udara jarak jauh Ukraina sukses memangkas produksi bensin Rusia hingga 25% secara tahunan, menyebabkan kelangkaan parah di tengah musim libur musim panas dan masa panen raya pertanian.

Dampak dari krisis ini memaksa Moskow menjajaki opsi darurat untuk mengimpor BBM dari Belarus, Kazakhstan, hingga India, sebuah langkah luar biasa bagi negara nan berstatus sebagai salah satu eksportir minyak terbesar dunia. Selain itu, pemerintah Rusia juga sedang mempertimbangkan untuk melonggarkan standar kualitas bahan bakar agar perusahaan dapat memproduksi bensin dan diesel dengan oktan nan lebih rendah demi memenuhi kebutuhan pasar.

"Kejenuhan massal terhadap perang sekarang telah berubah menjadi kejengkelan massal," ungkap Andrei Kolesnikov, seorang analis politik nan berbasis di Moskow, seraya menambahkan bahwa protes besar tetap jarang terjadi lantaran ketatnya kontrol politik Kremlin.

Kolesnikov menilai kelangkaan ini juga memukul sektor transportasi logistik di mana puluhan truk kontainer dilaporkan terdampar selama berhari-hari di pinggiran kota Chita lantaran kehabisan bahan bakar. Industri pikulan taksi dan transportasi daring di Rusia juga mencatatkan penurunan jumlah perjalanan hingga 20% akibat para pengemudi takut tidak mendapatkan bensin setelah mengantar penumpang jarak jauh.

"Saya tidak pernah membayangkan kita bakal sampai pada titik menjatah bahan bakar," keluh Anastasiya, seorang tenaga kerja perusahaan logistik di kota Irkutsk. "Ini seperti cerita nan saya dengar tentang Uni Soviet, ketika orang-orang kudu mengantre demi mendapatkan makanan."

Di wilayah Rusia selatan dan resor Laut Hitam, pihak berkuasa sampai kudu menerjunkan patroli pasukan Cossack untuk menjaga ketertiban umum di area SPBU dari amuk massa. Fenomena ini juga menghidupkan kembali pasar gelap di Telegram dan situs Avito nan menjual bensin dengan nilai selangit, serta memicu tren wisata BBM ke luar negeri.

Imbas krisis ini mulai menggerogoti tingkat kepercayaan publik terhadap Presiden Vladimir Putin, di mana lembaga survei independen Levada Center mencatat tingkat kepuasan pemimpin tersebut merosot lima persen menjadi 74% pada bulan Juni. Di televisi pemerintah, para propagandis Kremlin secara blak-blakan meminta masyarakat untuk memperkuat menghadapi situasi susah ini demi mendukung operasi militer.

"Mari kita ingat apa nan sudah sukses kita lewati. Tidak ada bensin sekarang? Generasi saya ingat betul ketika makanan kudu dijatah," cetus Margarita Simonyan, Pemimpin Redaksi RT, dalam program mingguannya di saluran Rossiya 1.

Simonyan menyerukan kepada semua orang untuk tetap tenang meskipun situasi nan dihadapi saat ini diakuinya sangat berat. Dirinya menambahkan bahwa masyarakat Rusia dipastikan bakal bisa melewati tantangan ekonomi ini tanpa keraguan sedikit pun.

(tps/luc)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya