Krisis Hunian Australia Buka Peluang Investor Indonesia

2 jam yang lalu 8
Krisis Hunian Australia Buka Peluang Investor Indonesia Chief Executive Officer CVIG Chandra Leonardi.(Dok. MI)

CAPITAL Value International Group (CVIG) menyiapkan proyek townhouse premium senilai sekitar Rp225 miliar di Roselands, Sydney, Australia, di tengah keterbatasan pasokan hunian dan tingginya kebutuhan tempat tinggal di kota tersebut.

Chief Executive Officer CVIG Chandra Leonardi mengatakan kondisi pasar perumahan Sydney menjadi salah satu argumen perusahaan terus mengembangkan kediaman tapak, terutama townhouse, nan dinilai mempunyai pasokan lebih terbatas dibandingkan apartemen maupun rumah berdiri sendiri (freestanding house).

“Di Sydney paling banyak, jika tidak apartemen alias rumah freestandingIn between antara rumah freestanding dan apartemen itu sedikit sekali supply,” kata Chandra di Jakarta, Senin (10/8).

Ia menjelaskan, proyek terbaru CVIG dikembangkan di atas lahan sekitar 2.000 meter persegi di Roselands, sekitar 20-30 menit berkendara dari area pusat upaya alias Central Business District (CBD) Sydney. Proyek tersebut terdiri atas tujuh unit townhouse dengan nilai masing-masing sekitar Rp30 miliar.

Chandra mengatakan proyek Roselands menjadi proyek pengembangan ketiga perusahaan. Dua proyek sebelumnya masing-masing terdiri atas dua unit sehingga total kediaman nan telah dan sedang dikembangkan mencapai sekitar 11 unit. CVIG juga telah mengakuisisi proyek keempat, meski proses penyelesaiannya disebut tetap berlangsung.

Menurut Chandra, konsentrasi pada townhouse tidak terlepas dari kuatnya permintaan terhadap kediaman bertanah di Sydney, baik dari pembeli lokal maupun penanammodal asing.

Ia menuturkan sejumlah townhouse nan sebelumnya dipasarkan CVIG untuk developer lain dapat terjual dalam waktu sekitar dua hingga tiga minggu. Permintaan, menurut dia, tidak hanya berasal dari pembeli luar Australia, tetapi juga konsumen domestik.

Sebagai gambaran, Chandra menyebut nilai pada salah satu area di Edmondson Park meningkat sekitar 25 persen dalam tiga tahun terakhir. Pernyataan tersebut disampaikan berasas pengalaman dan pengamatan perusahaan terhadap pasar nan mereka tangani.

CVIG memandang keterbatasan pasokan menjadi salah satu aspek utama nan menopang pasar properti Sydney. Dalam paparannya, Chandra menyebut Sydney mengalami kekurangan sekitar 187.000 rumah, sementara arus migrasi menambah kebutuhan terhadap kediaman baru.

“Orang itu kudu tinggal. Either sewa alias beli,” ujarnya.

Ia juga menilai pendatang baru umumnya tidak langsung membeli rumah setelah pindah ke Australia dan lebih dulu memasuki pasar sewa. Kondisi tersebut, menurut dia, ikut menjaga permintaan kediaman tetap tinggi.

Dalam materi nan disampaikan perusahaan, Pemerintah Australia melalui National Housing Accord menargetkan pembangunan 1,2 juta rumah baru hingga 2029. Namun, biaya konstruksi, keterbatasan tenaga kerja, dan proses perizinan disebut tetap menjadi tantangan bagi penambahan pasokan.

CVIG juga mengutip info Australian Bureau of Statistics nan menunjukkan nilai pasar properti residensial Australia sekitar A$12,8 triliun. Sementara itu, info pasar nan dicantumkan perusahaan menyebut median nilai rumah di Sydney telah melampaui A$1,2 juta dan tingkat kekosongan kediaman berada di kisaran 1,3 persen.

Chandra mengatakan kondisi tersebut membikin perusahaan memilih properti di letak dengan permintaan nan dinilai kuat dan prospek jangka panjang. Selain jarak dari pusat kota, CVIG mempertimbangkan hasil due diligence, akses, serta karakter lingkungan di sekitar proyek.

Perusahaan, kata dia, juga mencari proyek nan mempunyai kelebihan pemandangan. Dalam penilaian CVIG, water viewcity view, dan park view menjadi tiga karakter nan banyak diminati di pasar Australia.

“Ketika kita bikin bisnis, paling krusial itu sebetulnya demand. Kalau kita sudah play the game yang jelas demand-nya tinggi, buat saya itu lebih less risk,” kata Chandra.

Bidik Investor Indonesia

Selain pasar domestik Australia, CVIG membidik penanammodal Indonesia nan mau melakukan diversifikasi aset ke luar negeri.

Perusahaan menilai perubahan komposisi penanammodal asing di Australia membuka kesempatan bagi pembeli asal Indonesia. Dalam rilisnya, CVIG menyebut nilai persetujuan investasi properti residensial penanammodal Indonesia berada di kisaran A$100 juta berasas info Foreign Investment Review Board (FIRB).

Pada saat bersamaan, perusahaan menyebut investasi properti asal Tiongkok mengalami penurunan dibandingkan periode puncaknya akibat perlambatan ekonomi, tekanan pada sektor properti China, dan kebijakan pembatasan arus modal.

Menurut Chandra, penanammodal Indonesia berpotensi mengambil sebagian ruang tersebut, terutama pada segmen kediaman premium di Sydney.

Ia mengatakan kedekatannya dengan Indonesia turut menjadi argumen perusahaan menawarkan proyek-proyek Sydney kepada penanammodal dalam negeri.

“Karena saya lahir di Indonesia. For me, this is also my home,” katanya.

CVIG didirikan Chandra pada 2013. Perusahaan awalnya bergerak sebagai agensi pemasaran properti sebelum mulai mengembangkan proyek sendiri pada 2017.

Chandra mengatakan model upaya CVIG sekarang mencakup penjualan, penyewaan, dan pengembangan properti. Model tersebut membikin perusahaan tidak hanya menjual unit, tetapi juga dapat membantu penanammodal mencari penyewa sebelum proses settlement selesai.

“Kita bukan salesman doang. Kita juga penanammodal dan kita juga developer. Jadi kita lengkap. Holistic approach kita nan membikin perbedaan,” ujarnya.

Dalam transkrip bertemu pers, Chandra menyebut nilai transaksi penjualan properti nan telah ditangani perusahaan berada di sekitar A$490 juta. Ia mengatakan perusahaan lebih banyak mengukur performa penjualan berasas nilai transaksi dibandingkan jumlah unit nan terjual.

Untuk proyek Roselands, CVIG menggandeng M.A.R.S Architecture & Interior Design Australia sebagai mitra desain. Perusahaan menilai lokasi, komponen tanah, akses jalan utama, serta kualitas kreasi menjadi aspek nan menentukan daya tahan nilai sebuah properti dalam jangka panjang.

Chandra mengatakan strategi CVIG saat ini tetap berfokus pada Sydney lantaran kota tersebut dinilai mempunyai permintaan nan berasal tidak hanya dari masyarakat lokal, tetapi juga pasar internasional.

“Sydney itu salah satu global city. Jadi ketika kita bikin bisnis, paling krusial itu sebetulnya demand,” katanya. (Z-10)

Selengkapnya