Kualitas Udara Pekanbaru di Level Berbahaya

59 menit yang lalu 1
Kualitas Udara Pekanbaru di Level Berbahaya Kualitas udara di Pekanbaru Riau akibat karhutla(MI/Rudy Kurniawansyah)

KUALITAS udara di Pekanbaru, Riau, terus memburuk hingga mencapai level rawan akibat kebakaran rimba dan lahan (karhutla). Kondisi udara berada pada posisi  tingkat polusi pencemaran partikulat matter PM2.5 sebesar 318.0 mikrogram per meter kubik (µg/m³) alias rawan sejak pukul 20.00 WIB, Senin (24/8).

Hal itu berasas diagram riwayat partikulat matter PM2.5 nan dilansir dari situs resmi BMKG. Adapun sepanjang hari, kualitas udara di Kota Pekanbaru juga telah memburuk alias berada pada level Sangat Tidak Sehat.

"Malam ini Pekanbaru sangat mengerikan. Suasananya mencekam sekali penuh dengan kabut asap tebal dari Karhutla. Kita terasa tercekik susah bernafas lantaran semua (di dalam dan di luar) sudah aroma asap," kata Yola, penduduk Pekanbaru, Senin (24/8) malam.

Kondisi jalanan Kota Pekanbaru nan biasanya ramai pada malam hari berubah menjadi sedikit sepi. Sebagian besar penduduk memilih berada di dalam rumah daripada beraktivitas di luar rumah. Namun para pedagang makanan malam tetap tetap berdagang seperti biasa. 

Koordinator Jaringan Kerja Penyelamat Hutan (Jikalahari) Riau  Okto Yugo Setiyo mengatakan Presiden Prabowo Subianto semestinya mengecek masyarakat langsung. 

“ Mestinya mengecek keahlian bawahannya dan tak buru-buru mempercayai laporannya begitu saja. Faktanya seminggu terakhir justru Hotspot meningkat” kata Okto.

Mengacu pada situs IQAir selama dua minggu terakhir, 10-24 Agustus 2026 ISPU di Riau berada pada level tidak sehat hingga sangat tidak sehat akibat polusi asap. Pada 24 Agustus 2026 ISPU berada pada nomor 256 dalam kategori sangat tidak sehat.   

“Plt. Gubernur belum melakukan apa-apa untuk menjamin keselamatan korban, padahal penduduk nan terdampak polusi asap dan menderita ISPA terus bertambah mencapai 376 kasus di Agustus 2026 saja” kata Okto.

Buruknya kualitas udara sejalan dengan tingginya hotspot dan temuan Jikalahari di lapangan. Analisis Jikalahari menggunakan gambaran satelit Suomi NPP–VIIRS periode Januari–Agustus 2026 mendeteksi terdapat 4.492 hotspot di Riau dan pada periode Agustus saja, hotspot mencapai 1.083. Dari total tersebut, sebanyak 3.330 titik alias 74 persen berada di lahan gambut. Sebanyak 875 hotspot alias 19,4 persen berada dalam area konsesi perusahaan, terdiri dari 214 hotspot di konsesi HTI dan 661 hotspot di perkebunan kelapa sawit. 

Temuan lapangan Jikalahari pada 1–24 Agustus 2026 menunjukkan lahan jejak terbakar diduga berada di lima konsesi, ialah PT Arara Abadi, PT RAPP Blok Mandau, PT Tani Subur Makmur, PT Sari Lembah Subur, dan PT Teguh Karsa Wana Lestari dengan total luas sekitar 583 hektare. 

“ Sayang sekali jika Presiden hanya datang sebatas rapat mendengarkan laporan. Tinjauan langsung ke lapangan semestinya menjadi langkah krusial nan dilakukan,” pungkas dia. (H-4)

Selengkapnya