Jakarta, CNBC Indonesia - Di tengah kebijakan penurunan nilai pupuk subsidi, PT Pupuk Indonesia (Persero) justru bisa meningkatkan keahlian finansial perusahaan. Lantas, apa saja penyebabnya?
Direktur Utama Pupuk Indonesia, Rahmad Pribadi menjelaskan, sebelumnya perusahaan pernah menerapkan skema cost plus, namun tidak cukup untuk meningkatkan efisiensi. Sementara melalui sistem marked to market, Pupuk Indonesia dituntut beraksi lebih efisien agar dapat memberikan pupuk dengan nilai nan kompetitif.
"Saya mau menjelaskan dulu kenapa cost plus menjadi marked to market. Karena marked to market ini adalah sebuah kerasionalan gimana kita menjalankan usaha. Pemerintah dalam hari ini sebagai pemegang sahamnya pupuk Indonesia melalui dan antara dan juga petani-petani sebagai para penerima pupuk subsidi tadi tentu kudu bisa diyakinkan bahwa apa nan kita deliver kepada pemerintah sebagai pemegang saham maupun sebagai customer, customer-nya pupuk Indonesia itu bisa mendapatkan pupuk dengan kualitas nan baik, dengan nilai nan baik," kata Rahmad dalam Squawk Box CNBC Indonesia, Senin (24/8/2026).
Dia mengatakan efisiensi nan didapatkan dari perubahan skema tersebut tidak hanya terlihat bagi Pupuk Indonesia, melainkan juga terasa bagi petani. Hal ini bisa dilihat dari nilai tukar petani.
"Artinya untung petani nambah nggak? Nambah. Kok bisa? Karena dengan efisiensi itu kita kembalikan ke petani dalam corak penurunan nilai satuan sebesar 20%," sambungnya.
Menurut Rahmad, upaya ini merupakan sebuah terobosan dari pemerintah lantaran petani bisa memperoleh pupuk nan lebih murah dan industrinya tetap sehat, sehingga sektor pangan nasional menjadi lebih kuat. Pada dasarnya, stabilitas industri pupuk menjadi kunci ketahanan pangan di dalam negeri.
Dari sisi perusahaan, akibat perubahan skema tersebut terlihat dari pertumbuhan untung bersih setelah pajak Pupuk Indonesia nan lebih tinggi dibandingkan kenaikan pendapatan. Hal ini mencerminkan bahwa peningkatan profitabilitas tidak hanya berasal dari pertumbuhan penjualan, tetapi juga dari efisiensi nan dihasilkan melalui perubahan sistem pengelolaan bisnis. Transformasi ini menjadi salah satu aspek nan membikin Pupuk Indonesia semakin kuat secara keahlian keuangan.
Di samping itu, kesempatan ekspor pupuk tetap terbuka lebar bagi Pupuk Indonesia. Adapun pasar ekspor potensial bagi perusahaan antara lain Australia, Filipina, Thailand, dan India.
Sebagai informasi, Pupuk Indonesia menargetkan penyaluran alokasi pupuk bersubsidi sebesar 9,8 juta ton untuk petani dan pembudidaya perikanan nan diharapkan dapat terserap secara maksimal. Hingga saat ini, penyaluran pupuk tersebut telah mencapai 5,7 juta ton. Berkat itu, Pupuk Indonesia membukukan untung bersih semester I-2026 sebesar Rp 8,5 triliun.
Pada akhirnya, Rahmad menegaskan bahwa transformasi perusahaan bakal terus dilanjutkan dengan tujuan bukan hanya memperkuat keahlian Pupuk Indonesia, tetapi memastikan industri pupuk tetap kuat untuk menopang kebutuhan petani Indonesia saat ini hingga masa depan.
(rah/rah)
[Gambas:Video CNBC]

2 jam yang lalu
3








English (US) ·
Indonesian (ID) ·