Jakarta, CNN Indonesia --
Dalam sebuah malam selepas Isya, lantunan ayat keenam dari Surat Al Fatihah itu terdengar dari salah satu bilik hotel tempat tim Indonesia menginap selama Srikandi Merdeka Cup 2026 berlangsung.
Ihdinash-shirâthal-mustaqîm...
Bimbinglah kami ke jalan nan lurus...
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Alunan bunyi kebetulan terdengar dari koridor hotel. Sebentar kemudian, beberapa pemain, tetap mengenakan mukena mereka, keluar dari ruangan tersebut lampau menuju bilik masing-masing.
Momen itu berjalan semalam sebelum Srikandi Merdeka Cup 2026 bergulir pada Jumat (14/8). Tim Indonesia Garuda Pertiwi mengawali perjuangan dengan menghadapi Arab Saudi Putri U-16 di Supersoccer Arena, Kudus, Jawa Tengah.
Kemenangan 7-0 mengisyaratkan kualitas tim didikan Timo Scheunemann. Usai pertandingan, pembimbing keturunan Jerman itu menyampaikan rasa bangga terhadap penampilan timnya.
Timo juga mengomentari aktivitas di luar lapangan oleh para pemain, termasuk perihal mengaji berbareng sehari sebelum pertandingan. Saat ditanya relasi religiusitas dan metode pembentukan kekompakan antarpemain, Timo memberi ruang seluas mungkin bagi setiap pribadi untuk beribadah.
"Itu sesuatu nan menurut saya berbasis pada individu. Dalam arti, [mengaji] itu bagus pasti," kata Timo Scheunemann dalam konvensi pers selepas pertandingan.
Di sisi lain, ibadah sebelum turnamen mengingatkan pada momen Timnas Indonesia U-17 jelang Piala Dunia U-17 2023. Saat itu, Garuda Muda ditangani oleh Bima Sakti. Salah satu langkah Bima membangun chemistry di dalam skuadnya adalah salat bersama.
Sebelum turnamen, kala itu Bima, staf pelatih, dan pemain sempat salat berjamaah di pinggir Lapangan THOR pada sela-sela latihan.
Bima juga sempat menerapkan patokan wajib salat berjamaah bagi pemain muslim dan menerapkan denda bagi pelanggarnya. Jam tidur pun ditetapkan oleh pembimbing kelahiran Balikpapan, 23 Januari 1977 itu.
Metode ala Bima Sakti dihargai oleh Timo Scheunemann. Meski begitu, dia beranggapan bahwa setiap pembimbing punya langkah masing-masing untuk menerapkan patokan kepada pemain.
"Saya mungkin berbeda dengan Bima Sakti. Jadi nan mau kami fokuskan juga adalah sikap, langkah berpikir, dan gimana mereka bisa memberi 100 persen [di lapangan]. Mereka tidak boleh sigap puas dan kudu mau berbaur dengan siapa saja," tegas Timo.
(ikw/ikw/rhr)

1 jam yang lalu
2








English (US) ·
Indonesian (ID) ·