Mahfud Minta Kiai Madura Kampanye Bahaya Covid-19

  • Whatsapp
Masyarakat Bangkalan Madura menganggap ke rumah sakit akan berujung pada kematian.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan, Mahfud MD, mengajak para kiai di Kabupaten Bangkalan, Madura, untuk bersama-sama menyadarkan masyarakat akan bahaya Covid-19. Dia menekankan tes swab penting untuk dilakukan karena fakta di lapangan kebanyakan pasien yang dibawa ke rumah sakit sudah dalam kondisi parah.

“Kita melihat fakta, kebanyakan yang dibawa ke Rumah Sakit sudah parah, untuk mencegah itu, agar para ulama mensosialisasikan bahwa tes swab itu penting untuk mengetahui dan agar dapat mencegah,” ujar Mahfud dalam siaran persnya, Rabu (16/6).

Hal itu dia sampaikan dalam acara silaturahmi dengan alim ulama dalam rangka penanganan Covid-19 di Kabupaten Bangkalan. Dalam kegiatan ini Mahfud hadir bersama Deputi Bidang Sistem dan Strategi BNPB, Raditya Jati, Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawangsa, dan Bupati Bangkalan, R Abdul Latif Amin Imron.

Dalam sambutannya Bupati Bangkalan mengatakan, kondisi saat ini sebagian besar masyarakat tidak mau ke rumah sakit, namun setelah parah baru ke rumah sakit dan meninggal. Hal tersebut membuat munculnya suatu kesimpulan di tengah masyarakat, yakni jangan ke rumah sakit karena pasti mati.

Dari kejadian tersebut, Mahfud ingin menggunakan pendekatan lokal untuk menyadarkan masyarakat. Sebab, kata dia, kiai atau tokoh alim ulama merupakan sosok paling menjadi panutan dan paling didengar dan dipatuhi masyarakat. Dia menerangkan betapa bahayanya Covid-19.

“Jangan kita masih anggap Covid-19 itu main-main, lihat contoh kasus yang terjadi peningkatan dalam 24 jam di India. Indonesia juga saat ini sudah peringkat 18 dunia dan sampai saat ini sudah mencapai 1,9 juta kasus,” kata Mahfud.
 
Mahfud menjelaskan, pemerintah bukan tidak berbuat apa-apa untuk mengatasi hal itu. Menurut dia, dalam melakukab kebijakan, pemerintah sudah berdialog dan meminta pendapat ulama seperti NU, Muhammadiyah dan MUI. “Namun masyarakat kita ini, apalagi di Bangkalan, kalau tokoh agama mencontohkan, dan bicara, mereka pasti ikut,” ujar Mahfud.

Pada sambutannya, Bupati Bangkalan mengatakan, kondisi saat ini sebagian besar masyarakatnya tidak mau ke rumah sakit. Mereka baru ke rumah sakit ketika kondisinya sudah parah dan kemudian meninggal dunia.

“Di sini kita perlu meminta kiai-kiai untuk sadarkan masyarakat karena sebagian besar tidak mau swab. Bahkan ada tiga pesantren mau diswab, satu pesantren gagal karena semua santrinya kabur,” ujar Abdul.

Dalam sesi diskusi dengan menghadirkan pakar kesehatan dari Universitas Airlangga, Abdurrahman, yang juga putera asli kelahiran Bangkalan, Madura, serta Kyai Imam Bukhori Kholil, antara lain dibahas, banyak kyai sepuh, bahkan kyai muda wafat karena Covid-19. Itu menjadikan pegangan pilar-pilar kehidupan bangsa bisa jadi goyah.

Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawangsa, pada kesempatan itu berterima kasih kepada Mahfud yang telah mempertemukan para pemangku kepentingan terkait penananganan Covid-19. “Karena lonjakan Covid di Bangkalan, terkoneksi langsung dengan Surabaya, antara lain karena Suramadu,” kata Khofifah.

Kasus aktif Covid-19 di Jatim saat ini sebanyak 2.731. Meningkat 80 persen sejak awal lebaran. Kasus aktif di Bangkalan sendiri melonjak menjadi terbanyak di Jatim saat ini sebanyak 451.

Salah satu kiai yang hadir, KH Ahmad Romli Fakhri dari Kecamatan Kokop, Bangkalan, menyatakan senang atas pertemuan dengan Mahfud. Dia menekankan perlunya kiai untuk menyadarkan masyarakat. Menurut dia, selama ini masyarakat lebih percaya, Covid-19 itu hoaks dan banyak informasi tidak benar lainnya tentang Covid di masyarakat.

“Alim ulama harus menjadi terdepan dalam mensosialisasikan fakta sesungguhnya tentang Covid-19 dan upaya pencegahannya,” jelas dia.

Pos terkait