Media Asing Soroti Rencana Proyek Nuklir RI di Pulau Tak Berpenghuni

2 jam yang lalu 3

Jakarta, CNBC Indonesia - Indonesia kembali menghidupkan rencana pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN), dengan salah satu letak nan dibidik merupakan pulau tak berpenghuni di Kalimantan Barat. Rencana ini mendapat sorotan media Jepang di tengah upaya Indonesia mengurangi ketergantungan terhadap batu bara dan mengejar sasaran dekarbonisasi.

Dalam laporan Kyodo News dengan tajuk "Indonesia eyes uninhabited island for 1st nuclear power plant", Pelaksana Kepala Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN) Zainal Arifin menyebut saat ini merupakan momentum nan tepat bagi Indonesia untuk mengambil keputusan mengenai pembangunan PLTN.

"Ini adalah momen nan tepat bagi Indonesia untuk mengambil keputusan mengenai pembangkit listrik tenaga nuklir," kata Zainal dalam laporan tersebut, dikutip Minggu (23/8/2026).

Pemerintah mulai menghidupkan kembali pembahasan proyek nuklir sejak tahun lampau setelah sebelumnya rencana tersebut tertunda selama puluhan tahun. Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot mengatakan strategi daya baru Indonesia bakal secara definitif memasukkan daya nuklir untuk "menyeimbangkan bauran daya dan mencapai sasaran dekarbonisasi".

Salah satu letak nan menjadi kandidat utama adalah Pulau Semesak di Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat. Pulau tersebut berjarak sekitar 900 meter dari Desa Sungai Raya dan tidak mempunyai penduduk, meski perairan di sekitarnya kerap menjadi letak nelayan mencari udang.

Kementerian ESDM menargetkan PLTN pertama Indonesia dapat beraksi paling sigap pada 2032. Pemerintah juga membidik kontribusi daya nuklir hingga 12,1% terhadap bauran daya primer pada 2060, dengan kapabilitas terpasang mencapai 35-42 gigawatt.

Rencana tersebut mendapat support dari Bupati Bengkayang Sebastianus Darwis nan berambisi PLTN dapat menjadi katalisator masuknya industri ke wilayah tersebut.

"Nuklir adalah daya bersih. Ini bukti negara maju dan membawa kebanggaan," kata Darwis kepada Kyodo News, seraya berambisi Bengkayang dapat menjadi wilayah pertama di Asia Tenggara nan mengoperasikan PLTN.

Namun, rencana itu juga memunculkan kekhawatiran penduduk dan golongan pemerhati energi. Nelayan Haripan mengatakan dirinya takut terhadap akibat PLTN dan kemungkinan terjadinya kecelakaan seperti Chernobyl maupun Fukushima.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa menilai proyek tersebut tetap menghadapi persoalan ekonomi dan keselamatan.

"Saya sangat kritis terhadap ini. Bukan lantaran ideologi, tetapi lantaran saya melihatnya tidak layak secara ekonomi dan ada persoalan keselamatan," ujarnya.

Pemerintah berencana mengambil alih sekitar 300 hektare lahan di pulau tersebut dan area penyangga di daratan seberangnya. Indonesia juga mulai mendapat support internasional, termasuk dari Jepang dan Rusia, sementara pemerintah menyatakan bakal memprioritaskan teknologi small modular reactor (SMR) dalam pengembangan PLTN pertamanya.

(tfa/haa) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya