Membangun Kota, Merawat Tradisi

56 menit yang lalu 4
Membangun Kota, Merawat Tradisi Wesly Silalahi, Wali Kota Pematangsiantar(Dok.Pribadi)

MEMBANGUN sebuah kota tidak hanya berbincang tentang pembangunan infrastruktur, pertumbuhan ekonomi, maupun peningkatan pelayanan publik. Lebih dari itu, pembangunan sejatinya adalah tentang menyiapkan sumber daya manusia. Sebab, kualitas sebuah wilayah pada masa depan sangat ditentukan oleh gimana kita membangun generasi hari ini.

Dalam konteks itulah, perhatian terhadap anak menjadi fondasi nan tidak dapat diabaikan. Anak adalah investasi terbesar sebuah bangsa. Mereka bukan hanya penerus pembangunan, tetapi juga keahlian (performance) Indonesia di masa mendatang. Karena itu, Pemerintah Kota Pematangsiantar menempatkan pembangunan sumber daya manusia sebagai salah satu prioritas utama melalui beragam program nan menyentuh pendidikan, kesehatan, karakter, hingga penguatan peran keluarga.

Dalam perjalanan membangun kualitas sumber daya manusia, kerjasama adalah kunci. Pemerintah tidak dapat melangkah sendiri. Dibutuhkan keterlibatan beragam pihak, termasuk bumi pendidikan, komunitas, masyarakat, bumi usaha, media massa, serta lembaga sosial nan mempunyai kepedulian terhadap pembangunan generasi.

Kolaborasi program nan dapat berakibat luas bagi pembangunan sumber daya manusia berfokus pada sektor pendidikan dan kesehatan. Kedua perihal ini memerlukan pendekatan sistemik, lintas sektor, dan berorientasi jangka panjang, sebagai bagian dari langkah nyata mewujudkan visi misi Kota Pematangsiantar, ialah Cerdas, Sehat, Kreatif, dan Selaras.

Menerapkan Pendekatan Lintas Sektor (Cross-Sector Partnership)

Pembangunan manusia tidak bisa diselesaikan oleh satu lembaga saja. Kolaborasi kudu melibatkan pemerintah, swasta/filantropi, akademisi, media, dan organisasi masyarakat (Pentahelix). Pemerintah sebagai regulator dan penyedia menyediakan regulasi, kebijakan penunjang, serta pendanaan dasar. Kita dapat menggandeng sektor swasta/filantropi dan organisasi sebagai inisiator nan mempunyai akses terhadap sumber daya, efisiensi operasional, teknologi, serta program sosial berorientasi pada dampak.

Melalui kerjasama tersebut, konsentrasi pada konvergensi pendidikan dan kesehatan secara berbarengan terbukti bisa menghasilkan akibat dobel nan signifikan. Berangkat dari salah satu persoalan mendasar, ialah rendahnya indeks literasi dan numerasi masyarakat Kota Pematangsiantar, pemerintah berbareng swasta mengembangkan program kolaboratif untuk meningkatkan keahlian literasi dan numerasi sebagai fondasi utama dalam membangun kualitas pendidikan.

Literasi bukan hanya keahlian membaca dan menulis. Literasi adalah keahlian seseorang memahami informasi, berpikir kritis, mengambil keputusan, dan beradaptasi dengan perubahan zaman. Begitu pula numerasi, nan menjadi keahlian dasar dalam memecahkan persoalan kehidupan sehari-hari.

Berbagai program kerjasama Pemerintah Kota Pematangsiantar berbareng lembaga filantropi, Tanoto Foundation, berbareng mengangkat perubahan dalam peningkatan kualitas pendidikan dan pengasuhan serta stimulasi anak usia awal melalui penguatan kapabilitas tenaga pendidik. 

Guru-guru terbaik dikirim untuk mendapatkan training dan pengembangan kompetensi agar bisa menjadi penggerak perubahan di sekolah masing-masing. Kami menciptakan pemasok perubahan nan berasal dari pembimbing dan kepala sekolah nan telah bisa menjadi penyedia wilayah dalam peningkatan kualitas pembimbing lainnya, sehingga pendekatan belajar dari kawan sebaya dan seprofesi bakal jauh lebih mudah dan berakibat luas bagi kemajuan pendidikan dasar di Kota Pematangsiantar.

Dari proses kerjasama lahir beragam komitmen nan lebih kuat melalui publikasi Peraturan Wali Kota tentang Gerakan Literasi. Regulasi ini menjadi payung norma agar aktivitas literasi tidak hanya menjadi program sesaat, tetapi menjadi aktivitas berbareng nan melibatkan pemerintah, sekolah, komunitas, dan masyarakat.

Kehadiran izin tersebut memberikan ruang nan lebih luas bagi tumbuhnya beragam aktivitas literasi dan numerasi di Kota Pematangsiantar. Pemerintah tidak lagi hanya menjadi pelaksana, tetapi mulai mengambil peran sebagai fasilitator.

Hasilnya dapat kita lihat bersama. Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat Kota Pematangsiantar pada tahun 2025 lampau menjadi nan tertinggi di Sumatra Utara. Peningkatan signifikan ini sebelumnya berada pada kategori rendah, nomor tersebut meningkat hingga mencapai kategori sangat tinggi. Capaian ini bukan sekadar nomor statistik. Ini adalah bukti bahwa ketika pemerintah, masyarakat, dan mitra pembangunan bergerak bersama, perubahan dapat terjadi.

Yang lebih membanggakan, aktivitas literasi kemudian mulai tumbuh menjadi aktivitas masyarakat. Berbagai komunitas, perguruan tinggi, dan lembaga pendidikan mulai mengambil peran. Pemerintah Kota tidak lagi menjadi satu-satunya pihak nan menjadi inisiator kegiatan, tetapi datang sebagai pendukung dan fasilitator.

Bagi saya, inilah ukuran keberhasilan sebuah program pemerintah. Ketika masyarakat sudah mempunyai kesadaran dan keahlian untuk bergerak sendiri, maka program tersebut telah mempunyai akar nan kuat.

Dalam menjaga keberlanjutan, dibutuhkan program nan dapat menyentuh persoalan paling mendasar ialah menjaga fondasi paling krusial dalam pembangunan manusia, peran langsung dalam menjaga 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) lantaran periode ini memerlukan intervensi gizi, kesehatan, dan pengasuhan nan intensif. Jika 1.000 HPK kandas dijaga, dampaknya pada kesehatan dan keahlian belajar anak bakal berkarakter permanen.

Perhatian pada rumor pengasuhan anak usia sejak awal dapat mendeteksi potensi terjadinya stunting pada pertumbuhan anak. Sebagaimana hasil survei Status Gizi Indonesia Tahun 2024, dinyatakan prevalensi stunting di Kota Pematangsiantar berada pada nomor 12,2 persen. Kota Pematangsiantar berada di posisi terendah ketiga alias terbaik ketiga dari 33 kabupaten dan kota nan ada di Provinsi Sumatra Utara. 

Dengan hasil tersebut, semua pihak tidak boleh lengah. Kita kudu mengupayakan gimana penurunan nomor stunting di Kota Pematangsiantar tetap menjadi perhatian kita bersama.

Lingkungan Keluarga adalah Fondasi Pengasuhan (Health Literacy)

Lingkungan family merupakan garda terdepan dan fondasi utama dalam pengasuhan serta pembentukan karakter anak. Sebelum anak mengenal bumi luar seperti sekolah alias masyarakat, family khususnya orang tua adalah lingkungan sosial pertama tempat anak belajar, tumbuh, dan berkembang. 

Jika sebelumnya perhatian kita banyak tertuju pada peningkatan keahlian belajar anak di sekolah, sekarang kita menyadari bahwa pendidikan anak tidak dapat dilepaskan dari lingkungan keluarga. Anak pertama kali belajar dari rumah; orang tua, khususnya ibu, mempunyai peran nan sangat krusial dalam membentuk karakter dan masa depan anak.

Melalui pendekatan pengasuhan dan stimulasi anak, dibutuhkan juga peningkatan pemahaman orang tua tentang pola asuh nan baik. Di tengah perkembangan teknologi nan sangat cepat, tantangan pengasuhan semakin besar. Banyak orang tua saat ini menggunakan perangkat digital sebagai solusi praktis dalam menenangkan anak. Teknologi memang memberikan manfaat, tetapi kudu ditempatkan sebagai perangkat bantu, bukan menggantikan peran orang tua.

Hubungan emosional antara anak dan orang tua tidak dapat digantikan oleh teknologi. Sentuhan, komunikasi, perhatian, dan nilai-nilai moral dasar nan diberikan orang tua merupakan fondasi utama pembentukan karakter anak.

Salah satu corak nyata penerapan program pengasuhan adalah dengan menghidupkan kembali nilai-nilai kearifan lokal nan menjadi identitas Kota Pematangsiantar sebagai bagian dari budaya Simalungun. 

Pemerintah berbareng Tanoto Foundation dalam peringatan Hari Anak Nasional Kota Pematangsiantar ke-42 tahun 2026 dengan tema "Merawat Tradisi Simalungun, Mengasuh Sepenuh Hati" menyelenggarakan Festival Doding Urdouw-urdouw, ialah nyanyian pengantar tidur anak dalam budaya Simalungun.

Tradisi ini bukan hanya tentang lagu, tetapi mempunyai pesan moral dan kasih sayang antara orang tua dan anak. Dahulu, melalui nyanyian sederhana tersebut, orang tua menyampaikan doa, harapan, dan nilai kehidupan kepada anak-anaknya. Ada pesan tentang menjadi manusia nan baik, berfaedah bagi keluarga, masyarakat, dan negara.

Nilai inilah nan mau kita hidupkan kembali dalam pendekatan modern. Kita tidak menolak perkembangan zaman, tetapi kita mau memastikan kemajuan teknologi melangkah berbareng nilai budaya dan karakter. Karena itu, program pengasuhan anak juga kita integrasikan dengan aspek kesehatan. Anak-anak dan orang tua perlu mendapatkan edukasi mengenai kesehatan, pemenuhan gizi, pencegahan stunting, serta pentingnya menjaga kesehatan ibu dan anak.

Keberhasilan program ini tidak dapat hanya diukur dari terselenggaranya sebuah kegiatan. Kegiatan hari ini hanya bakal menghasilkan output. nan lebih krusial adalah outcome dan dampaknya bagi masyarakat. Apakah prevalensi stunting menurun? Apakah Indeks Pengasuhan Anak semakin baik? Apakah Indeks Pembangunan Manusia semakin meningkat? Apakah generasi muda tumbuh dengan karakter nan kuat? Itulah parameter kunci keberhasilan nan sesungguhnya.

Saya percaya, kerjasama dengan beragam pihak bukan hanya tentang menjalankan sebuah program, tetapi tentang membangun ekosistem perubahan. Pemerintah, masyarakat adat, komunitas, tenaga kesehatan, bumi pendidikan, media, dan family kudu melangkah selaras ke arah nan sama.

Ke depan, kita berambisi gerakan-gerakan ini dapat terus berkembang menjadi bagian dari kebijakan wilayah nan berkelanjutan. Apa nan hari ini telah kita mulai bakal menjadi momentum pola pengasuhan anak berbasis kearifan lokal nan bakal menjadi karakter unik Kota Pematangsiantar dalam rangka mendukung Indonesia Emas 2045. Kita berambisi masyarakat bukan hanya menjadi objek program pembangunan, tetapi menjadi inisiator dan penggerak utama. Ke depannya Pemerintah bakal datang untuk menjadi fasilitator, memberikan ruang, dan memastikan setiap potensi dan produktivitas masyarakat dapat lebih berkembang.

Pada akhirnya, membangun kota adalah membangun manusia. Dan membangun manusia kudu dimulai sejak dini. Karena di dalam diri anak-anak hari ini, bakal lahir pemimpin, inovator, dan generasi nan menentukan masa depan Pematangsiantar dan Indonesia.

Kolaborasi adalah jalan kita. Pendidikan adalah fondasi kita. Dan anak adalah argumen terbesar kita untuk terus bergerak maju dan unggul di masa depan. (*)

Selengkapnya