Menantu Trump Jared Kushner Lobi Israel untuk Rencana Perdamaian Gaza

12 jam yang lalu 4
Menantu Trump Jared Kushner Lobi Israel untuk Rencana Perdamaian Gaza Utusan Donald Trump, Jared Kushner, bakal mengunjungi Israel dan Mesir untuk menjembatani perbedaan mengenai rencana perdamaian dan gencatan senjata Gaza.(AFP)

UTUSAN Presiden Amerika Serikat Donald Trump, Jared Kushner, bakal mengunjungi Israel dan Mesir pekan depan untuk menjembatani perbedaan mengenai rencana perdamaian Gaza. Langkah itu ditempuh setelah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menolak sejumlah bagian krusial dari peta jalan nan telah disepakati Hamas.

Kushner, nan juga menantu Trump, bakal melakukan perjalanan berbareng Nickolay Mladenov, pejabat tinggi dalam Board of Peace nan dibentuk Trump. Keduanya dijadwalkan berjumpa dengan pihak Israel dan mediator utama, Mesir.

Kunjungan tersebut diarahkan untuk mencari titik jumpa mengenai penyelenggaraan rencana perdamaian Trump. Seorang pejabat Board of Peace mengatakan Kushner dan Mladenov berambisi dapat melakukan pembicaraan konstruktif untuk mempercepat proses tersebut.

“Amerika Serikat dan Israel sepakat mengenai tujuan akhirnya, ialah Hamas nan didemiliterisasi,” kata pejabat tersebut nan meminta identitasnya dirahasiakan.

“Kami bakal mendengarkan kekhawatiran nan telah disampaikan dan membahas langkah selanjutnya. nan krusial adalah kami sama-sama menyepakati hasil nan mau dicapai dan mencari langkah untuk mempercepat kemajuan,” lanjutnya.

Perbedaan utama muncul setelah Mladenov mengumumkan rencana 15 poin nan antara lain memuat kesediaan Hamas menyerahkan senjata kepada komite pemerintahan Palestina baru di Gaza.

Hamas menyetujui bagian terbaru dari rencana tersebut pada akhir Juli. Dalam jenis awal nan dirilis Board of Peace, tahap berikutnya bakal mencakup penarikan pasukan Israel secara berjenjang dari sebagian besar wilayah Gaza.

Namun, Mladenov kemudian mengubah penjelasan tersebut. Israel disebut tidak perlu menarik pasukannya sebelum Hamas sepenuhnya melucuti senjata.

Netanyahu menegaskan tidak bakal menarik pasukan Israel dari Gaza. Ia juga meragukan kesediaan Hamas untuk menyerahkan persenjataan dan menuntut agar proses pelucutan senjata dilakukan secara menyeluruh serta dapat diverifikasi. Adapun Hamas menyatakan tetap mematuhi kesepakatan nan telah dibuat.

“Kami terus menunggu tekanan dari para mediator dan pihak Amerika Serikat terhadap Netanyahu dan pemerintahnya agar memaksa mereka mematuhi peta jalan tersebut,” kata personil biro politik Hamas, Bassem Naim, kepada AFP.

Naim juga meminta Amerika Serikat mencegah terganggunya proses kesepakatan gencatan senjata lantaran kepentingan politik dan pemilu. Israel dijadwalkan menggelar pemilu pada 27 Oktober, dengan sejumlah jajak pendapat menunjukkan persaingan ketat nan kembali menempatkan Netanyahu dalam posisi tertekan.

Upaya diplomatik tersebut berjalan ketika situasi di Gaza kembali memburuk. Israel melancarkan serangan udara mematikan pada Rabu dan Kamis lampau setelah lebih dari sepekan situasi relatif mereda. (AFP/Z-2)

Selengkapnya