Mengapa Astronot Sulit BAB di Luar Angkasa? Ilmuwan Temukan Jawabannya!

41 menit yang lalu 1
Mengapa Astronot Sulit BAB di Luar Angkasa? Ilmuwan Temukan Jawabannya! Para astronot mengalami perubahan pencernaan dalam kondisi mikrogravitasi, nan dapat memperlambat pergerakan makanan melalui usus dan membantu menjelaskan kenapa sembelit sering terjadi di luar angkasa.(Frans Wej/Jean Beaufort/Elionas2)

PARA astronot nan bekerja di luar angkasa sejak lama menghadapi masalah sembelit alias kesulitan buang air besar (BAB). Kini, para intelektual mulai memahami penyebab biologis di kembali gangguan pencernaan tersebut.

Sebuah penelitian terbaru nan menganalisis sampel darah dari 52 astronot di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) menunjukkan kondisi mikrogravitas alias nirgravitas memperlambat pergerakan makanan di dalam usus. Kondisi ini mengubah langkah kuman usus memecah nutrisi. Temuan nan dipublikasikan di jurnal Nature Communications ini diharapkan dapat membantu merancang strategi diet bagi misi jangka panjang ke Bulan dan Mars, sekaligus memberikan petunjuk baru bagi penanganan masalah pencernaan di Bumi.

Untuk memahami proses tersebut, tim peneliti dari Universitas Kopenhagen dan NASA meneliti 488 sampel plasma darah astronot nan menjalankan misi antara dua hingga sembilan bulan sepanjang periode 2006 hingga 2018. Menggunakan teknik metabolomik, mereka mengukur molekul-molekul mini dalam darah untuk memandang respons kimiawi tubuh dan mikrobioma usus terhadap kondisi luar angkasa.

Peneliti menemukan perubahan pada sekitar 40 senyawa dalam darah, termasuk peningkatan metabolit nan dihasilkan saat kuman usus mem fermentasi protein. Perubahan ini muncul tak lama setelah astronot tiba di luar angkasa dan baru mereda beberapa hari setelah kembali ke Bumi.

"Kami memandang perubahan pada sampel darah astronot nan menunjukkan kuman usus mulai memfermentasi protein dalam jumlah nan lebih besar dari biasanya dalam beberapa minggu setelah astronot tiba di luar angkasa, dan perubahan ini bersambung hingga mereka kembali ke Bumi," kata Giorgia La Barbera, salah satu penulis utama studi dan guru besar madya di Departemen Nutrisi, Olahraga, dan Olahraga Universitas Kopenhagen.

Dalam kondisi normal, kuman usus memfermentasi serat dan karbohidrat sebagai sumber energi. Namun, ketika pencernaan melambat, pasokan karbohidrat menipis sehingga mikroba beranjak memecah protein dan menghasilkan metabolit berbeda nan masuk ke aliran darah. Analisis menunjukkan aspek diet seperti asupan kafein, ikan, dan lemak hanya menyumbang kurang dari sepertiga perubahan metabolisme tersebut.

"Kurangnya gravitasi di luar angkasa kemungkinan menyebabkan makanan bergerak lebih lambat melalui usus, dan ini sesuai dengan kebenaran bahwa kita memandang tanda-tanda peningkatan fermentasi protein," ujar Henrik Roager, rekan penulis studi dan guru besar madya di Departemen Nutrisi, Olahraga, dan Olahraga Universitas Kopenhagen. "Ini juga dapat membantu menjelaskan sembelit pada astronot."

Selain memicu ketidaknyamanan, proses fermentasi protein berlebih dapat menghasilkan senyawa seperti amonia dan hidrogen sulfida nan berpotensi memengaruhi kesehatan tubuh. Sebagai solusinya, para peneliti menyarankan peningkatan asupan karbohidrat nan terfermentasi secara perlahan, seperti penambahan serat pada makanan astronot, guna menjaga keseimbangan kerja kuman usus selama misi antariksa. (Space/Z-2)

Selengkapnya