Menjawab Tantangan Industri, ISS Indonesia: Perbankan Perlu Transformasi Workplace yang Adaptif

2 jam yang lalu 3
 Perbankan Perlu Transformasi Workplace nan Adaptif forum Banking Connect 2026 berjudul “Building Future-Ready Banking Operations: Lean, Smart and Sustainable”.(dok.istimewa)

DI tengah perkembangan izin dan percepatan digitalisasi, industri perbankan dituntut untuk menjalankan operasional nan lebih efisien sekaligus menjaga kualitas jasa dan kepatuhan. Kondisi ini mendorong organisasi untuk membangun operasional nan adaptif guna mempertahankan daya saing dan siap menghadapi masa depan. Oleh lantaran itu, workplace solution merupakan aspek krusial dalam operasional nan dapat meningkatkan produktivitas, efisiensi, dan kepatuhan, sekaligus menciptakan pengalaman nan lebih baik bagi tenaga kerja maupun nasabah.

Menjawab kebutuhan tersebut, ISS Indonesia menggelar Banking Connect 2026 berjudul “Building Future-Ready Banking Operations: Lean, Smart and Sustainable”. Forum ini mempertemukan regulator, asosiasi pengusaha, dan pelaku industri perbankan untuk berbagi perspektif mengenai perkembangan izin ketenagakerjaan, termasuk pengelolaan outsourcing, serta pemanfaatan teknologi dalam membangun operasional nan lebih efisien, adaptif, dan berkelanjutan.

Banking Connect 2026 menghadirkan narasumber dari beragam perspektif, termasuk Kementerian Ketenagakerjaan RI nan diwakili oleh Andi Awaluddin, Ketua Tim Pengembangan Pengupahan, nan juga merupakan Ketua Tim Perancangan UU Ketenagakerjaan, membahas perkembangan izin ketenagakerjaan. 

Dari kalangan bumi usaha, Myra M. Hanartani, Ketua Komite Regulasi dan Hubungan Kelembagaan Bidang Ketenagakerjaan APINDO, berbagi perspektif mengenai antisipasi bumi upaya menghadapi dinamika regulasi. Sementara itu, Norwin Zebua, Vice President Outsourcing Management PT Bank Central Asia Tbk, membagikan pengalaman dalam mengelola outsourcing dan kepatuhan operasional di sektor perbankan. Forum ini dihadiri oleh lebih dari 40 praktisi perbankan dari beragam lembaga terkemuka di Indonesia.
 
Dari perspektif bumi usaha, Myra M. Hanartani menyoroti beragam tantangan nan saat ini dihadapi pelaku upaya dalam menjaga keberlangsungan dan daya saing upaya di tengah perubahan nan berjalan cepat. "Dunia upaya saat ini menghadapi tantangan berupa kenaikan biaya operasional, dinamika regulasi, dan kesiapan sumber daya manusia nan sesuai dengan kebutuhan industri. Untuk menghadapi kondisi tersebut, perusahaan perlu menerapkan lima langkah utama, ialah comply, prepare, streamline, productive, dan adapt agar tetap kompetitif dan berkepanjangan di tengah perubahan upaya dan teknologi nan terus berkembang," ujar Myra M Hanartani dalam keterangan resmi Jumat (21/8).

Sementara itu, Andi Awaludin menegaskan bahwa pengembangan izin ketenagakerjaan perlu menjaga keseimbangan antara perlindungan pekerja dan keberlangsungan bumi usaha. "Pembangunan ketenagakerjaan berdasarkan pada prinsip keseimbangan, ialah melindungi kewenangan pekerja atas penghidupan nan layak sekaligus mendukung suasana investasi dan keberlangsungan bumi usaha. Ke depan, izin ketenagakerjaan tidak hanya adaptif terhadap dinamika pasar kerja, tetapi juga visioner dalam mengantisipasi beragam perubahan, termasuk perkembangan kepintaran buatan (AI) dan gig economy," ujar Andi Awaludin.

Sebagai penyedia Integrated Facility Management (IFM), ISS Indonesia memandang bahwa perkembangan regulasi, teknologi dan tuntutan efisiensi dapat didukung dengan transformasi workplace solution nan lebih terukur dan berorientasi pada hasil (output-based). Terutama di perbankan nan menerapkan kerja hybrid, diperlukan pendekatan nan bisa mengintegrasikan sumber daya manusia, proses, dan teknologi untuk mendukung operasional nan lebih adaptif dan efisien. 

Workplace solution nan tepat juga dapat membantu meminimalisir akibat operasional dan meningkatkan kepatuhan perbankan nan merupakan industri dengan tingkat izin tinggi (highly regulated industry). Selain itu, workplace solution nan berbobot juga bisa menghadirkan service moments nan berkesan bagi tenaga kerja dan pengguna perbankan. Pengalaman nan positif dan konsistensi jasa juga berkontribusi pada peningkatan engagement serta daya saing perusahaan dalam menarik dan mempertahankan talenta terbaik.

"Perbankan memerlukan transformasi workplace solution nan bisa mengintegrasikan manusia, proses, dan teknologi. Melalui jasa Integrated Facility Management (IFM) nan berorientasi kepada hasil, ISS Indonesia membantu perbankan melakukan transformasi workplace untuk meningkatkan efisiensi operasional, mendukung kepatuhan terhadap regulasi, serta memperkuat engagement dengan tenaga kerja dan nasabah," ujar Muhammad Sofyan.

Forum ini juga menyoroti gimana pemanfaatan teknologi dapat mendukung transformasi workplace perbankan. Digital operations dan smart building memungkinkan perbankan meningkatkan efisiensi penggunaan sumber daya, mengoptimalkan pengelolaan daya dan fasilitas, serta mendukung pengambilan keputusan nan lebih baik dan lebih sigap berbasis info secara real-time. Melalui Banking Connect 2026, ISS Indonesia berambisi dapat memperkuat kerjasama antar pemangku kepentingan sekaligus mendorong percepatan transformasi workplace untuk sektor perbankan. (Cah/P-3)

Selengkapnya