Menkes Bilang BPJS Kesehatan Akan Dapat Suntikan Dana Lagi Tahun Depan

1 hari yang lalu 3
ARTICLE AD BOX

Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Kesehatan mendorong transformasi di dalam BPJS Kesehatan. Hal ini ditegaskan Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin dalam Economic Update 2026, CNBC Indonesia.

Budi Gunadi menilai BPJS Kesehatan idealnya mengcover 60-80% shopping kesehatan agar inflasi kesehatan tidak naik tinggi sementara saat ini baru mencapai 20%.

"Karena dia (BPJS Kesehatan) mempunyai negotiating power agar inflasi kesehatan tidak naik. Di seluruh bumi inflasi kesehatan naik lebih tinggi dari GDP growth (pertumbuhan PDB)," kata Menkes Budi Gunadi.

Inflasi ini, katanya, susah ditekan tanpa asuransi kesehatan nan memadai. Oleh lantaran itu, dia memandang finansial BPJS Kesehatan kudu diperkuat. Pemerintah sudah menyuntikan biaya Rp 20 triliun dan tahun depan, pemerintah bakal kembali menyuntikan biaya ke BPJS Kesehatan.

"Tahun ini, pemerintah sudah setuju menginjeksi Rp 20 triliun. Tahun depan, nanti bakal kita tambahkan lagi tapi ini kudu kita hitung sustainability-nya," paparnya.

Kemenkes pun mendorong penguatan tata kelola BPJS Kesehatan dengan konsep gotong royong mengenai premi.

Budi Gunadi pun meminta kepada orang kaya untuk bisa bayar iuran alias premi lebih mahal dibandingkan dengan masyarakat biasa, agar prinsip gotong royong dalam BPJS Kesehatan bisa terpenuhi.

"Memang nan lebih kaya kudu bayar premi lebih mahal dibandingkan nan miskin, agar bisa terjadi pengaruh gotong royongnya, ya sama lah dengan pajak, nan kaya bayar pajaknya lebih," kata Budi.

Menkes menegaskan sistem perlindungan alias klaim pada BPJS Kesehatan tidak bakal membeda-bedakan golongan untuk mendapatkan akomodasi kesehatan, di mana semua masyarakat berkuasa untuk mendapatkan akomodasi kesehatan nan layak.

"Itu sebabnya kelak kita bakal tata lagi BPJS Kesehatan, lantaran tetap banyak orang nan salah berpikir bahwa BPJS itu ada kelas 1, kelas 2, kelas 3. Sebenarnga enggak ada gitu, BPJS Kesehatam itu bener-bener cover 280 juta rakyat Indonesia secara adil. Jadi siapapun, dia kaya alias miskin, jika dia jatuh kondisi nan gak sehat, dia gak bakal jatuh miskin untuk shopping kesehatan lantaran ada nan cover," tegasnya.

Budi Gunadi kembali menegaskan masyarakat nan kurang bisa alias nan berada di golongan desil bawah kudu mendapatkan pelayanam kesehatan nan baik, sedangkan nan lebih kaya bisa membantu dengan bayar premi lebih.

(haa/haa)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya