Militer Israel Tiba-Tiba Tutup Akses Desa Kristen Palestina, Ada Apa?

1 jam yang lalu 4

Jakarta, CNBC Indonesia - Militer Israel (IDF) menutup akses ke desa Taybeh di Tepi Barat bagi seluruh non-penduduk setempat. Langkah tersebut disebut sebagai upaya untuk mencegah meningkatnya serangan terhadap penduduk Palestina nan dilakukan oleh pemukim Israel di beragam wilayah Tepi Barat.

Dalam pernyataannya, militer Israel mengatakan bahwa perintah penutupan itu hanya bertindak bagi penduduk Israel dan tidak ditujukan kepada penduduk Palestina. Seorang ahli bicara militer menyebut keputusan menjadikan Taybeh sebagai area militer tertutup diambil lantaran meningkatnya kejadian kekerasan nan melibatkan penduduk Israel di area tersebut.

"Karena adanya beberapa serangan kekerasan nan dilakukan oleh penduduk Israel di wilayah tersebut," kata ahli bicara militer Israel menjelaskan argumen penetapan status area militer tertutup bagi Taybeh, dilansir Reuters.

IDF juga menyatakan bakal mengambil tindakan terhadap setiap pelanggaran nan terjadi selama pemberlakuan kebijakan tersebut.

"Setelah menerima laporan mengenai setiap pelanggaran terhadap perintah ini, tentara IDF bakal dikerahkan ke letak dan bertindak untuk membubarkan kerumunan serta menahan para tersangka guna melindungi penduduk di wilayah tersebut dan menjaga ketertiban," kata militer Israel dalam sebuah pernyataan.

Taybeh mempunyai posisi nan unik di wilayah Tepi Barat. Desa tersebut merupakan salah satu dari sedikit desa Kristen nan tetap tersisa di area itu. Tahun lalu, Taybeh dikunjungi oleh Patriark Yunani Ortodoks serta Kardinal Katolik Roma dari Yerusalem.

Selain dikenal sebagai desa Kristen, Taybeh juga menjadi letak berdirinya Taybeh Brewing Co, nan secara luas dianggap sebagai pabrik bir mikro tertua di area Timur Tengah.

Sebagian wilayah Taybeh berada di Area B, ialah area nan secara administratif sipil dikelola oleh Otoritas Palestina. Namun, urusan keamanan di wilayah tersebut tetap kudu dikoordinasikan dengan otoritas Israel sesuai pengaturan nan bertindak di Tepi Barat.

Penutupan akses terhadap Taybeh juga menyoroti kerentanan organisasi Kristen Palestina nan jumlahnya terus menyusut di wilayah tersebut.

Adapun serangan pemukim Israel terhadap penduduk Palestina dalam beberapa tahun terakhir telah memicu reaksi dari sejumlah negara Barat. Beberapa negara apalagi telah menjatuhkan hukuman terhadap kelompok-kelompok pemukim nan terlibat dalam tindakan kekerasan tersebut.

Pada Juni lalu, pemukim Israel dilaporkan menghalangi penduduk Palestina nan berupaya memadamkan kebakaran besar di dekat Taybeh. Informasi itu disampaikan oleh petugas pemadam kebakaran pertahanan sipil Palestina dan seorang pastor setempat.

Pastor tersebut menggambarkan situasi nan terjadi sebagai bagian dari pola intimidasi nan terus berjalan terhadap penduduk desa.

Ia menyebut terdapat "pola intimidasi dan kekerasan nan tidak dapat dibenarkan nan terus berlangsung" dan nan menurutnya merusak hak-hak dasar masyarakat setempat.

Tekanan terhadap Israel juga datang dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Sebuah penyelidikan PBB nan dirilis pada Selasa lampau menyimpulkan bahwa otoritas Israel terlibat secara langsung dalam serangan-serangan pemukim nan telah menyebabkan penduduk Palestina tewas, terluka, dan mengungsi dari wilayah Tepi Barat.

Laporan tersebut menyatakan bahwa serangan-serangan pemukim telah mengakibatkan korban jiwa, luka-luka, serta perpindahan masyarakat Palestina dari tempat tinggal mereka.

Namun, misi Israel di Jenewa menolak temuan penyelidikan tersebut. Pihak Israel menyatakan bahwa para pejabat tinggi negara, termasuk presiden dan perdana menteri, telah berulang kali mengecam tindakan kekerasan terhadap penduduk Palestina.

(luc/luc) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya