Model Pembiayaan Baru Jalan Tol, Kepastian Investasi Perlu Diperkuat

1 hari yang lalu 5

Jakarta CNBC Indonesia - Upaya mengurangi ketergantungan pembangunan jalan tol terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan memperbesar peran swasta memerlukan support ekosistem investasi nan sehat dan berkelanjutan. Kepastian izin menjadi salah satu aspek kunci agar investasi di sektor jalan tol tetap menarik, sekaligus memberikan kepastian dalam perencanaan dan pengambilan investasi jangka panjang bagi investor.

Hal tersebut menjadi salah satu pokok pembahasan dalam Focus Group Discussion (FGD) nan bertemakan "Penyelarasan Ekosistem Infrastruktur Jalan Tol untuk Pembangunan Indonesia nan Berkelanjutan" nan diselenggarakan Asosiasi Jalan Tol Indonesia (ATI).

FGD ini membahas beragam rumor strategis dalam pengusahaan jalan tol sekaligus membuka ruang perbincangan konstruktif, strategis dan solutif antara lintas pemangku kepentingan untuk menyelaraskan kebijakan regulasi, menjaga kepantasan suasana investasi, termasuk kebutuhan untuk mendorong model pembiayaan nan lebih berkepanjangan dengan memperbesar peran investasi swasta serta meningkatkan kualitas pelayanan jalan tol nan optimal bagi masyarakat.

Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo menyampaikan pentingnya kerjasama antar-pemangku kepentingan dalam membangun prasarana jalan tol nan berkelanjutan.

"Kita tidak bisa melangkah sendiri. Pemerintah, Badan Usaha Jalan Tol, bumi usaha, asosiasi, akademisi, dan seluruh pemangku kepentingan kudu bergerak dalam arah nan sama. FGD ini adalah ruang untuk menyatukan langkah, bukan sekadar menyamakan pandangan. Karena nan kita sambungkan bukan hanya jalan, tetapi menyambungkan produksi dengan pasar, investasi dengan pekerjaan, dan pertumbuhan dengan kesejahteraan, " ujar Dody dalam keterangan resmi, Kamis (13/8/2026).

Pembahasan dalam FGD mencakup beragam topik termasuk investasi jalan tol nan bankable dan sustainable, kepastian dalam pengusahaan, konsistensi terhadap Perjanjian Pengusahaan Jalan Tol (PPJT), sistem penyesuaian tarif, penerapan prinsip fair risk sharing, serta pengelolaan beragam perubahan dan dinamika upaya nan menjadi bagian dari upaya berbareng untuk menjaga kepercayaan penanammodal dan lembaga pembiayaan. Berbagai rumor seperti integrasi jalan tol, pemanfaatan ruang milik jalan tol, TIP, hingga penerapan MLFF juga dibahas secara kolaboratif dengan mempertimbangkan kondisi jaringan, kebutuhan pelayanan, struktur pembiayaan, dan keberlanjutan investasi.

Mantan Kepala BAPPENAS dan Menteri Keuangan, Bambang Permadi Soemantri Brodjonegoro nan sekarang menjabat sebagai Dean & CEO ADB Institute mengatakan bahwa pembangunan jalan tol mempunyai faedah ekonomi nan jauh lebih luas dari sekadar penyediaan prasarana transportasi.

"Di tengah kebutuhan pembangunan nan besar dan ruang fiskal nan perlu dikelola secara optimal, keterlibatan swasta menjadi semakin penting. Karena itu, kita perlu membangun model pembiayaan dan ekosistem pengusahaan nan bisa menarik investasi jangka panjang, sekaligus memastikan faedah pembangunan jalan tol dapat dirasakan oleh masyarakat dan perekonomian secara luas, " ucap Bambang.

Sementara itu, Mantan Menteri Keuangan Chatib Basri, Visiting Scholar di Harvard CID dan Visiting Professor in Practice di London School of Economics memberikan tanggapannya. Menurutnya di tengah kondisi APBN nan sangat ketat saat ini, partisipasi swasta dalam pembangunan dan pembiayaan prasarana bakal menjadi sangat penting.

"Sangat boleh jadi, APBN kita tidak mempunyai ruang, bukan saja untuk membiayai infrastruktur, tetapi juga untuk memberikan insentif fiskal bagi pelaku usaha. Oleh lantaran itu, untuk menarik minat dan partisipasi swasta, nan dapat dilakukan adalah melakukan deregulasi, kemudahan perizinan dan nan sangat krusial adalah memastikan bahwa pemerintah dan otoritas mengenai senantiasa memenuhi komitmen nan telah disepakati dan mengikat dalam perjanjian nan telah ditandatangani dengan pemegang konsesi. Terlebih lagi, untuk menarik penanammodal asing nan punya kebebasan memilih untuk menempatkan modalnya di mana saja, tentunya kita kudu dapat memberikan penawaran nan lebih menarik dibandingkan negara lain," jelas Chatib Basri.

Di sisi lain, Kepala Kajian Transportasi, Real Estate, dan Studi Perkotaan, Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) Muhammad Halley Yudhistira, juga turut memberikan pandangannya dalam FGD ini.

"Pengembangan jaringan jalan tol memberikan faedah ekonomi nan besar, dan faedah tersebut meningkat sebanding dengan skala jaringan nan terbangun. Namun laju realisasi pembangunan saat ini tetap jauh dibawah kebutuhan untuk mencapai sasaran tersebut. Karena kebutuhan modalnya melampaui kapabilitas pembiayaan publik, percepatan pembangunan berjuntai pada peran swasta. Karena itu, mendorong ekosistem jalan tol nan sehat menjadi krusial agar peran swasta dapat dioptimalkan secara berkesinambungan" ujar Yudhistira.

Saat ini, panjang jaringan tol beraksi melampaui 3.115 km dengan nilai akumulasi investasi nan menembus Rp668 triliun hingga diproyeksikan mendekati Rp1.000 triliun, oleh karenanya industri jalan tol memegang peran vital sebagai tulang punggung konektivitas dan pertumbuhan ekonomi nasional. Dengan demikian, pengembangan industri jalan tol perlu melangkah seiring dengan peningkatan kualitas pelayanan dan keselamatan bagi masyarakat.

Ketua Umum ATI Rivan A. Purwantono menyampaikan bahwa industri jalan tol sekarang telah beralih bentuk dari sekadar penyedia prasarana bentuk menjadi bagian dari ekosistem transportasi dan pembangunan nasional nan berkedudukan dalam mobilitas masyarakat, pengedaran logistik, pertumbuhan ekonomi, serta pengembangan wilayah. Oleh lantaran itu, peningkatan kualitas pelayanan dan keselamatan pengguna jalan kudu melangkah selaras dengan keberlanjutan suasana investasi melalui penyelarasan arah kebijakan bersama.

"Orientasi kami di ATI adalah mewujudkan industri jalan tol nan terus meningkatkan kualitas pelayanan publik, memberikan kontribusi nyata bagi pertumbuhan ekonomi, serta didukung oleh suasana investasi nan sehat dan tata kelola nan efektif. Pada akhirnya, dengan support Pemerintah dan kerjasama nan baik, kita mau membangun ekosistem jalan tol yang menciptakan nilai secara berkepanjangan bagi pengguna jalan, negara, maupun pelaku industri. Forum hari ini merupakan langkah awal nan perlu kita tindak lanjuti secara konkret, baik melalui pembentukan working group maupun penyelenggaraan Focus Group Discussion (FGD) secara berkala. Berbagai perspektif dan masukan berbobot hari ini menjadi modal krusial untuk menyelaraskan langkah serta memperkuat ekosistem jalan tol nasional nan berkelanjutan," ujar Rivan.

Pelaksanaan FGD ini mempertegas peran ATI sebagai mitra strategis Pemerintah dalam membangun suasana investasi jalan tol nan sehat dan transparan. ATI berkomitmen menciptakan ekosistem jalan tol nan bisa menciptakan nilai berkepanjangan bagi pengguna jalan, negara, maupun industri sebagai bagian dari pembangunan nasional.

(dpu/dpu) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya